Wisuda dan Kisah Selanjutnya…

Sebuah selebrasi menuju realita yang kejam

Tanggal 23 Februari di hari wisuda juga tidak ada hal yang menarik. Saya dipaksa bangun sebelum pukul 4 pagi oleh kawan saya untuk didandani, bersiap diri dan menjalani prosesi. Lebih menyebalkan lagi, hiburan saat acara tidak lain tidak bukan adalah penampilan karawitan dari ibu-ibu Dharma Wanita. Saya heran dan merasa greget, kenapa panita menyediakan hiburan mendayu-dayu begitu di acara yang super membosankan seperti wisuda ini? Saya jadi paham, kenapa para pendahulu berkata “sesungguhnya kalian bersusah-susah kuliah hanya agar tau rasanya tidur saat acara wisuda beralngsung”. Kredibel sekali lah ucapan para senior ini.

Acara belum dimulai, masih bisa senyum

Proses wisuda selesai juga tidak kunjung membuat mood saya membaik. Rasa-rasanya, saya tak memiliki kuasa lagi untuk berdiri dan ditarik kesana kemari oleh kawan yang ingin selfie. Orangtua saya pun juga sudah lelah, setengah karena prosesi yang membosankan, sisanya karena usia sepuh. Dalam mood yang rusak itu, mendadak rasa hormat saya meningkat tajam terhadap bapak rektor. Bisa-bisanya beliau berdiri tegak untuk memindahkan posisi tali toga, bersalaman (dan ditolak salamnya oleh para ukhti), dan mengucapkan selamat kepada 900 orang selama berjam-jam. Lengkap dengan senyum kebapakan. Saya jadi merinding, saya harus merengut berapa tahun dulu untuk menabung senyum agar bisa tersenyum 5 jam non stop sebagaimana bapak rektor? Posisi saja yang tinggi, kerjaannya mah bikin cranky.


Tapi di balik rusaknya mood selama seminggu yang diisi dengan prosesi geladi yudisium, yudisium, geladi wisuda, photoshoot bersama kawan seangkatan, beli jajan seribu-dua ribuan untuk stok nafsu hidup selama acara wisuda , wisuda lalu selebrasi (lagi) dengan orangtua dan kawan yang datang untuk memberi selama dalam bentuk photoshoot (lagi)… ada pertanyaan yang masih menghantui benak saya (dan wisudawan lain) yang belum jelas masa depannya ini. Mau kemana setelah ini?

Saya sendiri sih, sudah jelas… belum tau mau kemana. Hahahaha. It sucks actually. I can keep my wide grinning while doing nothing to pursue either my career or education and my peers out there are struggling to earn money and settled down. Itu membuat saya merasa, ‘ah saya benar-benar tak berguna, hidup santai dengan akomodasi orangtua sedangkan di luar sana, kawan-kawan yang tak seberuntung keluarga saya mulai bergerak memperbaiki nasib.

Keluarga saya memiliki sebuah yayasan pendidikan yang menaungi TPQ dan TK-PAUD dan sudah menjadi rencana mereka untuk menyerahkan kepemimpinan administratif yayasan kepada saya setelah saya lulus sarjana. Tapi, bekerja di bidang pendidikan anak-anak di bawah umur 10 tahun, isn’t my forte at all. Saya pribadi punya ketertarikan khusus dengan pendidikan dan perkembangan, tapi tidak dengan bagian anak-anak di bawah umur 10 tahun. Saya bukan tipe wanita pecinta anak kecil yang sabar menghadapi tingkah laku mereka dan saya tau jelas, ada banyak hal yang harus dan pantang dilakukan dalam mengayomi anak-anak, terutama pada masa golden age mereka. Saya galau.

Di sisi lain, saya merasa harus melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jurusan yang saya tempuh semasa S1 jelas ilmu murni dan entah ini karena kebegoan haqiqi saya atau memang nyata adanya, ilmu yang saya dapat tidak benar-benar aplikatif dan terlalu umum jangkauannya. Nggak, saya nggak minat dengan pernyataan ‘belajar untuk bekerja’. Tapi saya merasa, kalau saya benar-benar ingin berguna di masyarakat, saya harus menuntut ilmu di bidang disiplin lain. Yang lebih aplikatif dan tidak sekedar fokus pada analisa sosial tanpa back up pengetahuan terapan yang menunjang seperti hukum dan ekonomi.

Saya merasa, ini kurang. Saya belum menjadi apa-apa. Saya masih miskin ilmu. Kurang berguna. Dan saya harus menekuni ilmu baru untuk memperluas jangkauan pengetahuan saya. Saya tau, mungkin saya tidak bisa menjadi sehebat cendekiawan Islam jaman baheula yang multidisipliner dan penggebrak berbagai terobosan baru dalam ilmu pengetahuan. Tapi saya ingin mencoba, toh saya masih jomblo. Hahahaha. Saya belum terikat dengan pernikahan dan kewajiban mengurus suami dan anak, jadi saya harus memaksimalkan pencapaian diri sebelum tiba saatnya saya melambat sejenak untuk beradaptasi dengan fase baru dalam hidup, such as marriage.

TAPI…!

Kenapa biaya S2 mahal sekali ya Lord~~~guling-guling-guling~~~. Nyonya besar juga sudah berdawuh “Nggak ada S2 kalau nggak biaya sendiri, cari beasiswa!”. Alhamdulillah saya sudah memiliki penghasilan kecil-kecil dari menyimak setoran hafalan Qur’an anak-anak SD yang mengaji di rumah (iyah, duitnya duit nepotisme. Yayasan-nya kan punya ortu sendiri), tapi penghasilan itu belum cukup untuk membiayai S2 saya. Hingga akhirnya saya memilih untuk mencoba peruntungan saya dengan mengikuti seleksi beasiswa tahun ini. Tidak yakin tembus sebenarnya, karena seleksinya pasti ketat dan belum tentu saya memenuhi syarat…

Nggak papa, Dek! Kamu harus tanamkan di otak kamu, nggak ada S2 tanpa beasiswa! Nggak ada S2 kalau kamu nggak tembus beasiswa! Bismillah! Orang lain bisa, kenapa kamu nggak?”

(Bu Ana, Dosen Pembimbing pada suatu hari…)

Begitulah kata dosen pembimbing saya suatu hari. Kalimat penyemangat itu menguatkan hati saya, saya bisa dan pasti bisa. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak? Saya pikir, setiap orang bisa mencapai apapun yang dia ingingkan. Yang berbeda mungkin hanya waktu pencapaiannya, jalur tempuhnya dan usahanya. Kalau tetap tidak tercapai walau sudah mengusahakan segalanya? Ya diganti dengan yang lebih baik lah. Misal nih, si A nggak lolos seleksi beasiswa S2, akhirnya Allah kasih yang lebih baik dan lebih pas buat dia. Dia ketemu jodohnya, terus si jodoh bilang ‘Kamu kalau masih mau lanjut S2 silahkan, ntar aku yang urus biayanya’. Ngoahahahaha. Niqmat.

Salah satu alumni yang datang dan memberi orasi ilmiah saat saya yudisium mewanti-wanti,

Kalau ingin doanya terkabul, yang rajin sholatnya, puasanya, doanya. Jangan alpa sholat malam. Takut hantu jam 3 pagi? Sini saya tanya, lebih serem hantu apa masa depan suram?

Seorang alumni yang namu pas yudisium, entah bapak siapa namanya….

dan sekarang, saya yang masih menunggu jadwal dibukanya seleksi beasiswa mulai melaksanakan 21 Day of Habit Shaping challenge. Saya berusaha untuk mengisi waktu senggang dengan melaksanakan hal-hal yang produktif dan menjalankannya selama 21 hari untuk membentuk kebiasaan dan kemudian menjadikannya lifestyle. Saya berusaha untuk menjadi lebih rajin dalam menulis blog ini, menyelesaikan proyek menulis, membaca buku, menjalankan Qur’an o’clock tiap 2 kali sehari dan sholat dhuha.

Tahajjud? Masih berusaha dengan pasang alarm, walau tiap berbunyi, badan ini bergerak otomatis untuk mematikan alarm dan kembali ke alam mimpi. Hahahaha

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *