Truth. Its Definition and Standard

Saya kemarin ngobrol dengan salah satu kawan mengenai definisi ‘kebenaran’. Awalnya sih, obrolan yang mendadak dalem itu berangkat dari curhat saya tentang salah satu anak SMP yang bilang ada banyak korupsi terjadi di sekolahnya. Anak SMP itu bicara tentang kecurigaanya ke adik saya yang masih SMP juga, dengan yakin dan vibe ‘pasti bener’nya. Adik saya, yang nggak jauh umurnya dari anak itu, jelas menjadi bias. Dia bilang, ‘meski temenku tuh preman ya Mbak, tapi mereka tuh tau kebeneran juga! Mereka nggak salah!”

Ngakak lah saya. Sumpah saya nggak pengen merendahkan opini (atau tuduhan?) kawan adik saya itu. Cuma, kan lucu, kalo seorang anak SMP dengan track record kenakalan luar biasa, jarang masuk sekolah, rutin mengkonsumsi alkohol dan obat terlarang, pernah berurusan dengan polisi pula, tiba-tiba bicara tentang korupsi yang terjadi di sekolahnya. Korupsi macam apa yang pernah dia saksikan kalau dia hampir nggak pernah masuk sekolah dan sekalinya hadir, dalam keadaan mabuk atau setengah sadar. Penyidik KPK aja nggak bisa asal ciduk pejabat hanya karena curiga, Gaes. Maybe I underestimate their, lets say, keen deductions, but I just can’t help it. Really.

Dari cerita itu saya mulai membahas tentang kebenaran dan definisinya yang sesungguhnya bersama kawan saya. Apakah kebenaran adalah suatu yang objektif dan ditentukan oleh aturan tertentu sebagai standarnya, atau kebenaran malah bersifat subjektif? Sebelumnya, kami membedakan mana kenyataan dan mana kebenaran. Katakanlah, kenyataan adalah suatu hal yang benar dan sungguh adanya. Sedang kebenaran adalah penilaian dari fakta itu, apakah memang benar atau salah setelah dinilai. Baik atau tidak. Ilok, ndak?

Di situ kami mulai mempertimbangkan bentuk kebenaran yang sesungguhnya. Kayaknya sih, kalau kebenaran diidentifikasi sebagai sebuah ‘penilaian’, konteksnya bakal langsung jadi subjektif. Penilaian kan relatif. Tergantung siapa yang menilai. Contoh, saya bilang kalau saya jelek. Saya sih pede ya, percaya aja kalau saya memang buluk dan buruk rupa. Tapi orang lain bilang saya cantik. Relatif kan?

Tapi, di sisi lain ada yang namanya beauty standard. Standar kecantikan. Aturan absolut para manusia untuk menilai; mana yang memang cantik tanpa keraguan di dalamnya, mana yang buruk rupa ga ketolong lagi. Standar ini bisa berbeda banget isinya tergantung dengan area, waktu, kultur, tendensi masyarakat, dll dsb dst. Tapi, katakanlah, orang yang tumbuh dengan dicekoki satu standar tertentu sepanjang hidupnya, akan besar dengan menganggap ‘standar’ itu sebagai ‘kebenaran mutlak’. Kayak saya, yang sampai sekarang ga bisa membayangkan kata ‘cantik’ tanpa ‘kulit terang, tinggi semampai bodi aduhai, hidung mancung, mata belok dan rambut hitam tebel’ lewat di kepala. Padahal sudah kenyang benar dengan teori ‘cantik itu relatif, cantik yang sesungguhnya di mulai dari dalam, tapi ya teuteup~ di mata saya yang cantik itu Raisa, bukan Warda 🤣

Suatu penilaian, akhirnya akan bias, tergantung dengan kepercayaan yang seseorang anut sesuai dengan nilai-nilai yang dia percaya. Nggak cuma dari segi agama yah, tapi yang lain juga. Kalau meminjam dari teori Berger tentang kenyataan (bukan kebenaran) subjektif, sebuah kenyataan yang dipercaya individu akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan sejarah individu tersebut. Dia dari keluarga yang seperti apa, lingkungan yang bagaimana, tumbuh dengan nilai dan kepercayaan yang mana dan pendidikan yang ia tempuh seperti apa. Itu bakal sangat mempengaruhi konstruksi pengetahuan yang membentuk kepercayaan pada kenyataan yang ia yakini. Bah, ribet amat ni kalimat. Intinya gitu dah.

Kalo kita terapkan aturan itu pada ‘kebenaran’, maka kebenaran juga bakal tergantung siapa yang menilai. Dan si orang yang menilai juga bakal bias tergantung dengan latar belakang, sejarah sampai konstruksi pengetahuannya. Jadi ya, kasarnya, ekstremnya, sesuatu bakal disebut ‘kebenaran’ selama orang tetep percaya pada kebenarannya. Benar menurut dia bisa jadi bakal beda banget bentuknya dibanding benar menurut saya.

Tapi, apa kebenaran bisa dengan entengnya ditaroh dalam kategori ‘relatif’ kayak kecantikan seperti di atas? Kecantikan aja punya standar buat penentu, ya kebenaran jelas punya standarnya juga lah. Tapi apa? Apa standarnya?

Di situlah, saya pikir krusial dan penting sekali buat manusia untuk punya ‘standar kebenaran’nya masing-masing. Standar kebenaran inilah, yang (kayaknya) pada akhirnya membuat orang-orang membentuk sebuah konsep bernama ‘idealisme’. Kayak, Pancasila yang jadi idealisme Indonesia. Jadi segala aturan dan hukum yang diberlakukan di Indonesia, merupakan turunan dari Pancasila (UUD 1945, UU, Perpu dll~).

Trus, kalo standar kebenaran manusia secara individu? Bisa beda-beda juga. Toh idealisme orang bisa beda-beda tergantung siapa junjungannya. Tapi saya ingat kata salah satu dosen saya,

“Kita ini orang Islam, Dek. Kita ini muslim. Selama kita masih mengaku sebagai muslim, konsekuensinya adalah, idealisme yang kita anut juga ga boleh keluar dari asas keislaman. Islam, Quran, hadits dan semua aturan turunannya, sebagaimana Pancasila pada negara, harus jadi idealisme pribadi kita.”

Mengingat apa kata dosen saya itu, saya jadi sadar. Memang sudah seharusnya idealisme seorang yang beriman adalah asas agamanya sendiri. Kan ga lucu kalau di setiap kesempatan, kita cuma bisa gegayaan, sombong bilang “Islam itu sempurna, sudah mengatur keseharian kita sampe aspek paling kecil dan sepele” tapi ya yang ngomong nggak muslim sama sekali kesehariannya, kayak saya. Wkwkwkwkwk

Kebenaran, pada akhirnya memang sebuah penilaian. Setiap orang bisa saja menunjuk ‘benar atau salah’ pada suatu hal. Dan kita ga bisa memaksakan kebenaran yang kita percaya kepada orang lain karena, memang setiap orang berhak mempercayai kebenaran yang mereka yakini masing-masing.

Tapi pada akhirnya, manusia harus dibatasi dan membatasi diri. Toh sudah sifat manusia banget yang kalo nggak dikasi batasan, bisa ngelunjak nggak tau diri. Harus ada standar pembatas yang memberlakukan aturan main dan di saat yang sama harus ditaati. Di situlah agama berperan penting untuk memberi petunjuk mana yang baik dan buruk.

Man, kita cuma manusia buluk yang kebijaksanaan dan kepintarannya ga bakal sempurna. Diberi kebebasan bertindak hanya karena ‘aku percaya kalo aku bener’ itu bukan langkah yang baik, gaes. Kenapa nggak manusia, ‘menyerah’ dan mengakui kalau dirinya nggak bakal bisa sempurna dan ‘membiarkan’ Tuhan sebagai zat yang maha sempurna buat ngatur segalanya?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *