Thesis Escape: Strayed in Banyuwangi (Part 1)

Berjalan tanpa rencana matang di kota orang adalah salah satu keinginan yang bener-bener aku impikan. Sensasi nyasar, nggak tau arah, ngerasa asing dan clueless menimbulkan efek excited buat aku secara pribadi. Well-planned journey bukan hal yang beneran menarik buat aku, nggak ada surprising effect­-nya sama sekali. Jadi, perjalanan macam biksu Tong San Chong ke barat untuk mencari kitab suci dan Gon Freecs yang berusaha menemukan ayahnya (atau Hachi yang nyari mamanya) jelas jadi inspirasi terbesarku buat menjelajah dengan satu tujuan tanpa list ini itu. Cukup pasang sau tujuan, entah apa aral rintangannya nanti, pikir belakangan!

Berhubung akhir-akhir ini aku mulai capek dengan rutinitas yang datar-datar aja di rumah, ditambah dengan mumet di kepala setelah dengar kabar dari kawan-kawan yang akan sidang skripsi (dan aku jangankan sidang, mulai turun lapangan penelitian aja belom)… aku memutuskan buat kabur sehari dari Bondowoso dan Jember. Cari angin baru, tempat baru, suasana baru.

Mulailah aku ngehubungi salah satu temenku, Fika. Aku ajak dia buat berpetualang gila. Sok backpacking. Sok bondo nekat. Tanpa rencana matang. Kita nentukan destinasi ke Kabupaten Banyuwangi which is tempat yang nggak jauh-jauh amat dari Jember dan budget maksimal 100 rebu dari pesen tiket kereta sampai balik ke stasiun Jember. Rencana perjalanannya sehari doang, berangkat dengan kereta pagi jam 05.15 dan balik ke Jember dengan kereta malam pukul 20.30

 

Awalnya, rencana ini gagal karena aku putusin buat delay acaranya karena satu hal dan yang lainnya. Tapi seminggu kemudian jadi terlaksana dengan beberapa tambahan anggota baru; Nana, Siami, dan Belly (iya, namanya Belly. Jangan pikirin perut atau Belly Dance, please!). Karena ada kekhawatiran rencana ini bakal jadi wacana doang dan fiktif belaka, mereka bikin group chat di Whatsapp dengan nama “WACANA adalah HARAM”.

Tiket kereta udah kebeli. Basecamp udah ditentuin. Fika dan Nana beli baju di mall khushushan  buat acara jalan-jalan ini, baju unyu-unyu warna putih gitu. Aku ikutan mereka sih ke mall nya, mostly buat jadi rem bermulut pedes yang akan menghentikan kekalapan mereka ngehabisin duit di mall. Dan di sana, akhirnya aku bener-bener paham sama perasaan para lelaki yang suka ogah buat nemenin para cewe buat belanja. Berat cobaannya.

***

Keesokan harinya jam 4 pagi kita mulai hectic nyiapin segala hal. Barang-barang dimasukin ke dalam tas, nasi goreng buat sarapan dimasukin ke toples tupperware (iya, literally toples kerupuk, bukan kotak makan atau sejenisnya), rebutan kamar mandi dan kehebohan lainnya gegara bangun telat. Untungnya kami berhasil masuk peron tepat waktu jadi nggak perlu ada drama ketinggalan kereta dan berakhir dengan adegan gedor-gedor pintu masuk peron sambil berurai air mata.

Perjalanan memakan waktu sekitar dua setengah jam, dan aku ngehabisin sebagian besar waktu di kereta dengan tidur. Maklum, sebagai orang yang secara resmi memulai hari pada pukul 10 pagi, bangun jam 4 dan nggak tidur lagi jelas adalah cobaan. Saat sudah masuk daerah Banyuwangi, kami mulai benar-benar sadar dan makan nasi goreng toples Tupperware bekal dari rumah Nana. Setelah sampai di stasiun, langsung saja kami memesan Gocar menuju ke Grand Watu Dodol.

Grand Watu Dodol ini pada dasarnya punya taman yang cantik, tempat PKL yang teratur dan rapi, desain mushalla dan kamar mandi yang manis (krusial banget ini) dan tempat-tempat yang cocok buat dijadikan background foto ala selebgram. Cuma ya, cuma… in my personal and honest opinion, pantainya biasa banget. Pemandangannya nggak wah banget walau airnya memang bener-bener bening. Tapi, aku salut dan ancungi jempol sama pihak pengelolanya. Lepas dari fakta bahwa pantai ini biasa banget, mereka bisa menyodorkan aspek lain yang nggak kalah penting dari pemandangan itu sendiri, yaitu tempat wisata ramah pengunjung. Daerah sekitar GWD ini cenderung cantik, bersih dan rapi, fasilitas yang tersedia juga cukup baik. Lumayan, lumayan. Banyak tersedia gazebo-gazebo di pinggiran pantai buat tempat leha-leha keluarga, dll. Lumayan, lumayan. Biaya masuknya juga murah, 5000 rupiah doang untuk weekdays dan 7000 buat hari Minggu. Lumayan, lumayan.

IMG_20180118_203322_128
Mayan lah tempatnya (Mana Belly? Belly gagal berangkat)

***

Setelah selesai menikmati pemandangan (baca: berfoto-foto ria), kami melanjutkan perjalanan ke Patung Gandrung raksasa yang nggak jauh dari GWD itu sendiri. Dari GWD ke lokasi patung ini nggak jauh dan kami lewati dengan jalan kaki menyusuri pinggir jalan raya. Masih mending ya, aku pakai sepatu karet anti badai-ku yang tetep kuat diterjang panas dan banjir, lah si Nana malah pakai sepatu sandal yang cocoknya dibawa nge-mall. Bukan jalan kaki dengan medan nggak mulus. Masih mending sih, nggak ada heel-nya. Nah, Siami lebih parah bo’. Dia pakai slip on sandal denga heel wedges yang tingginya 3 senti. Mau judulnya ‘sok’ backpacking juga ini udah nggak pas banget, Sodara-sodara. Untungnya dia nggak pakai ngeluh dan tetep tahan aja menyusuri jalan pakai sandal begitu.

Kami sampai di lokasi. Aku nggak bisa ngomong apa-apa karena, well, apa yang harus aku omongin. Tempat ini cuma gedung dengan patung penari gandrung raksasa dibangun di atas atapnya. Patung ini kabarnya dibuat sedemikian rupa sebagai maskot selamat datang ke Kabupaten Banyuwangi. Makanya di letakkan di pinggir jalan yang mana masih jadi jalur perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo.

Setelah selesai di patung gandrung, kami kembali berjalan kaki menyusuri pinggiran jalan raya. Melewati Watu Dodol yang mahsyur disebut sebagai paku Pulau Jawa (kata Siami). Diisukan bahwa batu raksasa yang membelah jalan raya dan membaginya menjadi 2 jalur ini tidak bisa dipindahkan (kata Siami). Dan apabilan dipaksa untuk dipindahkan, maka Pulau Jawa dipercaya akan berguncang dan tak stabil (kata Siami). Dan sudah diteliti juga oleh Tukul Arwana dalam acara Mister Tukul Jalan-jalan, bahwa lautan di seberang batu dodol ini merupakan lokasi bersemayamnya kerajaan pantai utara (kata Siami, dan demi apa dia pake kata ‘telah diteliti’ buat nunjukin hasil acara mistis panduan Tukul ini?. Dan demi apa ada kerajaan Pantai Utara kalo letaknya ada di sebelah timur Pulau Jawa? Maaf ya, saya ndak paham blas sama pembagian batasan kerajaan jin perairan Pulau Jawa ini, jadi biarkan saya bingung.)

 

***

Beberapa puluh meter dari Watu Dodol, kami sampai ke Bukit Watu Dodol. Tempat ini merupakan bukit yang sekilas nampak nggak terjamah manusia karena lebatnya pohon tropis dan ramainya penduduk monyet di dalamnya. Tapi percayalah, track untuk naik ke puncaknya ini sudah dibikinkan tangga dan ber paving, Sodara-sodara. Di pintu masuknya pun disediakan loket karcis dan mushalla kecil segala.

Sebenarnya, nggak harus sampai puncak untuk sampai ke spot bagus untuk melihat pemndangan Pantai Watu Dodol dari ketinggian. Kita hanya perlu berjalan menyusuri setapak ber-paving sekitar 100 meter untuk sampai ke spot tersebut. di sana ada makam (‘Petilasan’ kalau orang Banyuwangi ngomong) Syekh Maulana Ishak yang dikabarkan dari Kerajaan Blambangan (tiba-tiba inget sama silsilah keluarga yang konon katanya masih ada turunan Kerajaan Blambangan). Bentuk makamnya juga masih kental dengan budaya China karena kanopi makamnya sendiri juga khas China sekali. Di sebelah makamnya juga terdapat makam yang anonymous sama kuil kecil yang bertuliskan aksara Mandarin. Nggak paham. Tapi, setelah tanya Mbah Gugel (mbah yang dipercaya dapat menjawab segala pertanyaan), kuil itu adalah kuil Dewa Bumi, Tu Di Gong.

20180117_224122
Pemandangan dari atas Bukit Watu Dodol

Di dekat kuil inilah, spot menonton pemandangan Selat Bali dan patung gandrung dari ketinggian sekian meter tersedia. Sebenernya sih, tempat ini bukan puncak dari bukit Watu Dodol ini. Masih ada jalan setapak ke atas menuju Goa Jepang. Nggak seperti jalan menuju spot pemandangan ini yang pavingnya cenderung rapi dan terkesan baru, jalanan menuju goa Jepang udah mulai rusak sana-sini. Sebenernya sih, anak-anak lain ngajak naik lebih ke atas, ke Goa Jepang. Tapi, maaf, saya menolak dengan keras. Terlalu sering baca cerita-cerita para indigo di Kaskus bikin aku rada parno sama hal-hal mistis. Apalagi pas kami ke sana kan hari Selasa, tempatnya beneran sepi dan selain rombongan kami, hanya ada sepasang muda-mudi yang sibuk memadu asmara di tempat duduk yang disediain di sana. Nggak takut kesambet mereka, peluk-pelukan di sono. Yang cowok pake jaket almameter salah satu kampus pula. Ckckck.

Jadilah kedatangan kami, selain berniat untuk mengagumi pemandangan (baca; foto-foto), merusak kebahagiaan pasangan ini juga buat leha-leha setelah jalan kesana kemari. Puas dengan pemandangan dan foto-foto dan gigitan nyamuk hutan yang gede-gede, kami akhirnya turun. Nah, turun ini lebih mendebarkan daripada pas naik. Monyet-monyet yang awalnya hanya berisik di antara pepohonan pas kita naik, mereka muncul semua dan menampakkan diri mereka selama kita turun. Berhubung monyet adalah salah satu hewan yang paling aku takuti (nggak usah monyet beneran deh, orang pake topeng monyet aja bisa bikin aku meerinding disko), sepanjang perjalanan aku sibuk meluk lengan Siami sambil komat-kamit baca ayat kursi (nah, bingung kan, takut sama monyet bacaannya ayat kursi? Aku juga bingung, guys).

Kami turun dengan selamat sentosa. Duduk di salah satu gazebo yang disediakan oleh warung di bawah bukit, memesan es kelapa (yang entah kenapa dicampur sirup jadi warnanya merah fanta) dan beristirahat-ria, ngegosipin pasangan di bukit tadi.

Tapi, perjalanan kami belum selesai, Sodara-sodara….

Masalahnya dimulai dari sini!

IMG-20180117-WA0064-01
Senyum ini hanya bertahan sesaat, Sodara-sodara!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *