Tentang Sebuah Idealisme yang Mendasar

Kita punya rasa takut untuk bodoh, dianggap bodoh dan terlihat bodoh. Ketakutan itu mengarahkan kita pada beberapa hal, salah satunya ‘membenarkan apa kata orang yg kita anggap pintar’. Implikasinya, istilah ‘smart people‘ saat ini dijunjung tinggi sebagai sebuah puncak pencapaian kognitif masyarakat.


Semakin ke sini juga, mulai bermunculan figur-figur publik terkenal dengan personal branding ‘manusia pintar, agamis, logis nan kritis’. Figur-fugur tersebut menjadi jawaban bagi orang-orang bodoh dan orang-orang yang pintar tapi tak sadar. Figur-figur ini memberikan opini pribadinya atas permasalahan sosial ataupun permasalahan pribadi orang lain di hadapan publik dengan gaya logis nan kritisnya.

Fakta dipelintir, nurani disingkirkan, aturan agama dikebalakangkan, hanya logika manusianya yg dibenarkan. Dengan retorika lihai nan ciamik, masyarakat samar akan fakta dan kebenaran dibalik kisah asli. Membenarkan pernyataan dan tudingan figur-figur tersebut dan menganggap mereka yang tak sejalur bukanlah dari kalangan smart people, hanya orang bodoh yang mengetik komentar tanpa otak kata mereka.

Lebih lucunya, figur-figur tersebut makin jumawa. Lupa kalau dirinya tak pernah sempurna. Tak akui kesalahannya dan menyalahkan korbannya. Menggerakkan ‘pengikutnya’ menuju logika tak terbantahkannya. Dan orang-orang mendadak amnesia, bahwa tidak lebih penting menjadi orang baik daripada menjadi orang pintar.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *