Tentang Ibu, Anak dan Dia

Setelah lulus S-1, terasa sekali betapa tak bergunanya saya tanpa saat-saat wajib berpikir. Ditambah kegilaan saya pada ponsel pintar yang lebih praktis untuk digunakan berburu informasi dan hiburan—bukan ilmu, saya merasa semakin menjijikkan. Akhirnya beberapa waktu terakhir ini, saya berusaha memulai kembali kebiasaan lama; membaca buku. Memang saya tak pernah tinggal membaca setiap harinya, tapi bukan membaca ‘buku’ melainkan komik dan novel, yang bisa dinikmati secara online, gratis pula. Setelah sekian tahun hidup dengan bacaan-bacaan ringan itu, saya merasa harus step up the game. Kembali membaca ‘buku’ dan mulai belajar ‘menyentuh’ kategori non-fiksi.

Salah satu buku non-fiksi yang saya baca akhir-akhir ini adalah buku kumpulan reportase almarhum Rusdi Mathari yang berjudul ‘Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam’. Dalam salah satu sub bab berjudul ‘Pada Sebuah Panti’, saya terdiam sejenak setelah membaca kalimat penutup dalam sub bab yang mengisahkan tentang kondisi panti-panti jompo yang beliau datangi berikut dengan para penghuninya itu. Di situ Rusdi menulis perandaiannya tentang masa depannya di masa tua nanti, apakah akan hidup bahagia di rumah keluarga dikelilingi anak cucu atau terpinggirkan di panti jompo.

Saya jadi turut khawatir. Bukan dengan keadaan saya esok hari, tapi kondisi orangtua saya nanti. Apakah saya dan adik-adik nanti akan cukup berbakti pada orangtua untuk terus merawat mereka bahkan di masa-masa sulit dan tak berdaya? Apakah kami nanti akan punya kesabaran yang cukup untuk meluangkan waktu dan memperjuangkan orangtua bahkan di saat sibuk dan rumit kami? Saya tak ragu dengan masa tua sendiri, biarlah saya pikir besok-besok kalau memang sampai pada umurnya. Saya hanya ragu dengan kemampuan dan kasih sayang saya pada orangtua. Mudah lah saya berteriak cinta pada orangtua, tapi apa cinta dan pengabdian itu akan terus bertahan di saat orangtua saya mulai semakin ‘rewel dan bawel’? Saya hanya anak, yang rasa cintanya tak lebih besar dan jauh lebih rendah daripada cinta orangtua kepada saya. Saya jadi khawatir.

Sebuah Kisah dari Mama

Mama. Harusnya saya panggil bude, karena memang seperti itulah posisinya di keluarga kami. Tapi, karena dekatnya keluarga kami dan mencontoh panggilan kakak sepupu, akhirnya saya juga ikut panggil bude dengan sebutan ‘Mama’. Mendadak silsilah keluarga kami akan sulit diterka jika dilihat dari bagaimana generasi saya memanggil para orangtua, campur aduk. Carut marut. Semua sepupu memanggil orangtua saya dengan sebutan Bapak dan Ibu, saya dan sepupu-sepupu lain memanggil pakde dan bude dengan sebutan Ayah dan Mama. Total ada 2 mama, 2 bapak, 1 ayah dan 1 ibu di keluarga besar kami. Yang tak tau benar, akan sulit menentukan siapa yang anak siapa.

Mama, mungkin menemukan kenyamanannya saat bercerita dan curhat pada saya sejak saya kecil karena seringnya saya menemani mama duduk dan berbagi kisah. Tapi hari itu, mama berkisah dengan wajah sendu dan mata berair.

“Sejak masalah itu, Mama sudah nggak komunikasi lagi sama Mas-nya (Mas-nya saya alias kakak sepupu a.k.a anak kandung mama).” Mata Mama menerawang jauh, “Biasanya tiap hari Mama kirim WA, ‘kamu sedang apa’ ‘lagi apa’. Nanti dijawab, ‘lagi makan Ma, mau sholat, mau berangkat ngantor’. Sekarang sudah nggak lagi…”

Beberapa saat yang lalu, kakak sepupu saya memang menghubungi keluarga. Mendesak Mama untuk mengijinkannya menikah dengan kekasihnya. Sebenarnya, keluarga kurang suka dengan calonnya dan hasil istikhoroh bapak saya tentang si gadis juga tak terlalu baik. Tapi sepupu saya kukuh dan tak goyah. Mama sebenarnya telah mengalah, tapi memang sulit rasanya menikahkan anaknya di tahun ini karena bersamaan dengan tahun keberangkatan Ayah dan Mama haji. Persiapan untuk berangkat membutuhkan biaya yang tak sedikit, dan melaksanakan pernikahan di tahun yang sama jelas akan sulit.

Sepupu masih memaksa, cukup dengan akad. Resepsi bisa tahun depan, yang penting sah agama dan negara tahun ini. Tapi Mama tak luluh, mau dikata ‘cuma’ akad tanpa resepsi, harus ada ‘pengumuman’ kepada keluarga besar dan tetangga sekitar dalam bentuk selamatan untuk menghindari fitnah di kemudian hari, bukan? Walau tak mewah, keluarga kami tak pernah main-main dalam menjamu. Acara dan jamuan harus pantas dan tak ada alfa, lebih baik sisa makanan berlebih daripada kurang dan tak mencukupi. Dan tentu saja butuh dana yang tak sedikit. Kami bukan keluarga yang benar-benar kaya, jadi jelas berat rasanya 2 acara besar dalam setahun. Selain itu, Mama masih berharap nanti di Tanah Suci punya kesempatan untuk berdoa diberi petunjuk mengenai kekasih pilihan kakak sepupu.

“Padahal Mama nggak pas langsung nolak. Mama bilang, ‘tahun depan saja, mama masih nggak punya uang, fokus haji dulu’. Mas-nya minta akad dulu tahun ini. Iya nggak salah, memang harus segera. Tapi kan kita semua masih ragu, mau dipaksakan juga meski nggak ada resepsi, kan harus ada selamatan biar nggak ada fitnah nanti…”

Saya manggut-manggut.

“Mama… kadang-kadang nangis, kalau ingat Mas-nya. Sudah disekolahkan tinggi-tinggi, dibiayai mahal, dibesarkan hati-hati. Ya Mama nggak hitung, sudahlah namanya juga anak sendiri. Tapi Mama ngerasa nggak dihargai….”

Saya ikut sedih. Kakak sepupu saya sebenarnya orang yang baik walau memang sedikit keras kepala. Sayang sekali rasanya, jika dia harus memaksakan pilihannya pada seseorang yang secara langsung atau tak langsung, sadar atau tak sadar, sengaja atau tak sengaja merenggangkan hubungannya dengan mamanya sendiri. Sejak dulu, saya percaya pasangan yang baik adalah dia yang membawa kita kepada kebaikan dan mempererat hubungan kita dengan keluarga.

Bapak saya sendiri bukan anak yang cukup dekat dengan ibunya (nenek saya) karena memang sedari kecil bapak tak tinggal bersama dengan nenek. Nenek juga bukan mertua yang cukup baik untuk ibu saya dan sedikit banyak memperlakukan ibu saya dengan buruk. Tapi saya selalu menyaksikan bagaimana ibu selalu mengingatkan ayah saya untuk terus mengunjungi nenek, memaksanya untuk menghubunginya di setiap waktu luang dan datang di setiap acara apapun di kampung halaman. Ibu selalu bilang, dia tak ingin keberadaannya menjadi pemutus hubungan seorang anak pada ibunya dan akan selalu merasa berdosa jika memang dia menjadi salah satu alasan perenggang hubungan itu.

Di situ saya merasa sedih. Saya pikir, Mama adalah orang yang baik. Sepintas beliau memang terlihat cukup judes dan cerewet, tapi Mama adalah orang yang benar-benar disiplin, jujur dan menomorsatukan kesopanan. Beliau juga tak segan memarahi saya (yang ‘cuma’ seorang keponakan) kalau ada saat di mana saya berlaku tak sopan atau tak cekatan dalam bekerja, tipikal ibu-ibu cerewet. Tapi saya tau benar, Mama punya kualitas seorang wanita, istri dan ibu yang sangat baik.

Saya jadi kembali teringat tentang kekhawatiran saya tentang bakti pada orangtua suatu saat nanti. Apakah saya akan menghadapi hal yang sama dan akhirnya memilih ‘hal lain’ ketimbang kepentingan dan kebahagiaan orangtua saya? Apakah akan tiba saat di mana saya melihat orangtua sebagai eyesore dan penghalang urusan saya? Apakah rasa hormat dan sayang ini akan hilang suatu saat nanti, dimana saya berpikir apa-apa yang saya putuskan dan pikirkan lebih baik dari cara orangtua saya? Ah, mendadak saya meragukan kemampuan dan kualitas saya sebagai seorang anak….  

 

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *