Belajar Membaca Non-Fiksi

Beberapa waktu lalu, saya mencoba untuk menulis naskah buku non-fiksi dan menocba-coba keberuntungan dengan mengirimkannya ke penerbit. Hasil akhirnya? Ditolak habis-habisan. Hahahaha. Salah satu penerbit malah menolak dengan alasan sedang tidak menerima naskah fiksi.

Bingung lah saya.

Saya ingat benar telah mengirimkan naskah untuk lini non-fiksi dan konten yang saya tulis juga bukan sekedar fiktif belaka. Saat saya kembali mengonfirmasi alasan penolakan tersebut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya;

“Walaupun konten yang Anda tulis merupakan kenyataan, penyampaian yang Anda gunakan dalam naskah adalah bentuk cerita. Dan itu masuk dalam kategori ‘fiksi'”

Bingung, mulailah saya berkelana di alam Google untuk memastikan status genre tulisan saya. Dan sama seperti jawaban redaktur, senyata apapun tulisan yang saya buat, selama redaksi yang saya gunakan adalah ‘bentuk cerita’, dia dikategorikan fiksi.

Akhirnya dengan berat hati, saya harus mengakui. Saya tidak bisa seenteng itu menulis naskah non-fiksi hanya dengan bermodalkan pengalaman membaca buku fiksi. Di situ saya mulai bergerak untuk memperluas range bacaan saya, saya harus belajar membaca non-fiksi.

Continue Reading