Saya Nggak Kuliah Buat Dapet Gelar Doang, tuh….

Tadi nggak sengaja nemu di twitter tentang essay yang bisa dikerjain pake bot. Tinggal input tema utamanya, trus si bot bakal ngebikinin essay-nya. As simple as that. Di retweet lah itu post oleh seseorang yang nggak saya kenal, tapi di like oleh akun yang saya ikuti dengan tambahan tulisan “ngapain kuliah mahal-mahal kalau males mikir?”

Akuuur. Saya setuju.

E tapi di kolom komentar ya masih ada yang ngomong, “emang kuliah buat jadi pintar? Kuliah itu biar dapet gelas sarjana. Orang bisa pintar meski nggak kuliah blablabla“. Di situ saya mikir, dia ini ada dendam apa sama kampus? Sama dunia pendidikan? Sama kenyataan? (Eh, nyindir diri sendiri).

Iya, sistem penilaian di instansi-instansi pendidikan kita sebagian besar memang berorientasi pada nilai, skor pelajaran. Kalau nilaimu bagus, meski essay yang kamu tulis hasil copy-paste juga ya kamu ‘pinter’. Mau kamu brainstorming, researching dan elaborating pemikiran orisinilmu di essay tapi dapet nilai jelek yhaaa kamu ‘nggak pinter’. Eh, jadi inget pengalaman pribadi aja. Tapi kadang yak, kita suka lupa aja. Mau kita tetep dapet predikat ‘nggak pinter’ karena nilai jelek meski udah mikir pake otak, sebenarnya kita satu langkah lebih pintar daripada diri kita sebelum ngerjain tugas itu. In fact, we got smarter and sharper, more than others who cheat on their essay. Wkwkwkw.

Tapi balik lagi dengan ‘mahalnya harga pendidikan’, semales-malesnya saya sama kenyataan pahit ini, sekesel-keselnya saya dengan kondisi ini, nggak membuat saya lantas mengutuk proses belajar saya selama kuliah. I pay the high price for this education, so I need to gain more than ‘scores’ from this facilities, lecturers and environment. Saya bertemu dengan dosen-dosen yang, meski kadang ngeselin perkara ngasih nilai, tapi banyak memberi insight yang baik untuk murid-muridnya. Mereka memberi motivasi belajar yang inspiratif dan lecutan dengan kata-kata secanggih ‘Anda pikir, Anda cukup pintar menulis essay hanya dengan modal otak Anda saat ini? Manusia tidak secemerlang itu dan Anda jangan senaif itu mengira segala tugas bisa dikerjakan tanpa memperluas pengetahuan!’. Daaan lain sebagainya.

Kuliah juga membuat saya sadar bahwa saya nggak paham apa-apa. Hanya sedikit lebih pintar dari beberapa orang dan jauh lebih bodoh dari banyak lainnya. Endurance saya dalam belajar dan membaca buku tidak sekuat orang lain. Tidak jarang juga saya merasa ‘nyasar’ di kelas, tidak paham apapun yang sedang terjadi dan tema apa yang sedang didiskusikan. Even tho I wouldn’t say that I’m a stray student that choose the wrong major in uni, more likely I still don’t learn enough, read enough, observe enough and grasp the ideas behind.

That being said, saya nggak ingin menafikan rasa bahagia saat berhasil meraih gelar sarjana, tentunya. Tapi sensasi saat menyelesaikan penelitian, essay, dan penulisan skripsi tanpa copy-paste, ngejoki, bot atau apalah itu jauh lebih fulfilling rasanya daripada saat menerima gelar ketika wisuda. Kayak, meski hasil nugas saya saat kuliah nggak cakep-cakep amat, saya ternyata mampu mikir serumit ini, menghasilkan penelitian, nggak menyerah dalam belajar dan nggak trauma sama kuliah. Hahahah.

Meski tetep belum ‘sepintar itu’ pasca lulus S1, still, I gain a lot. Kuliah bagi saya adalah momen panjang dimana kita diberi kesempatan untuk membuka pintu-pintu menuju berbagai disiplin ilmu, not necessarily the major you commit yourself in tho. Karena dasar critical thinking diajarkan saat kuliah, dia macam basic skill yang bisa digunakan setiap kamu mau mulai mempelajari hal-hal baru. Jadi rasanya kurang ajar sekali diri ini kalo mempersingkat definisi ‘kuliah’ sebagai ‘usaha mencari gelar’ doang.

Yhaaa tulisan ini berlaku untuk saya doang sih, kali aja orang lain punya kondisinya sendiri jadi ga bisa dapet ‘hal lain yang memintarkan’ selain gelar. Apa orang bisa pinter tanpa kuliah? Bisa juga. Ilmu nggak paten hak milik universitas doang, kok. Tapi teuteup, mau dapet ilmu atau nggak saat kuliah itu balik ke pilihan. Tentu kita bisa lulus kuliah modal ngandelin joki dan fitur copy-paste, tapi kuliah nggak menutup kesempatan belajar seseorang. Jadi kurang sah rasanya kalau kegunaan kuliah dipendekkan jadi ‘buat dapet gelar doang’.

You may also like

3 Comments

  1. I agree with your opinion, Mba. Kemarin saya juga lihat tweet yang Mba maksud dan jujur saja, miris sekali rasanya.

    Tapi ya, dalam hati saya tahu. Berjuang menyelesaikan wssay, skripsi dan lainnya tanpa copy paste itu, lebih membekas. Saya masih ingat beberapa yang saya tulis, dasar pemikirannya bagaimana, dan pengalaman perjuangan dalam menyelesaikannya. Lebih banyak meninggalkan jejak pengalaman yang nggak bisa didapat kalau bikinnya copy paste.

    1. Hai, Mbak. Makasih sudah mampir.
      Iya memang, sayang banget rasanya kalo uda berkesempatan kuliah (yg ga semua orang punya akses buat kuliah), tapi ga mau mikir. Padahal perasaan dapet ilmu baru dan berhasil nyelesain tugas (sendirian!) itu jauh lebih memuaskan drpd ngandelin copy paste, joki dll. Lulus kuliah tetep ga dapet apa2 selain gelar mah, bukan salah kampus atau sistemnya. Ya salah yg kuliah aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *