Sandal Gunung yang Bagus dan Mahal Harganya

Saya punya satu sandal dengan merek Bata, dibeli setelah revisi skripsi pasca sidang saya diterima dan siap dijilid. Hitung-hitung buat perayaan dan hadiah buat diri sendiri setelah beres ngadepin dosen penguji yang, yagitude. Buat anak golongan kelas menengah cenderung ke bawah seperti saya, sandal dengan merek ini udah mewah banget. Bahannya bagus, terkenal awet, tahan lama pula. Harganya yang juga biasa dibanderol di atas 300rb bikin makin wah deh di mata saya.

But i decided to buy it since, my other sandal was quite damaged and I’ve no other substitute.

Setelah berkelana, muter-muter di setiap toko yang menjual sandal dengan kualitas yang baik di salah satu e commerce, saya akhirnya ketemu dengan sandal ini. Sandal Bata pertama saya. Dengan menggunakan promo ini itu sebagai usaha menghemat, saya berhasil mendapatkan sandal (dengan model yang agak lawas) itu dengan harga sekitar 120ribuan.

I was overjoyed since I thought it was quite a bargain. Murah banget lah untuk ukuran ‘sandal Bata’.

Sampai sekarang, sandal itu masih rajin saya pakai. Bukan karena dia cakep, cukup bermerek (buat standar saya), atau alasan sentimentil kayak ‘penanda kelulusan sarjana’ saya. Saya pakai terus, simply karena memang nggak punya sandal lain sebagai pengganti.

Ganti scene!

Beberapa saat yang lalu, saya dan orangtua berkunjung ke rumah nenek dari pihak bapak. Keluarga Bulik, yang tinggal bersama nenek saya, kebetulan status ekonominya jauh lebih rendah dari keluarga saya. Di situ Paklik saya bercerita tentang anak bungsunya, sepupu kecil saya yang masih SD. Akhir2 ini, dia terus ikut bapaknya ke sawah buat membantu mencari uang.

Trus si bapak tanya, “kenapa kok semangat banget yang mau ikutan kerja di sawah?”

Dengan semangat berapi-api, sepupu saya menjawab. “Aku mau beli sandal gunung, yang bagus itu loh! Harganya mahal!”

Saya bisa melihat kebanggaan si Paklik lah, waktu menceritakan penggalan kisah ini. Anaknya yang masih SD sudah tau caranya bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi, roman muka Paklik langsung meredup saat menceritakan penggalan kisah selanjutnya.

Jadi, setelah uang dikira cukup, Paklik akhirnya membawa sepupu saya untuk berangkat ke toko tempat ‘sandal gunung bagus yang mahal’ itu dijual. Dan ternyata, sandal yang dimaksud itu berharga 80 ribu rupiah.

Kagetlah Paklik saya, panik karena ternyata harganya memang ‘mahal’. “Ini sandal terlalu mahal, kamu mau beli ini?” tanya Paklik saya khawatir.

Sepupu saya sudah kepalang cinta dengan sandal itu. Uang sudah di tangan dan dia sudah kerja keras buat sandal itu. Jadi, dia mengangguk yakin. “Iya, Pak! Yang itu!”

Paklik saya akhirnya dengan berat hati melepaskan uang 80 ribu itu untuk sepasang ‘sandal gunung bagus yang mahal’ incaran sepupu.

Mendadak saya melirik ‘sandal bata murah’ saya. Saya selalu berpikir, 120 ribu itu cukup murah untuk sepasang sandal bagus, awet dan cukup bermerek. Dan di sini, ada sepupu kecil saya yang bekerja di sawah tiap hari demi sepasang ‘sandal gunung yang bagus dan mahal harganya’, which cost him 80k.

And it leads me to the better realization about how life works. Standar pada gaya hidup dan konsumsi bisa jauh berbeda tergantung jumlah penghasilan dan status ekonominya. Apa-apa yang bisa disebut ‘bagus dan mahal’ juga akan sangat berbeda definisinya tergantung siapa yang mengucapkan.

Akhirnya saya paham, saya nggak bisa sembarang ‘prihatin’ sama para sosialita di luar sana yang memilih buat membeli tas kecil seuprit dengan harga puluhan juta. Bagi mereka, sekedar 10-20 juta jelas harga yang murah untuk sebuah tas dengan tempelan lambang designer tertentu.

Boy, mereka meletakkan kata ‘mahal’ pada digit dan hal yang jauh berbeda dari standar mahal rakyat jelata ini, dan naik haji jelas bukan salah satunya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *