RifkiYATUS Sholihah

Namanya Rifki. Dulu, dia sempat tanya, apa arti nama lengkapnya. Ditanya dosen, katanya. Nama panjangnya sih, Rifqiyatus Sholihah. Aku jelaskan, ‘rifqiyah’ dari kata rifqun, artinya kelembutan. ‘Sholihah’ ya sholihah. Jadi nama panjangnya berarti ‘Kelembutan yang Sholihah’. Dan dia, sebagai santri yang entah sudah berapa lama belajar Bahasa Arab dan segala kaidah linguistiknya, dengan begonya bertanya “trus, artinya ‘yatus’ dari namaku, apa?”.

Dia dipanggil Rifki. Hobinya sholat di shof paling belakang. Posisi buntut-buntutnya pahala, bersama para manusia berisik pesantren lainnya. Sebelum dan sesudah sholat, dia dengan rajinnya akan membaca surah al-Baqarah. Bukan karena amalan khusus, itu bentuk hukuman buat santri yang suka madol ngaji dan sholat berjamaah. Harus dibaca lunas, kalau tidak, ibu nyai akan menagih sampai akhirat katanya. Lepas mengaji, dia akan cekakak-cekikik bersamaku dalam keseruan gosip terkini. Tak peduli bapak kyai sedang ceramah di depan, memberi tips memilih lelaki yang bisa mengaji untuk dijadikan gandengan.

Selain Rifki, nama panggilannya adalah Kimoy. Masih belum diketahui asbabun nuzul nama ini sampai disematkan begitu ke namanya. Pertama kali aku mendengar nama panggilannya, yang aku lakukan adalah meneliti penampilannya. Belah mananya dari Rifki ini sehingga bisa disebut ‘kimoy’? Well, sebagai pemerhati anime dan manga, aku sedikit banyak tau kata ‘kimoi’  dalam Bahasa Jepang berarti ‘menjijikkan’. Dan dia, tanpa penelusuran lebih lanjut, santai saja menoleh saat dipanggil ‘kimoi’.

Aktifitas Rifki ini banyak. Sama sepertiku, yang tidak pernah jauh dari posisi tinggi (ini kejujuran, bukan bualan). Rifki anak yang aktif organisasi di kampus maupun di pesantren. Kerjanya jadi pembesar, tidak jauh dari posisi inti. Beda dariku yang selalu punya kesempatan dan alasan untuk menolak segala hal yang merepotkan dan mengurangi waktu tidur ‘12 jam sehari’ku, dia bekerja dengan penuh semangat dan dedikasi, mau direpotkan bahkan oleh hal remeh temeh. Selain itu, Rifki juga memiliki banyak pekerjaan sampingan. Menghadiri wisuda orang, menjenguk orang sakit, diopname di rumah sakit, menghitung uang kas pesantren, ikut rapat internal dan rapat asatidz, opname lagi, mencoba kuliner baru di Jember, bertaruh kesehatan untuk mencoba mie dengan 20 cabe, kemudian opname, galau skripsi, galau diganggu mantan kekasih hatinya yang terbaru, menangis di pinggir jalan karena kekasihnya dipepet mantan, tak lupa opname, update status bahagia kelar dilamar, galau skripsi lagi, pengen cepet lulus, opname, pengen cepet kawin. Biar bahagia katanya, macam hidupnya sebelum kawin tak bahagia. Hm, mungkin saja. bisa jadi setelah kawin, dia bakal alpa opname untuk seterusnya.

Sebentar lagi, mungkin setahun dua tahun lagi. Atau bisa jadi kurang dari itu. Dia akan merubah status di KTP-nya. Dari belum kawin, menjadi kawin. Rumahnya tidak di Silo lagi, tapi di Wuluhan. Mungkin malah bakal tinggal di Tegal Besar, mengikuti profesi pengabdian lakinya. Dan yang pasti, namanya di amplop saat kondangan bukan ‘Rifki Kimoy’ lagi, tapi Ny. Syifaul Hisan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *