Pengalaman Mengikuti Dauroh Darul Mushtafa Secara Online di Pondoksanad.com

Ibu saya, walau punya gelar ‘Ustadzah’, sebenarnya cukup awam dalam agama. Tidak pernah nyantri dan menjalankan kewajiban agam setahunya saja. Sebagian besar pengetahuan agama Ibu dipelajari dari Bapak saya setelah mereka menikah dan beberapa buku-buku fiqh yang beliau baca. Karena pencarian pengetahuannya tidak runtut sebagaimana umumnya santri, ilmu agama yang ibu macam… all over the place? But well, my mom is one of a kind. Semangat ‘nyantri’nya sangat besar dan jauh melebihi saya dan adik-adik saya yang santri beneran. Ibu sangat terobsesi dengan status ‘santri’. Maunya jadi santri ‘sungguhan’, yang gurunya ‘beneran’ dan mau mengakui status kesantriannya. Beliau berkelana dari satu ustadz viral ke ustadz ngetren lainnya, dari nyai-nyai di pesantren saya hingga kyai-kyai di pondok adik bungsu saya, hingga cintanya berlabuh pada Abah Guru Sekumpul dan Habib Umar.

Sebagai pecinta Guru Sekumpul dan Habib Umar, hampir tiap hari ketika beliau menceramahi saya (tentang hampir segala hal), kalimatnya akan dimulai dengan awalan ‘kata Abah Guru Sekumpul…’ atau ‘kalau katanya Habib Umar…’. Setiap melihat saya sedang diam dan dalam keadaan bisa ‘diganggu’, Ibu akan dengan penuh semangat berbagi tentang kisah-kisah kewalian Guru Sekumpul, Habib Umar, Kyai ini, Habib itu dan lain-lain. Tiada hari tanpa membicarakan figur-figur di atas pokoknya.

Akhir Bulan Juli kemarin, akhirnya mimpi ibu untuk menjadi santri sungguhan terpenuhi. Darul Mushtafa membuka kembali dauroh tahunannya secara online. Dauroh ini merupakan semacam program pesantren kilat selama 40 hari yang setiap tahunnya diadakan di Daarul Mushtafa Tarim Hadraulmaut, Yaman. Nah, berhubung pandemi sedang berlangsung, dauroh tersebut dibuka secara online dan dapat diikuti tanpa harus ke Yaman. Bagi Ibu saya yang sibuk dengan pekerjaan, belum punya uang untuk membeli tiket pesawat ke Yaman dan biaya living cost selama dauroh, tapi ingin tau rasanya jadi ‘santri terverifikasi’ Habib Umar, ini jelas berita hebat.

Tanpa banyak pikir, akhirnya Ibu saya mendaftarkan dirinya secara online untuk mengikuti dauroh tersebut dengan biaya sebesar 750 ribu rupiah. Tak lupa, beliau ikut menggeret saya dan adik saya untuk ikut mendaftar dauroh tersebut. Sebenarnya saya males sih, harganya mahal pula. Saya yang sedang bangkrut tidak punya uang untuk mendaftar, tapi ibu dengan gigihnya mengeluarkan uang pribadinya agar saya dan adik saya mendaftar juga. Dalihnya, “biar kamu jadi santrinya Habib Umar juga!”. Jadilah, saya akhirnya mengikuti dauroh tersebut.

Dalam dauroh online ini, Darul Mushtafa bekerjasama dengan website pondoksanad.com sebagai tempat penyediaan kursus online. Pendaftaran dan akses kelas disediakan di website tersebut secara online. Sebelum mendaftar, kita bisa menonton satu kelas di tiap kursus yang dibuka gratis sebagai contoh materi.

Materi dauroh disajikan melalui kumpulan video yang bisa diakses secara online dan terbagi menjadi beberapa kelas kursus. Total ada 11 kursus seperti kursus yang disediakan dalam dauroh online tersebut, yaitu:

  1. Dauroh Akhlaq (membahas kitab Khuluquna)
  2. Dauroh Fiqh Thaharoh (menggunakan kitab Al-Aham Fii Fiqhi Tholibil ‘Ilmi)
  3. Dauroh Hadits (Quthuful Falihin)
  4. Dauroh Pemahaman Da’wah (Da’wah Tammah)
  5. Dauroh Sejarah Biografi Ulama Tarim
  6. Dauroh Sirah Nabi (Jawalur Ruh)
  7. Dauroh Solusi Problematika Masa Kini
  8. Dauroh Tafsir Jalalain
  9. Dauroh Tasawuf (Mahiyatu Tasawuf)
  10. Dauroh Tauhid (Durusu Tauhid)
  11. Dauroh Tazkiyah (Syarh Hikam dan Syarah Qasidah Imam Hadad)

Masing-masing kursus dauroh tersebut berisi 4 sampai 25 video dan beberapa mengharuskan kita untuk mengikuti ujian di akhir kursus. Setelah menyelesaikan ke-sebelas kursus, akan ada ujian akhir yang mencakup materi-materi dari kursus di atas. Jika lulus dari ujian akhir sebelum tanggal 20 September, sertifikat resmi dari Daarul Mushtafa Tarim (yang dibubuhi dengan tanda tangan Habib Umar) bisa kita download di situs tersebut.

Contoh isi materi dauroh hadits pondoksanad.com

Dauroh-nya kan, diadakan sama Daarul Mushtafa luar negeri, entar kelasnya pakai bahasa Arab? Aku awam banget, nggak bisa bahasa Arab….

Oh tydac. Pengajar-pengajar yang mengisi materi dauroh dipilih khusus dari ulama-ulama Indonesia dan Malaysia yang masih murid Habib Umar juga, jadi ya kelas disampaikan dalam bahasa Indonesia. Materi-materi yang bisa didownload di tiap kelas memang menggunakan Bahasa Arab, sih. Tapi nanti di video, pengajar akan mengartikan isi materi tersebut berikut dengan penjelasan-penjelasannya dengan bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Beberapa kelas yang diisi oleh Habib Umar dan beberapa Habib lainnya memang menggunakan bahasa Arab, tapi jangan panik, pihak Pondok Sanad sudah menyediakan interpreter alias alih bahasa untuk mempermudah kita dalam menyerap ilmunya.

Ujiannya susah, nggak?

Nggak. Gampang banget. Ya gimana, kalau kata saya sih, dauroh ini kan ditujukan agar masyarakat bisa mengaksesnya dengan mudah, ramah terhadap masyarakat awam dan agar tiap orang bisa mendapatkan hikmah di dalamnya tanpa kesulitan. Jadi, menurut penilaiain pribadi saya sih, ujiannya masuk ke level mudah. Nggak demanding, nggak ribet. Asal kita mau menyimak tiap kelas dengan penuh perhatian.

Telat taunya nih, gimana kalau saya nggak selesai semua materi dauroh sampai tanggal 20 September? Masih bisa akses materinya nggak?

Bisa, materinya bisa diakses seumur hidup insya Allah. Yang jadi batas 20 September itu ya untuk yang juga ingin mendapatkan sertifikat dari Daarul Mushtafa. Tapi lepas dari tanggal itu, kita masih bisa mengakses tiap kelas berkali-kali tanpa batas waktu dan kuota, insya Allah.

***

Personally, sebagian materi yang disampaikan di dauroh ini sudah saya pahami karena bahasannya cukup dasar dan merupakan materi yang sudah diajarkan selama saya di pesantren. Tapi banyak juga bahasan materi yang baru saya pelajari dari dauroh ini dan tak dapat diingkari bahwa saya belajar lebih banyak dan lebih mendalam dari dauroh ini. Apakah 750 ribu worth it? I’d say, definitely YES. Tidak ada uang yang tersia-siakan selama kita mencari ilmu, apalagi ilmu-ilmu agama begini. Mengikuti dauroh ini menyadarkan saya kembali bahwa dari sisi keilmuan, ketaqwaan dan konsistensi dalam ibadah, saya cuma permen karet basi yang nempel di sol sepatu orang-orang yang lewat.  

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *