Orang Bilang Saya Jelek, Bodo Amat!

Kalau standar kecantikan di Indonesia adalah Raisa-Isyana-Pevita, mungkin tampang saya cuma cocok untuk jadi pembokat di rumah mereka….

Saya punya kesadaran yang cukup untuk menerima bahwa saya memang nggak cantik untuk ukuran standar kecantikan Indonesia yang tinggi-tinggi itu. Kulit saya lebih gelap dari kebanyakan orang di sekitar saya, hidung saya pesek, muka saya gede, badan nggak tinggi, rambut suka rontok pula (well, siapa peduli, toh dipakein jilbab ini) dan saya bener-bener sadar ini dari SD karena saya dikelilingi oleh kawan yang cantik-cantik. Bahkan, dalam salah satu fase hidup yang saya inget waktu SMP, salah seorang temen saya terang-terangan bilang ‘Kamu Jelek!’ di depan muka saya. I fucked up. Tapi ya sudalah~ saya sudah paham sama keadaan tampang saya, even though it still hurt me back then. Baru-baru ini malah dalam satu kesempatan ketika saya ketemu teman lama, dia merhatiin muka saya baik-baik sambil bilang ‘Wangda udah pake lipstick… Wangda tetep pesek ya…’

Ya. Gitu deh.

Saya ngerti. Saya paham. Jadi saya nyengir-nyengir aja. Nggak bikin urusan itu ribet. Lah faktanya begitu kok, bodo amat orang itu ngomongnya diniatin hinaan, sapaan atau candaan belaka. Life still goes on~ Kadang orang bikin itu jadi masalah besar dengan dalih ‘yah nggak harusnya dia gitu, dia harus berusaha jaga perasaan orang, dia harus punya manner, dia ga boleh gini, ga boleh gitu banyak sekali’. Yaaaa, mereka nggak boleh gitu, harusnya mereka gini.

Trus apa?

Kita bakal terus ketemu sama orang yang kayak begini, orang ini nggak bakal jadi orang terakhir yang ngomong gitu ke kita selama emang faktanya tampang kita begitu. That’s why, I try to not fascinated by the beautifying effect on smartphone camera nowadays and the so-called-aesthetic-selfie-post on social media, I try to fully accept what I got. Saya hanya takut filter kamera jahat itu bikin saya terpaku sama standar dan nggak nerima wajah saya sendiri. Mari kita doakan semoga mereka membaca tulisan ataupun dengerin kuliah singkat para manner and beauty influencer yang berusaha merubah kepicikan orang-orang ini. Lalu mereka sadar akan ketidakpantasan itu. Dan akhirnya tobat. Aamiin.

Sebuah Kisah dari Studio Foto

Kisah ini berawal dari prasayrat pendaftaran sidang skripsi yang ngeharusin kita punya pas foto dengan standar pakaian dan background begini begitu. Akhirnya saya, ditemani kawan saya, datang ke salah satu studio foto di dekat kampus yang menyediakan perlengkapan foto sesuai permintaan kampus (kayak jas warna abu-abu, dll). Kata kawan ini sih, studio foto ini nggak bakal ngedit mukamu. Jadi hasil foto itu bakal polosan. Mau ada dark circle di area bawah matamu, ya itulah hasil yang bakal kamu dapet di versi cetaknya. Akhirnya saya memutuskan untuk foto di studio ini saja (nggaaaak bukan karena mereka nggak ngedit muka orang, lebih tepatnya karena tarif jasa mereka lebih murah daripada studio lain).

Dengan make up tipis-tipis manja, saya akhirnya di foto di studio itu. Dengan 3 kali foto doang, saya sudah cukup puas dengan hasilnya, nggak jadi cantik gitu aja sih, tapi saya puas karena ‘ya emang gitu muka saya, mau diapain lagi biar berubah?’. Perlu dicatat bahwasanya, saya punya garis senyum di pipi bagian atas, alias di bawah mata.Jadi kalau saya senyum, bakal muncul itu cekungan di bawah mata, semoga Sodara-sodara yang membaca paham maksud saya. Dipadu dengan bentukan wajah saya yang lebar, garis senyum itu (sekali lagi, kalau pakai standar cantik Indonesia) bikin tampang saya jadi gitu deh. Nah garis senyum ini muncul di hasil foto, dan saya terima-terima aja. Saya nggak ribet sama estetika wajah ala raisa-isyana-pevita.

Tapi, semuanya berubah sejak hasil foto saya jemput keesokan harinya. Foto itu diedit sedemikian rupa sampai pipi saya jadi bener-bener plump tanpa cekungan garis senyum di pipi bagian atas. Mendadak wajah itu jadi flawless. Wajah itu berubah jadi wajah yang menurut saya sekedar ‘mirip dengan wajah saya’ tapi bukan wajah saya sama sekali. Kenapa? Ya karena wajah saya itu udah sepaket dengan kekurangan-kekurangannya. Kalau kekurangannya hilang, jelas bukan wajah saya!

Yah, mungkin mbak-mbak studionya pengen saya bahagia dengan hasil foto yang uda di edit gitu, but i feel taken aback. Saya, ‘dengan alaynya’ berpikir bahwa, saking nggak standarnya sama sekali, wajah ini sampe nggak diterima polosan gitu aja sama si studio foto dan harus diedit sedemikian rupa sampe mendekati standar cantik. Saya sedih, jujur. Dan saya akhirnya paham dengan artis-artis yang protes saat foto mereka ‘dipercantik dan diperseksi’ dalam beberapa momen pemotretan.

Hhhh…

Rasa sedih itu akhirnya benar-benar berpengaruh pada saya. Sampai 2 malam penuh saya mimpi buruk, mimpinya berhubungan dengan ‘wajah jelek saya yang nggak diterima orang lain’. Dan saya bangun di pagi hari sambil mikir, ‘isi kepalaku udah rusak kayaknya, ini beneran racun’. Akhirnya dengan penuh tekad, saya nge print, buku ‘The Subtle Art of Not Giving a Fu*k” yang sudah lama saya punya versi pdf-nya dan belum sempat-sempat saya baca isinya. Dan dari buku itu saya kembali belajar untuk menegaskan bahwasanya;

“Our culture today is obsessively focused on urealistically positive expectations: Be happier, be healthier, be the best, better than the rest. Be smarter, daster richer, sexier, more popular, more productive, more envied, and more admired…. But when you stop and really think about it, conventional life advice is actually fixating on what you lack…. You and everyone you know are going to be dead soon. And in the short amount of time between here and there, you have a limited amount of fucks to give. Very few, in fact.”

So, based on those quotes above, I decide to not giving a fuck to those beauty standards, people opinions, rude things people think-say-do to me.

 

Selasa, 2 Oktober 2018

Written by Someone who relies on her inner beauty 😀

 

Credit to:

Mark Manson, author of The Subtle Art of Not Giving a Fuck

 

You may also like

6 Comments

  1. Hahahah saya suka pos ini dari judul sampai akhir! Bodo amaaattt mau jelek kek, cantik kek, yang penting hidup dan hatinya baik. Qiqiqiqi. Standar kecantikan itu pernah diprotes sama teman saya Oskar pemilik rambut kribo mekar. Katanya begini, “Iklan sampo semuanya rambut lurus, padahal orang Indonesia, terutama di Indonesia bagian Timur ini, rambutnya banyakan kribo dan kriwil! Belum lagi iklan pemutih kulit … hellloooooo emang kenapa dengan kulit hitam?”

  2. Youre not alone!! the art of bodo amatan is precious. aku mulai menerapkan hal yang sama kayak kamu mulai 2 tahun silam ini, setelah sebelumnya gak pernah pede keluar rumah tanpa foundie. Sekarang living myself bareface without foundie on everyday life, bahkan sampe kantor. Mau itu lagi jerawat atau engga.
    Padahal yang bener ya pilih yg bikin kita bahagia (untuk diriku sendiri, yang penting kulit wajah sehat).

    stay strong and inspiring! 🙂

    1. Wah, kalo saya malah ngerasa insecure pas pake make up dengan hasil flawless, kek “Gimana kalau orang yang ngeliat mukaku pas mulus nggak bisa nerima aku pas muka ancur?”. I don’t know, it scares me. Wkwkkwkw. Tapi emang harus bodo amat nih. Bodo di kata jelek, yang menderita yang liat. Titik. hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *