Officially 24

I cherish every moment I had until the very today.


Makin kesini, ulang tahun makin nggak berarti apa-apa buat saya. Iya, saya ulang tahun. Iya, umur saya bertambah. Iya, usia saya berkurang. Kok berasa nggak enak kalo makin deket sama maut dirayain. Wkwkwkw. Tambah tua, saya tambah mikir, kenapa ulang tahun harus dikasih ucapan ‘selamat’. Bertambah usia atau berubah angka bukan sesuatu yang cukup penting untuk dirayakan, kayaknya. Tapi, saya tau. Siapapun yang memberi saya ucapan selamat , tulus atau tidak tulus, orisinil atau modal copy paste ucapan orang lain, ada usaha mereka untuk membahagiakan saya. Jadi, let it be.

Belum seperempat abad, tapi biarkan saya menulis seakan saya sudah mencapai banyak hal dalam hidup.

Di antara banyak doa dalam ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang terdekat saya, ada beberapa yang saya ingat dan saya syukuri dari doa yang tersampaikan tersebut. Ada yang berdoa agar hidup saya selanjutnya hanya tersisa kebaikan saja. Ada yang berharap saya selalu berbahagia, in simple way. Ada yang mendoakan saya semakin zuhud, dan berkumpul bersamanya nanti di surga. Dari sekian banyak doa tentang pencapaian, jodoh, rizki, mimpi dan harapan… saya sadar, yang saya butuhkan adalah kebaikan, kebahagiaan, rasa syukur dan masuk surga. Segala keinginan duniawi saya hanya menjadi bagian dari egoisme dan nafsu pribadi. Saya nggak mendapatkan jaminan jelas tentang keabadian pencapaian itu hingga bisa saya ajukan sebagai bargaining chips buat masuk surga.

Mungkin ini yang namanya realistis, nggak idealis.

Dulu, saat masih sekolah, mimpi saya banyak. Besar-besar. Keinginan untuk berprestasi dan mencapai puncak masih kuat. Tapi, semenjak masuk kuliah, keinginan itu semakin pudar, lalu hilang. Mimpi saya saat ini tidak lebih dari ‘sekedar’ mutqin hafalan Qur’an dan menjadi penulis yang menwarkan kebaikan. Saya tidak lagi ingin jadi presiden, atau menteri pendidikan, kuliah ke luar negeri, berkeliling dunia, menjadi psikolog, dan lain-lain. Saya hanya butuh rasa cukup, syukur dan bahagia. Saya tidak ingin menjadi orang yang namanya tertulis dalam sejarah dunia, atau negara. Saya hanya berharap menjadi orang yang disyukuri keberadaannya oleh orang-orang di sekitar saya, sebagai sosok baik yang tidak tergantikan.

Keinginan-keinginan besar itu ada, tapi tak tercapai. Dan saya mengalah.

Dulu saya sedih, kecewa dan malu karena saya berakhir di sebuah perguruan tinggi yang tidak sekeren kampus-kampus besar yang tenar sesaentaro Indonesia. Semua sepupu-sepupu saya kuliah di kampu-kampus besar itu, dengan jurusan yang tidak kalah kerennya. Dan saya di sini, di sebuah kampus yang nggak terlalu keren, dengan program studi kelas tiga. Ketika lulus, sepupu-sepupu saya menempuh jalur yang tidak kalah keren. Bekerja di perusahaan besar, menempati posisi tinggi, profesi kebanggaan standar masyarakat Indonesia, kuliah S2 di luar negeri pakai LPDP… dan saya di sini, menerima setoran hafalan Qur’an anak-anak SD di yayasan sendiri. Belum menjadi ‘siapa-siapa’ dengan profesi membanggakan dengan pencapaian besar. Ketakutan itu ada, sama seperti kegagalan saya menyusul pencapaian sepupu-sepupu saya yang lain dalam kuliah. Saya mulai galau, apakah pencapaian saya akan berakhir sampai di titik ini, atau ada kemungkinan lain bagi saya untuk menjadi yang tak kalah hebatnya?

Akhirnya saya mengalah.

Saya nggak mau menjadikan sepupu sebagai standar lagi. Saya menerima pencapaian saya ada di sini, di area yang jauh berbeda dengan sepupu saya. Saya harus menerima jalan ini, tanpa berekspektasi tinggi-tinggi. Karena saya tau, saya hanya perlu menjadi orang baik dan menwarkan kebaikan. Saya harus berhenti dan mundur. Karena untuk menjadi orang disyukuri keberadaannya, posisi dan latar belakang tidak menjadi soal.

Tapi, saya masih berharap….

Saya masih berharap agar hati ini tidak goyah. Saya masih berdoa agar kebaikan ini diterima Yang Di Atas. Saya masih bermimpi menjadi orang yang berguna. Dan saya tidak akan protes atau kecewa lagi dengan jalan kebaikan yang dipilih-Nya.  

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *