Merana Saat Karantina tapi Tetap Puasa

Surreal.

Belajar, beribadah dan bekerja dari rumah sudah diberlakukan sebulanan lebih dan belum ada tanda-tanda membaik dalam waktu dekat. Yang jelas tanda keberadaannya sekarang cuma hilal Ramadhan yang akan datang kurang dari seminggu lagi. Karena perkara ini juga, banyak rencana dan keinginan yang juga tertunda (bahkan dibatalkan) karena himbauan #dirumahaja. Segala urusan mendadak jadi remang-remang statusnya gara-gara Covid-19 seekor (yang kemudian membelah diri menjadi jutaan ekor lainnya).

Sebagai orang yang sudah 2 tahun terakhir ini bekerja di rumah, WFH jelas bukan hal yang baru. Rutinitas saya ya tetap begitu-begitu saja. Tetap banyakan rebahannya daripada produktifnya. Tapi kan selama ini saya rebahan dan bermalas-malasan dengan tulus ikhlas, kalau tiba-tiba dipaksa diam begitu saja di rumah rasanya malah kesel. Tidak terima, maunya keluar aja kemana-mana.

Tapi apalah daya, nafsu ini tak sebesar rasa takut nyusahin orang lain. Kalau saya (na’udzubillah) terjangkit virus ini, dengan kondisi saya memang masih ada harapan untuk tetap survive. Lah orang-orang yang mengurus saya ini yang sial. Sial sekali kan, ketiban masalah berwujud Warda yang nggak mau dibilangi dan memilih untuk menawarkan diri sebagai inang virus.

Akhirnya makin jadi saja intensitas bermalas-malasan dan rebahan saya. Apalagi rasa-rasanya aktifitas rebahan sekarang dilegitimasi sebagai amal baik nahi munkar dan berpotensi besar menyelamatkan sesama umat manusia.

 

Tapi ya Nggak Semua Punya Privilese Seperti Saya….

Masih ada banyak orang di luar sana yang harus keluar setiap hari untuk mencari nafkah. Apa itu WFH? Varian beras baru? Buruh yang bekerja dari hari ke hari, pedagang, kurir, ojol dan lain-lain. Nggak keluar rumah, nggak makan. Nggak bisa disalahkan nih orang-orang yang begini. Kalau nggak kerja, siapa yang mau menjamin keberlangsungan hidup mereka? I know, selalu ada Allah. Tapi paham lah ya, Allah memberi pada mereka ya membutuhkan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya juga. Anda butuh tapi maunya kebutuhan turun praktis, langsung delivery dari langit macam hidangan untuk kaum hawariyun? Minimal harus sekelas wali buat dapet hak seistimewa itu.

Waliyullah, bukan wali murid.

Selain itu, ada juga orang-orang tipe kedua yang yang nongkrong-nongkrong cakep tidak pakai jarak minimal 1 meter, bukan karena pekerjaan yang menuntut, ya karena pingin saja. Apakah masyarakat tipe kedua ini salah? Salahnya jelas. Tapi dikritik terlalu jauh dan di bully masal juga sama kurang benarnya. Ada banyak skenario dimana orang-orang itu sebenarnya tau masalahnya tapi tidak benar-benar paham dengan kegawatan kasusnya. Atau merasa tidak relate karena tetangga jarak satu rumah atau anggota keluarganya tidak ada yang meninggal karena virus ini. Balik lagi sama privilese pendidikan dan pemahaman. Hanya karena kita benar-benar paham tentang urgensi masalah ini, bukan berarti kita berhak mencaci mereka yang, bisa jadi, tidak ‘sepintar’ kita untuk menilai situasi. Tegur kalau berani, laporkan ke aparat setempat kalau tidak berani.

Nah masalahnya, ada juga kemungkinan dimana aparat dan perangkat daerah setempat tidak melakukan razia rutin, dibiarkan saja masyarakatnya berceceran dan kumpul-kumpul manja di pojokan kampung. Trus, figur-figur yang dihormati di daerah sekitar seperti tetua dan pembesar agama lokal tidak memberi fatwa yang mendukung. Apa itu corona? Kayak nggak punya iman aja, mati itu di tangan Tuhan! Rapatkan barisan dan mari berdoa bersama dalam perkumpulan yang penuh berkah! Bingung kan, situ?

Ya sudah, mari kita lindungi diri sendiri dan keluarga terdekat dulu saja. Membiarkan orang-orang ini mengambil tempat terlalu banyak di pikiran kita hanya bikin emosi terus. Lebih-lebih di masa karantina begini, emosi mudah saja terpicu hanya karena perkara-perkara kecil. Buka berita online ataupun di TV juga tidak ada yang bagus, berita buruk tentang kematian, kelambanan penanganan dan blunder terus isinya. Akhir-akhir ini efek samping  yang saya rasakan dari keep up kabar terkini hanya ada dua; antara nangis dan murka. Bikin kebahagiaan gampang runtuh saja, memang paling bener rebahan sambil bengong, bagian rumah mana yang belum diberantakin untuk dirapikan kembali….

 

Berita Baiknya, Ramadhan Akan Tetap Datang  

Alhamdulillah, perkara Ramadhan ini default ya, sudah settingan dari langit. Tidak bisa diganggu-gugat kedatangannya. Ramadhan ini mungkin akan lebih gloomy dari Ramadhan-ramadhan sebelumnya. Tidak ada lagi tarawih yang ramai di awal (dan sepi di akhir bulan), atau wacana-wacana buka bersama yang sebagian terlaksana dan sisanya omong kosong belaka, tadarus bersama di langgar dan mushalla kampung sampai sholat Ied juga terancam tidak terlaksana.

Tapi, bagaimanapun kondisinya, Ramadhan adalah kesempatan besar untuk reset. Mulai membentuk rutinitas dan kebiasaan yang lebih baik, menjaga pola makan yang lebih sehat, meningkatkan ibadah dengan lebih intens dan menyeriusi kembali kebaikan-kebaikan di dalamnya.

Mumpung Allah sedang mengobral rahmat dan berkahnya di bulan Ramadhan, saya berharap Allah memberi kemudahan dan keringanan kepada setiap insan yang sedang kesulitan dan berjuang di masa krisis ini. Semoga setiap manusia pada umumnya dan masyarakat muslim pada khususnya bisa melambat sejenak, dan merasakan manisnya suasana dan kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan. Aamiin.

You may also like

3 Comments

  1. Salfok sama gambar di awal tulisan, hehe. Orang Indonesia memang kreatif banget ya. Btw, Ramadhan memang tetap akan datang, mau kita lagi dikarantina atau lagi keluyuran.

    Tapi ya seperti yang mbak bilang itu, kadang suka kesel sama orang-orang yang ngeyel. Disuruh diem di rumah malah mojok berkumpul. Semoga wabah ini bisa cepat pulih lah ya..

    1. Aamiin. Kasian banyak orang yg hilang kerjaannya, yang bandel kumpul2 juga ada, pemerintah juga kurang gesit. Campur aduk masalah jadi tiap baca berita bawaannya stres sendiri. Semoga wabah ini lewat dgn cepat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *