Menanggung Kebodohan Itu Memang Perih, Bruh…

Suatu hari, teman saya yang bekerja menjadi tenaga pendidik di  salah satu rumah tahfidz di Palembang menghubungi saya. Sepertinya bahasan tentang boleh tidaknya membaca al-Qur’an saat sedang berhalangan (bagi wanita) sedang menjadi trending topic di institusi tempat dia bekerja. Masalah itu tidak berhenti di tingkat ‘membaca’ saja, tapi muroja’ah (mengulang kembali) hafalan Qur’an bagi wanita-wanita yang menghafalkan Qur’an. Jadilah topik ini menjadi kebingungan pribadinya.

Dia sudah berusaha untuk mencari pendapat dari orang yang lebih kompeten untuk menjelaskan permasalahan ini dari sudut pandang agama. Tentang dalil yang menjadi latar belakang pengambilan keputusan boleh tidaknya, ikhtilaf ulama yang mengiringinya, perbedaan madzhab di dalamnya dan keputusan yang baiknya diambil dengan berbagai pertimbangan keadaannya. Masalahnya adalah, tidak banyak orang yang dia kenal cukup kompeten untuk menjelaskan rincian dan detail permintaannya. Sehingga dia akhirnya memutuskan untuk mengadu pada saya.

Nggak, dia nggak ngadu dan nanyain pendapat ke saya karena saya ahli, dia curhat doang. Saya mah nggak lebih pinter dari dia urusan ilmu agama meski jebolan dari pesantren yang sama dengan dia (yaialah, dia masuk MAK -Madrasah Aliyah Keagamaan- dan saya masuk SMA, jelas beda  output)

Selain curhat tentang kegundahannya mengenai permasalahan tersebut, dia menyayangkan keadaan dirinya sendiri yang tidak cukup kompeten di bidang ini. Dia merasa sedih tidak cukup baik dalam ilmu agama dan menyesal dengan kemauan belajarnya yang rendah, sehingga saat dibutuhkan seperti ini, dia tidak punya banyak bekal ilmu untuk dikedepankan. Sejauh ini, orang-orang kompeten yang bisa dia ajak berdiskusi untuk masalah ini kebanyakan laki-laki. Dan, bukan karena apa, tapi tentu ada beberapa urusan yang lebih nyaman dibicarakan dan didiskusikan dengan sesama wanita, kan?

Karena dia menyampaikan kegalauan seperti itu, saya jadi turut galau. Iya, ya? Kenapa saya juga tidak bisa diandalkan dalam urusan ini? Kenapa nafsu belajar agama saya rendah sampai pada titik ketika dibutuhkan, saya merasa benar-benar bodoh dan tak berguna? Padahal sebagai wanita, saya harus benar-benar mengerti urusan kewanitaan ini juga. Saya harus tau. Saya harus paham. Karena saya yang melewatinya.

Apa ini yang namanya ujian akhir zaman?

 

P.S: untuk urusan agama, kami memutuskan untuk tidak terlalu bergantung dengan internet atau kebijaksanaan Mbah Google. Karena, well, ilmu agama itu sebaiknya dipelajari dengan baik dari guru yang jelas dengan nasab ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan asal-usulnya. Jangankan internet, salah memilih buku untuk jadi rujukan dalam permasalahan agama saja bisa fatal. Apalagi berguru agama di internet, dimana setan pun bisa menulis sesukanya.

 

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *