Melewati Masa Pencarian Jati Diri (My Version)

Aku pernah bercita-cita buat masuk jurusan psikologi, walaupun akhirnya terdampar di sosiologi yang aku kira bakal nggak jauh beda dengan psikologi (tapi ternyata lumayan jauh juga dengan psikologi). Tak apa, tak masalah. Nggak ada alasan buat berhenti mendalami hal lain walau hal yang kita tekuni sekarang berbeda.

Hal yang pertama kali orang-orang pikirkan dengan psikologi selain ‘ilmu membaca karakter orang’ adalah, pengetahuan buat ‘mencari jati diri pribadi’ juga. Nggak jarang orang-orang mencoba tes psikologi yang bertebaran di berbagai buku dan website. Nggak terkecuali aku. Aku sering nyobain berbagai tes psikologi, mulai dari pertanyaan macam multiple choice sampai menggambar ini itu in order to find out my own personality and character. Aku juga ngelewatin tes keseimbangan otak kanan-kiri, MBTI, fingerprint test (apalah ini namanya) sampai tes IQ.

Selain itu aku coba mencari tendensi zodiak, shio, weton, hari lahir dan lain-lain buat menunjang pengetahuan tentang kepribadian ini.

Dan akhirnya, aku sampai pada sebuah jawaban final.

Aku bukan INFP, bukan anak Scorpio, ber-shio anjing, bukan orang berkemampuan inter-intrapersonal tinggi, bukan si IQ 148, dan bukan siapa atau apa yang orang lain kategorikan dan tentukan.

Aku memutuskan untuk menjadi orang yang tidak ‘sekedar ikut-ikut’ dan terpengaruh dengan ‘kedengarannya dan kelihatannya’. Aku berusaha untuk ingkar dari berbagai hasil ramalan zodiak dan lain-lain sambil menunggu segala bentuk kejutan hidup yang bakal aku lewati.  Aku memaksa diri untuk tidak mempedulikan hasil dari berbagai macam tes kepribadian dan psikologi yang aku lewati dan mendefinisikan diriku sendiri melalu berbagai macam tendensi pribadi dan opini orang-orang di sekitarku.

Karena (finally) aku percaya sebagaimana Allah sudah bikin setiap individu istimewa, aku memutuskan buat ‘menjaga keistimewaan’ itu dengan menolak untuk ‘dikelompokkan dan diputuskan’ sesuai dengan kategori tertentu yang diciptakan manusia. Aku nggak mau dan jelas menolak disebut ‘sama’ atau ‘sejenis’ atau ‘seperahu’ dengan jutaan orang lainnya hanya karena kesamaan kategori tertentu. Aku percaya bahwa, secanggih apapun tes psikologi, keistimewaan individu itu hakiki. Kenapa nggak kita terka sendiri aja karakter kita?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *