Kenarsisan yang Melegenda

Narcissus namanya, seorang pemburu yang juga putra dari pasangan Dewa Sungai Kefissos dan peri bernama Liriope. Menurut kabar yang beredar, sang ibu Liriope mulai mengandung Narcissus setelah dirinya diperkosa oleh Kefissos. Awal yang tragis walau buah tragedi itu lahir sebagai sosok yang tampan tak tertandingi. Saking tampannya dia, seorang peramal datang dan memperingatkan Liriope bahwa Naricissus akan tetap berumur panjang selama dirinya tak pernah melihat dirinya sendiri.

Narcissus tumbuh besar tanpa mengetahui sedikitpun bagaimana wajahnya yang sesungguhnya. Para wanita, entah dari kalangan manusia ataupun peri yang datang untuk memuja dan mengaguminya hanya dia anggap angin lalu dan tak benar-benar ia hiraukan keberadaannya.

Mungkin, para wanita itu gila.

Narcissus makin yakin dengan dugaannya saat salah seorang peri gunung, Echo, yang terus mengikuti dan mengaguminya dalam diam terbongkar persembunyiannya. Narcissus pikir, langkah kaki yang mengikutinya di hutan setiap kali dia berburu hanyalah bagian dari saura-suara rimba. Entah suara hewan melintas, daun yang saling bergesekan saat tertiup angin, atau patahan-patahan ranting yang tersenggol oleh pergerakan makhluk lain. Tapi suara itu terlalu teratur untuk disebut suara rimba, suara itu mengikutinya. Melangkah mengikuti langkahnya, dan berhenti bergerak saat dia diam.

Narcissus curiga. Siapa?

“Siapa di sana?”

“Keluarlah!”

“Mengapa kau mengikutiku?”

Echo yang tak tahan diam dalam persembunyiannya, memutuskan untuk menunjukkan diri. Mengungkapkan kagum dan cintanya pada sang pujaan hati. Dia berhambur keluar dan segera memeluk Narcissus yang kaget dan kebingungan.

“Aku selalu mengagumimu dalam diam dan persembunyian! Bagiku, kau terlalu sempurna untuk benar ada dan nyata di depan mataku. Kupikir, biarlah aku melihatmu dari jauh, agar keindahanmu tak lenyap karena sentuhanku. Tapi rindu dan nafsu ini tak lagi cukup untuk kugenggam, terimalah perasaan juga pernyataan ini dan mari kita hidup bersama dalam cinta yang melenakan…”

Wanita ini gila!

Hanya itu yang terlintas dalam pikiran Narcissus. Bagaimana mungkin, seseorang yang tak benar mengenalnya memutuskan untuk mencintai dan mengikutinya terus-menerus? Itu mengerikan dan jelas ada yang salah di kepalanya. Narcissus sungguh tak mengerti mengapa ‘keindahannya’ menjadi alasan Echo tergila-gila padanya. Dia tak cukup berani untuk mencari tau cerminan dirinya sejak ibunya mewanti-wanti agar dia menjauh dari bayangannya yang bisa membunuh dirinya sendiri.

Ah, mungkin ini maksud Ibu. Wajah ini wajah yang terkutuk, jika orang lain yang melihatnya bisa menjadi gila seperti ini, aku juga pasti tak akan selamat jika harus menyaksikan diriku sendiri!

“Pergilah! Kau gila!” Narcissus melepas paksa pelukan Echo dan mendorongnya menjauh, “aku tak mengerti apa maksudmu dan aku tak ingin hidup bersama wanita yang gila karena wajah terkutuk ini!”

Echo terkesiap kaget. Tak menyangka Narcissus yang dia idamkan menolaknya tanpa tendeng aling-aling. Dia menuduhnya gila karena besarnya cinta yang ia tumbuhkan utuk Narcissus dan penolakan itu menyadarkannya. Tentu saja, ia gila. Dirinya tak pantas untuk bersanding bersama Narcissus yang sempurna. Dari awal, cinta ini memang keegoisan dan kegilaannya untuk memiliki Narcissus seorang diri.

Dalam kehancuran hati dan cintanya yang ditolak keras oleh Narcissus, Echo memilih pergi. Menjauh, terisak lirih sambil menyebut nama Narcissus berkali-kali. Cinta itu masih ada, walau dirinya hancur saat berusaha menggenggamnya. Cinta itu masih sama besarnya, walau ia tau sesungguhnya ia tak berhak memilikinya. Echo hancur dengan kehancuran yang sebenar-benarnya karena cintanya pada Narcissus. Tubuhnya perlahan lenyap, jiwanya raib, tapi isakannya yang lirih menyebut nama Narcissus terus ada. Menggema.

***

Lepas dari gangguan Echo, Narcissus memilih untuk beristirahat sejenak dan melepas dahaga di pinggiran danau. Ia butuh minum, menenangkan diri dari kekagetannya saat ‘diserang’ Echo barusan. Sesaat setelah ia berjongkok di pinggiran danau, mengulurkan tangan untuk meraup air, gerakan Narcissus terhenti. Ada bayangan yang menatapnya balik dari permukaan air danau. Bayangan yang merefleksikan keindahan seseorang, yang, ia yakin tak pernah ia ketahui sebelumnya.

Narcissus terkesima. Awalnya, ia berusaha mencari tau siapa pemilik bayangan itu, tapi tak ada orang lain selain dirinya sendiri dan bayangan itu tepat di hadapannya. Narcissus tak sepenuhnya bodoh tentang konsep refleksi cerminan walau tak pernah bercermin seumur hidupnya. Beberapa kali dia melihat orang lain bercermin walau ia tak pernah mencobanya sendiri. Ia paham bayangan itu tak lain tak bukan adalah miliknya. Refleksi wajahnya.

Seketika Narcissus lupa segalanya. Bayangan itu terlalu indah, terlalu cantik untuknya mengalihkan pandangan dalam sekejap atau sekedar berkedip. Matanya perih dari lamanya ia menatap cerminannya di permukaan air, tapi ia tak kuasa berkedip. Keindahan itu di luar akal sehatnya dan ia tak mampu sekejap pun melepas pandangannya. Narcissus jatuh cinta pada bayangan itu, pada cerminan wajahnya, pada dirinya sendiri. Dia lupa pada pantangannya, pada ramalannya, pada masa depannya. Dalam benaknya hanya ada ketakjuban, kekaguman dan cinta.

Dahaga semakin menyiksa kerongkongannya, tapi ia terlalu takut merusak bayangan itu jika harus meraup air dari permukaan danau. Biarlah ia haus, biarlah ia tersiksa. Asal kindahan ini tetap ada dan tak hilang barang sedetikpun. Narcissus sudah terlanjur cinta.

Dahaga itu membunuhnya, menarik sisa nyawanya dalam siksa. Naricissus akhirnya luruh, jatuh menimpa bayangannya sendiri, hanyut di kedalaman danau dengan tubuh yang lemah. Narcissus akhirnya meninggal, mati dalam dahaga dan cinta. Cinta pada bayangan dirinya sendiri.    

Eliminasi Kesombongan part 1: nggak ada. Saya nggak secakep Narcissus buat sesombong itu. Saya memang sombong, tapi saya nggak buta yah!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *