Kenapa Orang-orang Mudah Mengumpat? (sebuah kebingungan–tidak menyertakan jawaban)

Tulisan ini jelas hanya akan berisi pertanyaan dan kebingungan. Nggak bakal ada jawaban karena sampai sekarang juga saya tetep nggak paham, kenapa orang-orang mudah mengumpat. Yha kalau umpatannya dipakai di saat-saat marah atau kesal, saya kira masih wajar saja karena mungkin saking emosinya seseorang, his brain stop working and he doesn’t find any words that suit the condition of his annoyance better. Jadilah pakai bad words dan cursing remarks, biar singkat tapi nafsu amarah tersalurkan dengan efektif. Bisa jadi, kan? Saya sendiri kalau sudah marah sebenarnya lebih sering pakai sarcastic remarks. Tapi kalau sudah bener-bener nggak habis pikir saking emosinya, keluarlah bad word saya, meski cuma sebatas ‘goblok’ dan sejenisnya.

Tapi saya bingungnya, kenapa orang-orang mudah aja gitu ngomong ‘cok, cuk, njing, goblok, anjir, anjay, buset etc’ di percakapan kasual. Ya beda lah Wang, kan itu maksudnya bercanda aja, ga offensive. Iya saya juga paham, beda tone percakapan, maksud kata bisa jadi beda. Saya nggak ahli dalam tata bahasa dan keanehan yang saya rasakan di sini jelas cuma kebingungan pribadi.

Kalau dalam istilah bahasa enggresnya, orang yang punya tendensi mengumpat begini disebut foul mouth alias mulut busuk. Naaah saya kepo kaaan, bagaimana perasaan dan isi kepala seseorang yang enteng saja ngomong kata-kata di atas, in any kind of occasion. Kenapa orang-orang ‘bermulut busuk’ ini nyaman menyisipkan umpatan di banyak omongannya? Kurang keren kah, kalau pakai kata-kata biasa saat bicara?

Saya pernah baca twit kalau mengumpat gitu rasanya enak. Susah dihilangkan kalau sudah kebiasaan, karena rasanya enak. Lega aja kalau salah satu stressing point kalimatnya pakai umpatan gitu. Kepo saya makin menjadi, beneran enak kah? Seenak apa, sih ngomong jelek-jelek gitu? Pas ngumpat gitu, apa nggak ada semacam perasaan menyesal gitu sudah terbiasa dan membisakan diri bicara jelek (bahkan mau dikata bahasa bercanda dan ‘ga sedalem itu’)?

Kenapa ya? Kenapa?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *