Kembali Rajin Membaca dengan Kindle Ebook Reader

I’ve been addicted to my smartphone this past years.

Ya nggak addicted addicted banget sih, mau ngecek apa juga di hape. Nggak ada hal penting, nggak ada yang ngehubungin juga. Lempeng tiap pegang hape. Main sosmed iya, tapi dengan porsi ala kadarnya. Instagram sengaja disetel buat tempat hiburan doang, jadi isinya bayi-bayi artis dan komik strip. Twitter beda lagi, biasanya buat update berita yang lagi in dan merhatiin para penulis-aktivis-profesional-vokal-critical thinker bicara (dan berantem). Youtube buat nonton abang-abang dan mbak-mbak Idol tampil di panggung dan variety show. Kebanyakan waktu main hape dihabiskan untuk baca novel-novel online keluaran China-Korea-Jepang yang berserakan di internet. Lebih-lebih saat pandemi di mana kita dipaksa dan terpaksa diem anteng di rumah dan meminimalkan interaksi langsung dengan orang banyak, kembali rajin membaca dan mempeluas range bacaan rasa-rasanya jadi opsi paling classy untuk tetap produktif saat karantina.

Tapi kan gimana gitu kalau pegang hape terus. Mau dikata fokus utamamu saat menggenggam hape adalah untuk membaca buku, kelihatannya ya ‘main’ hape aja. Jadi kalau misal suatu saat nanti mata sakit, pusing, mual dan gejala-gejala kesehatan buruk lainnya muncul pada dirimu, orang-orang akan sigap menyahut dengan template andalan; makanyaaa, jangan main hape terooooos! Dikarenakan umur sudah memasukin seperempat abad dan saya yakin organ-organ dalam tubuh ini sudah mulai menurun performanya, saya memutuskan untuk mengambil keputusan besar.

Tidak lagi menggunakan hape untuk berlama-lama membaca buku.

Trus baca di mana kalau nggak baca di hape lagi? Iya, iya… bisa beli buku fisik. Tapi nggak ringkes dan praktis buat ditengteng ke mana aja. Perlakuan ke buku juga lebih ribet karena selain perawatan, dia nggak bisa digeletakin di sembarang tempat. Nggak menghormati ilmu, katanya. Dan entah kenapa, beberapa tahun terakhir ini makin susah konsen saat membaca buku fisik, bawaannya gatel pengen buka hape aja (padahal di hape baca buku juga!). Kalau baca buku di hape malah nggak gampang terdistraksi. Mau ada chat masuk, notif sosmed dan lain-lain biasanya juga saya tinggal. Aneh.

Jadi akhirnya ya beli gadget khusus untuk baca buku aja deh. Beberapa tahun terakhir ini sih, saya sudah mulai melirik-lirik ebook reader seperti Kindle, Kobo, Nook dan sebangsanya disambi merapal doa dalam hati, semoga lekas turun harganya biar bisa beli murah. Tapi apalah daya, ebook reader tak seperti hape yang harganya mudah jatuh kapan saja. Dari beberapa tahun yang lalu saya mengawasi harga ebook reader, anteng aja mereka di kisaran harga yang nggak jauh beda—nggak jauh beda mahalnya.

Saya jadi galau. Mau tetap maksa beli ebook reader atau beli tablet/Ipad aja sekalian? Beda harganya nggak terlalu signifikan tapi fitur bisa beda jauh. Lebih banyak kemungkinan melakukan hal-hal yang produktif dengan tablet juga.

Hah? Hal produktif?

Halah, hal produktif yang kau maksud itu apa, hey? Jangan kau sok berkata bela-beli sesuatu agar lebih produktif kalau kau tau dirimu tak akan serajin itu. Wes lah, beli ebook reader aja. Apa bedanya sama ‘main hape’ kalau tablet yang dipakai? Sama aja seperti hape, ukurannya aja yang rada beda. Kalau ebook reader, setting gadgetnya lebih ramah untuk mata jadi enak dipakai baca berlama-lama. Dia juga minim fitur, distraksi saat membaca buku akan jauh lebih minim daripada memakai hape atau tablet.

Membeli Ebook Reader

Iya, sudah nawaitu beli ebook reader tapi tetap maju mundur karena budgetnya nggak ada. Sudah putar-putar segala marketplace dari yang basisnya di Indonesia sampai luar negeri, tetap saja susah nyari ebook reader yang cocok dengan kantong fakir ini. Ndilalah, saya lupakan saja keinginan beli e-reader itu. Buat apa dicari kalau duitnya nggak ada?

Eh tapi Allah memang maha pengabul hajat. Alhamdulillah berkah Ramadhan, saya mendapatkan uang insentif dari pemerintah khusus untuk guru ngaji yang besarannya cukup untuk membeli ebook reader yang saya inginkan. Sebenarnya di awal tetep galau sih, bimbang antara menyimpan uangnya untuk tabungan atau langsung dibelikan ebook reader? Kalau dibelikan ebook reader, habis seketika itu duit. Jiwa miskin ini meronta-ronta, Sodara-sodara.

Setelah lama bergumul dengan kebimbangan dan nafsu beli yang meletup-letup (hasil dari kepengen yang ditahan selama bertahun-tahun), akhirnya saya memutuskan untuk beli saja lah. Duitnya disimpan juga buat apa (wah, angkuh sekali kalimat ini). Maksudnya, saya sedang tidak memiliki kebutuhan apa-apa, sedang tidak ingin apa-apa dan lain-lain. Duit habis masih bisa dicari, tapi kalau nunda lebih lama lagi, kesehatan mata saya taruhannya. Daripada teronggok begitu saja di rekening, kenapa tidak sekalian dicairkan saja dalam bentuk ebook reader? Toh buat baca buku, ini! Kalau kata Gus Baha, kalau mau alim memang harus bondo besar! Sa ae ngelesnya bawa-bawa kyai….

Kindle Paperwhite 2 (6th Generation)

Dan eng ing eeeng, meet my first ebook reader! Kindle Paperwhite 2 (6th generation)! Well, Kindle Paperwhite terbaru sih sudah masuk angka 4 (10th generation) dan saya beli yang seri kedua, yang keluaran tahun 2013—di tahun 2020! Tapi apalah daya, kalau mau beli Kindle Paperwhite yang brand new kudu siap budget di atas 2 juta, dan duitnya nggak ada. Akhirnya saya beli yang ini, secondhand dan dapat di bawah 1 juta (yhaaa mau bondo besar buat nyari ilmu juga liat kemampuan ya, bisanya beli seken nggak usah maksa beli baru). Jadi yang penting gadgetnya fungsi dengan baik dulu, kalau ada budget lebih ya buat beli ebook isian Kindle-nya aja.

Ebook reader ini (dan ebook reader yang lain juga sih) menggunakan teknologi e-paper atau e-ink yang menjadikan sensasi membaca buku di layar mirip seperti membaca buku cetak, persis seperti membaca tulisan di atas kertas. Layar e-paper juga nggak seperti layar smartphone, dia glare free dan bisa dibaca di bawah sinar matahari langsung tanpa memantulkan bayangan. Dia juga nggak memantulkan cahaya biru, jadi lebih ramah pada kemslahatan mata kita. Sounds good, eh?

Kindle Paperwhite ini juga sudah dilengkapi dengan offline dictionary, jadi kalau kita ketemu kata yang aneh dan sulit dimengerti, tinggal diblok dan bakal muncul pop up window berisi definisi kata itu, provided by Oxford offline dictionary! Saat memblok suatu kata atau kalimat, selain jendela kamus, kita juga dapat pilihan untuk highlight tulisan yang kita mau atau nambah-nambahin note di situ. Nanti kumpulan hasil highlight dan note-nya bisa dibuka juga di dokumen terpisah bernama ‘your clipping’.

Trus bisa baca buku format apa aja di Kindle? Setahu saya sih, dia support format pdf, .mobi, .azw3. Belum bisa support format epub, jadi kalau kita punya ebook format itu, convert aja ke format-format yang mereka dukung. Converternya berserakan di gugel, tinggal pilih yang mana. Nyari ebook di mana? Pilihan utamanya bisa langsung beli di Amazone. Fitur belinya sudah tersedia langsung di Kindle, tinggal klak klik beli (meski kudu sedia kartu kredit biar bisa beli di sana). Suka diskon dan bahkan gratis juga kalau beli ebook Amazone dari akun Kindle kita. Bisa juga beli buku di Google Playbook, tapi ada caranya sendiri sih buat mindah file-nya dan saya kurang paham. Wkwkwkkw. Kalau kita punya file ebook sendiri, bisa nggak dimasukin ke Kindle? Bisaaaa. Tinggal pakai kabel data. Asal sesuai format yang didukung, semua ebook bisa masuk.

Kindle yang saya punya sih, keluaran lama yak. Jadi kapasitas penyimpanannya ‘cuma’ 1.5 GB. Kelihatannya kecil banget? Oh santai, Kindle kan diisi pakai ebook doang, dengan kapasitas segitu mah, diisi ratusan sampe 1000 ebook juga dia Insya Allah masih mampu (salah satu pertimbangan juga kenapa nggak beli yang keluaran terbaru, beli yang kapasitas besar trus ebook isinya 30 biji doang buat dibaca setahun itu kan ngenes). Tapi kalau mau diisi dengan komik (bisa? Bisa!), yhaaa Anda butuh penyimpanan yang lebih lega (kemarin sempet periksa komik One Piece dari volume pertama sampai yang paling update, kapasitas totalnya di atas 8 GB, bok!). Kalau memang ingin dipakai buat baca komik juga, beli Kindle keluaran baru aja, kapasitasnya sudah sampai 8 GB tuh, bisa dipakai untuk audiobook juga.

Baterainya gimana? Ya nggak gimana-gimana hahaha. Beda dengan smartphone atau tablet, karena Kindle cuma dipake buat baca buku, beli buku dan update perkembangan bacaan di Goodreads, dia nggak menghabiskan banyak energi. Apalagi kalau saya setel pencahayaan di level paling rendah (seri Paperwhite ada lampu bawaannya, btw) dan mengaktifkan mode pesawat, dia bisa bertahan lama. Pengalaman sendiri sih, dengan rata-rata membaca 3 jam perhari, saya hanya butuh charge Kindle saya seminggu sekali. Kalau waktu bacanya lebih singkat lagi, bisa bertahan sampai sebulan penuh untuk sekali charging.

Overall, Kindle Paperwhite 2 ini adalah best buy saya tahun ini. Membaca jadi lebih fokus dan tertuntut (yaaa, sudah galau ngebet setahun lebih dan akhirnya beli mahal-mahal, kalau nggak dipakai kan kurang ajar). Nafsu untuk menyelesaikan reading challenge juga mulai meningkat. Kalau Anda pecinta buku, punya budget-nya, dan terlalu capek buat baca ebook di layar smartphone atau PC, beli ebook reader aja!

You may also like