Jurnal Tahfidz: Tips Menghafalkan Qur’an

Judulnya sungguh pasaran dan saya pribadi kurang suka dengan redaksinya. Tapi judul itu memang sungguh mewakili konten. Jadi ya sudahlah. Biar saya tulis post ini agar si blog sedikit lebih bermanfaat.

Saya sih yakin, ada banyak metode dan cara menghafalkan Qur’an yang sudah diracik dan dirangkum dengan lebih profesional oleh para ahli dan influencer hafidz, tapi anggap saja ini pemanis buatan, pengawet tambahan. Untung-untung berguna dan bermanfaat. And here the tips and tricks:

1. Apa Lagi yang Lebih Pantas untuk Diletakkan di Tahap Pertama Selain Niat?

Niat adalah setengah dari perbuatan. Lupa kata siapa.

Saya sebenarnya kurang berkapasitas untuk bicara ‘menghafal-lah dengan niat lurus untuk mencari ridho Allah dan orangtua semata’, karena saya menghafalkan Qur’an 30 juz niat awalnya hanya karena biar bisa lulus dari pesantren dan dapat ijazah SMA. Iyah, ‘serendah’ itulah niat saya. Tapi, saya akan tegas berkata bahwa, saya tidak merendahkan mereka yang ingin hafal Qur’an dengan alasan yang non ‘mencari ridho Allah dan orangtua semata’, lah wong saya gitu juga kok. Hehehehhe, pembelaan diri.

Dalam salah satu referensi penelitian yang saya pakai untuk pengayaan skripsi saya (wew, kenapa tulisan ini mendadak serius), terdapat 3 macam tujuan yang diniatkan oleh anak yang mengahafalkan Qur’an di sebuah pesantren.

1) Menjadikan ‘hafal Qur’an’ itu sendiri sebagai tujuan. Jadi, finalnya ada di sana. Kelar hafal 30 juz, ya beres.

2) Menghafalkan Qur’an dengan niat ibadah. Macam mencari ridho Allah dan orangtua, mempermudah masuk surga, menjauhi dari neraka, dll.

3) Menghafalkan Qur’an untuk mengkritisi isinya. Bukaan, bukan dikritik isinya. Tapi, orang yang menghafal Qur’an ini berusaha untuk mencari tau lebih dalam kandungan Qur’an dan mengaitkannya dengan pengetahuan modern, untuk kemudian dijadikan problem solver masalah-masalah kontemporer. Canggih, yak?

Dalam penelitian saya sendiri, orang menghafal Qur’an bisa lebih variatif lagi niatnya. Saya banyak menemukan anak yang berusaha menghafal Qur’an untuk mendapatkan beasiswa tertentu, disuruh orangtua pula. Ada yang karena ingin ikut kompetisi Qur’an di cabang-cabang tertentu, dan menambah hafalan untuk memenuhi target cabang lomba itu. Ada pula yang meminta anaknya untuk menghafalkan Qur’an agar bisa ‘ikut audisi dan memenangkan hadiah haji seperti yang di TV’.

Tapi apapun niat awalnya, saya percaya bahwa menghafalkan Qur’an adalah proses yang ujungnya hanya ada di titik kematian. Segalanya bisa terjadi di rentang waktu antara ‘mulai menghafal’ sampai ‘mati’. Apakah saya yang niat menghafalkan Qur’an demi ijazah SMA sudah tidak berusaha menjaga hafalan lagi setelah ijazah didapatkan? Ya tidak alhamdulillah, saya masih berusaha untuk memperbaiki dan menjaga hafalan (ya meski lebih sering muncul malasnya).

Menghafalkan Qur’an bagi saya adalah ‘survival of the fittest’. Hanya yang pantas yang bertahan. Orang yang niat awalnya baik untuk memulai menghafal, belum tentu niatnya akan selalu tegak tak goyah dalam prosesnya, trus mati sebagai hafidz Qur’an. Apalagi sekarang godaan macam ‘masuk kerja tanpa tes bagi hafidz, beasiswa kuliah untuk hafidz, kesempatan jadi seleb-hafidz, lomba tahfidz berhadiah ini itu’ sudah bertebaran dimana-mana, hati goyang dikit bakal repot. Itulah makanya, ada istilah ‘memperbaharui niat’. Tak hanya niat awal, pembaharuan niat ke arah yang lebih baik juga sama (atau malah lebih?) krusial. Ya teuteup, mereka yang memulai, menjalankan dan mengakhiri proses menghafalnya (pas mati) dengan niat baik yang tetap kokoh-lah yang utama. Semoga kita semua masuk ke dalam golongan ini yes, Aamiin….

2. Biasanya sih, kondisi dan keadaan mempengaruhi…

Jika kita paling nyaman dalam keadaan sepi dan tenang, ya hafalkan di tempat dengan keadaan sepi dan tenang. Menghafal dalam posisi nyaman, keadaan enak dan hati tenang versi kita pribadi bisa cukup membantu progres menghafal kita. Jika Anda sedang kelelahan dan sedang mengantuk dan butuh istirahat, ya tidur. Jangan dipaksa. Tapi, biasanya kalau ngaji agak lama, saya ngantuk. Well, perlu dibedakan jelas antara ngantuk karenang tubuh memang butuh tidur atau ngantuk karena hawa nafsu. Kalau kantuk melanda karena kita sedang terpengaruh suasana, rehat sebentar. Berdiri dan jalan sejenak, minum air, atau coba mengaji sambil berjalan (saya sih sukanya begini, buat ganti suasana). Kalau duduk diam, bersandar dan mengaji lamat-lamat, memang serangan kantuknya gampang melanda sih.

3. Mulai dari Surat-surat Pendek

Ini umum lah ya. Mulai dari surat-surat pendek, selesaikan juz 30 lebih dulu. Menurut saya, ini menjadi langkah awal pembiasaan kita dalam menghafal Qur’an. Kenapa tak mulai dari juz 1? Ya yang pendek-pendek dulu sajaaa, kalau sudah biasa dan hafal, mudah nanti menghafal ayat-ayat panjang di juz lain insya Allah.

Kita dihadapkan pada proses menghafalkan sesuatu yang berada di luar bahasa ibu kita. Tiba-tiba menghafalkan kalimat panjang dalam bahasa lain mungkin akan lebih sulit daripada kita memulainya dengan kalimat yang lebih pendek. Ketika kita sudah selesai menghafalkan surat-surat pendek di juz 30, tanpa sadar kita telah hafal cukup banyak kosa kata dalam bahasa Arab (ya hafal sama ‘kata’nya doang sih, belum tentu sama maknanya kalau kita tidak barengi dengan pembelajaran bahasa dan gramatika Arab), yang akan memudahkan kita untuk menghafalkan ayat-ayat yang lebih panjang.

Tapi ini pereferensi sih, mungkin Sodara-sodara lebih mudah hafal dimulai dengan ayat-ayat panjang, jadi mulai dari juz 1 dulu. Monggoo….

4. Hafalkan dengan Mengulang Ayat Berkali-kali

Klasik sih ini, cara dari jaman baheula. Tapi akar menghafalkan kan memang begini, orang yang sudah hafal juga masih harus tetap mengulang hafalannya berkali-kali. Biar apa? Biar lengket, Sodara.

Saya sarankan sih, kalau membaca ayatnya, jangan tanggung-tanggung pake bisikan. Takut mengganggu orang sekitar? Pergi ke masjid gih, nggak bakal ada yang protes kalau Anda ngaji keras-keras di sana (asal bukan saat sholat berlangsung dan khatib berkhutbah aja). Sebagian orang (mungkin Anda juga) akan lebih mudah mengingat hafalan tersebut saat mendengar hafalan dari suara sendiri, karena terkadang hafalan kita dalam bentuk visual (ingatan dalam bentuk bayangan objek) terasa samar dan yang mudah teringat adalah suara kita sendiri (atau orang lain) saat mengaji.

5. Masih Kurang Lengket Walau Sudah Pakai Metode Nomer 4? Baca Ini!

Tahapan ini biasanya saya gunakan di akhir, karena walau sudah membaca berkali-kali dengan lantang, saya masih serung lupa. Apalagi dengan urutan ayat, awal dan ujung ayat (yang banyak sekali kembarannya), redaksi yang mirip dan lain-lain. Apakah itu?

Corat-coret Qur’an dan melototin halaman.

Itu hiperbola, tapi memang begitu. Saya selalu menyediakan pensil untuk menandai bagian yang saya lupa (tandanya bisa dalam bentuk lingkari kata, underline atau bahkan arsiran). Tanda itu terkadang masih saya beri garis penghubung ke pinggir halaman yang kosong untuk catatan kecil seperti:

“ini ada juga di juz 1, tapi akhir ayat selanjutnya beda”

“nomer 2”

“ini ngomong tentang makan riba”

Setelah saya corat coret, saya pelototin halaman itu. Tak dibaca, pelototin saja. Saya berusaha merekam halamannya, posisi ayatnya, coret-coretan penanda, catatan kecil dan lain-lain. Hal ini membantu saya untuk mengingat bagian yang saya lupa atau tertukar dengan ayat lain.

6. Sebisa Mungkin, Jangan Gonta-ganti Qur’an Hafalan

Karena, yah, Qur’an itu, kasarnya semacam media yang merekam proses Anda menghafal. Qur’an hafalan saya contohnya, punya banyak coretan dan penanda di bagian mana saya sering lupa dan salah. Saat saya melihat halama-halaman penuh coretan itu, saya mengingat berapa banyak air mata yang saya keluarkan saat tidak lancar saat setoran atau muroja’ah. Saya ingat di bagian mana saya kesulitan saat menghafal, bagian mana yang selalu dicoret muhafidzah saya saat keliru dalam melafalkan ayat, di bagian mana ada square corner kosong yang suka coret-coret dengan tulisan ‘capek’ ‘laper’ ‘pengen pulang’ ‘semangat’ ‘tinggal 2 kaca lagi’ ‘halaman ini ngomongin Nabi Musa lagi’ ‘ayat ini mirip sama yang di juz 3’ daaaaan lain sebagainya.

Banyak tipe Qur’an hafalan yang dijual di pasaran sekarang. Saran pribadi saya sih, pilih yang sudah tersedia terjemahannya, compact dan tak ribet dibawa kemana-mana. Ya sekarang sih app Qur’an juga bisa di-install di smartphone masing-masing. Tapi, sensasi penggunaannya biasanya berbeda dan (mungkin ini masalah preferensi juga) terasa lebih nyaman saat menggunakan Qur’an hafalan kita sendiri.

7. Ini Anjuran sih, Tapi Kalau Bisa…

Belajarlah bahasa Arab. Yang dasar-dasar saja dulu, tidak harus sampai benar-benar mahir macam harus jadi translator dan interpreter. Paham bahasa Arab tipis-tipis akan sangat membantu dalam proses menghafal. Bagi saya, menghafalkan Qur’an bagai menghafalkan rangkaian kisah. Satu ayatnya akan berhubungan erat dengan ayat sebelum dan sesudahnya, juga bagian lain dari ayat yang berbeda. Karena di pesantren saya, pembelajaran bahasa Arab juga cukup intensif, saat menghafalkan Qur’an rasanya semakin terbantu karena kita tau ‘bagian ini bicara tentang ini’ jadi ingatan kita segera terpancing pada sebuah ‘rangkaian kisah’. Bisa Anda coba.

WARNING!

Jangan coba-coba untuk asal terjemah dan menafsir ayat Qur’an kalau Anda belum cukup ilmunya, tak pernah melewati pendidikan yang diperlukan dan berguru pada yang mumpuni. Jangan hanya dengan modal hafal Quran dan bisa bahasa Arab, Anda merasa sudah cukup bekapasitas untuk menafsir ayat dan menyelipkannya sebagai dalil di berbagai argumen Anda. Sudahlah, itu bagiannya para mufasir. Kita yang awam dan fakir ilmu ini berkiblat pada tafsir para alim ulama yang sudah kredibel saja.  

8. Ini harusnya ditaroh di nomer 1, tapi lupa. Jadi ya sudahlah…

Cari guru, ustadz/ah, kyai/nyai yang hafidz Qur’an. Iyah, banyak metode biar bisa hafal Qur’an dengan cara solo (lolololo…) sekarang, tapi pengaruh muhafidz/ah bagi saya itu signifikan banget. Mereka yang memaksa kita buat terus setoran, terus mengulang, memberi amukan kalau hafalannya tak lancar, memastikan cara baca dan hafalan kita benar atau salah, memberi pengarahan dan juga motivasi. Kalau kita belajar membaca dan menghafalkan Qur’an secara otodidak, kita bakal kesusahan dalam memastikan bacaan kita baik dan benar atau tidak. Maka dari itu, sistem ini memastikan ilmu kita ‘kredibel’ sebagaimana kita mendapatkan ilmu tersebut dari guru kita, guru kita dapat ilmunya dari gurunya juga dan proses ini terus sampai pada guru dari kalangan tabi’ tabi’in, tabi’in, sahabat, Rasulullah SAW, malaikat Jibril hingga Allah SWT. Makanya, ada yang namanya sanad Qur’an saat Anda menghafalkan Qur’an. Semacam ijazah ‘kredibilitas’ bacaan dan hafalan Qur’an kita.     

9. Ini Penting, Sumpah!

Minta ke Allah! Mari berdoa yang sungguh-sungguh agar proses menghafal dan menjaga hafalan kita dimudahkan dan diridhoi oleh Allah, agar tak luput itu Qur’an dari ingatan, perasaan dan keseharian, sampai kita mati. Ingat Sodara-sodara, orang bego juga bisa hafal Qur’an selama Allah kasih ijin (saya udah sering lihat buktinya), yang jenius juga belum tentu lancar hafal Qur’an-nya kalau Allah tak kasih. Sejak lahir sampai mati, kita tak pernah punya apa-apa, dan mendapatkan sesuatu bukan berarti kita punya hak kepemilikan penuh atasnya. Jadi jelas, bagian ini penting agar kita semua diridhoi.

Demi apa diriku menulis tipsnya dengan penuh gaya begini, padahal yang nulis juga tak erat hafalannya dan terpuji akhlaknya. Well, yeah….

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *