Jurnal Guru Ch. 2: Ekspektasi Pada Anak yang Menghafal Qur’an

Selama setahun terakhir ini, saya menjadi muhafidzah (pengajar tahfidz Qur’an) untuk anak-anak SD di lembaga TPQ milik keluarga. Macam-macam cerita dari anak-anak yang ingin menjadi hafidz Qur’an ini. Beberapa bahkan dengan terangnya bertanya,

“Mbak, sempet nggak, kalau saya ikut Hafidz Indonesia di TV sebelum kelas 6?”

Masuk TV adalah jalan ninjaku~

Ada 2 kelas yang saya pegang setiap harinya. Kelas sore berisi 5 anak untuk mereka yang baru mulai menghafal dari juz 30 dan kelas malam berisi 17 anak (15 anak SD dan 2 anak SMA) yang sudah mulai menghafal juz 1 ke atas. Tiap kelas punya sensasinya masing-masing. Di kelas sore saya merasa santai dan masih bisa bercanda dengan anak-anak kecil itu, di kelas malam saya harus fokus. Tidak boleh ada distraksi dan harus full konsentrasi. Juz yang saya simak pada malam hari cukup bervariasi, lengkap dengan ulah tiap anak yang ada saja tingkahnya.

Ketika memutuskan untuk mengajar tahfidz anak SD, saya sudah menyesuaikan beberapa mindset sebelum mulai mengajar. Salah satunya yang akan saya bahas di sini adalah mengenai ekspektasi.

Anak SD Jaman Now

TPQ yang dikelola oleh keluarga saya sudah menerima santri di umur 2,5 tahun, jadi tak sedikit dari mereka yang sudah khatam mengaji Qur’an sebelum masuk SD. Umumya, setelah anak khatam mengaji Qur’an, tidak sedikit orangtua yang merasa tidak perlu membuat anak-anak terus mengaji ke TPQ. Mau belajar apa lagi? Tapi berhubung TPQ di rumah juga membuka kelas pasca untuk pelajaran diniah dan tahfidz, beberapa anak yang sudah khatam itu kembali ke TPQ. Kalau kata orangtua mereka, masih SD juga, daripada sore-sore kelayapan main ke mana-mana, baiknya mereka lanjut mengaji saja.

Padahal, kalau saya perhatikan SD sekarang sungguh bikin sibuk anak-anak kecil ini. Saya tidak tahu sejak kapan kurikulum SD jadi begitu demanding. PR semakin menumpuk, buku-buku paket semakin tebal, masuk sekolah pun sampai sore. Maklum, saya hanya sempat bersekolah di SD kampung, maka kaget lah saya dengan gaya SD kampung saya yang juga tampak sama sibuknya dengan full day school macam SD di kota-kota besar sana. Dengan kesibukan sedemikian rupa, saya harus memberi standing applause bagi anak-anak yang masih mau-mau saja disuruh orangtuanya berangkat mengaji ke TPQ. Mereka sungguh lebih gigih dari saya saat masih seumuran mereka.

Menghormati niat baik dan usaha keras anak-anak piyik ini, saya mengucap nawaitu dalam hati. Saya tak akan berharap yang muluk-muluk dan memastikan mereka tidak merasa ditekan saat menghafal Qur’an yang, sesungguhnya tak wajib mereka lakukan ini.

Ada beberapa tahapan yang saya lakukan saat mengeset ekspektasi saya pada tiap anak perihal hafalan mereka.

Mengukur Kemampuan Awal Anak

Saat mereka mulai menghafal juz 30, saya mencoba men-set batas minimal setoran awal mereka sekitar 5-7 ayat. Kalau bisa lebih banyak, lanjutkan! Tapi tidak bisa kurang. Kalau sekiranya dengan batasan ini si anak bisa menghafalkan tanpa kesulitan (atau malah bisa menghafal lebih banyak dari batas minimal), saya akan terus menaikkan targetnya sampai ketemu batas kemampuan anak itu. Contoh, Isabela mampu menghafal sampai 10 ayat per-hari, lebih banyak dari target awal saya. Maka mulai besok, dia akan saya minta menghafal sekitar 10 ayat (bisa lebih atau kurang tergantung panjang ayat).

Lalu bagaimana jika anak kesulitan menghafal 5-7 ayat per-hari sesuai target setoran awal? Ya tinggal diturunkan targetnya, sampai ketemu target minimal paling aman dan nyaman untuk si anak.

Kenapa tidak one day one ayat? Memang kelihatannya cocok untuk anak-anak, tapi saya memutuskan untuk tidak meremehkan kemampuan mereka–nggak, saya nggak bilang metode itu meremehkan, yah? Yang saya maksud adalah, saya menggunakan asas praduga cerdas (ngarang). Semua anak cerdas dan tak akan kesulitan dalam menghafal Qur’an. Lebih-lebih saya percaya bahwa masa kanak-kanak adalah waktu yang paling prima untuk menyerap banyak hal. Dan sayangnya, masa kanak-kanak ini tidak lama. Kalau sekiranya mereka bisa menyerap kebaikan sebanyak mungkin sejak kecil, kenapa tidak? Tentu dengan catatan tanpa adanya unsur ancaman dan paksaan.

Sudahlah, menghafal Qur’an ini tak wajib, tak bisa kita ancam dan paksa anak-anak kecil untuk hafal sekian juz dalam waktu yang singkat. Menjaga mood dan konsistensi anak-anak untuk terus mengaji dan menghafal Qur’an itu masih lebih penting.

Menaikkan Target Secara Bertahap

Biasanya sekitar sebulan sampai 2 bulan setelah awal menghafal, anak-anak mulai merasa nyaman dan tidak lagi asing dengan kegiatan menghafal Qur’an. Tiap ayat berbahasa Arab itu tak lagi tampak sesulit saat-saat pertama menghafal. Setelah terbiasa dan intensitas setoran anak semakin lancar tiap harinya, saya akan menaikkan sedikit target minimal mereka sampai mentok setengah halaman per-hari. Tidak akan saya tambah lagi. Cukuplah untuk ukuran anak SD, boleh jika mereka ingin menghafal lebih, tapi setengah halaman adalah target akhir mereka.

Memberi Apresiasi

Banyak orangtua yang mulai ambisius untuk membuat anak mereka hafal Qur’an sebanyak mungkin. Kebetulan saat melakukan penelitian skripsi, saya melihat ada tendensi dari beberapa lingkaran pertemanan ibu-ibu muda untuk memulai ‘parents talk‘ mereka dengan kalimat pembuka, “anakku ku sekolahkan di SD ini, sekarang sudah hafal segini juz loh”. Lalu disambut oleh ibu-ibu lain, ‘anakku hafal udah segini’ ‘anakku ngafal di rumah aja, nggak usah ekskul tahfidz udah hafal segini tuh’.

Harga diri dan kebanggaan orangtua muda sekarang bukan lagi hanya perkara anak masuk ke sekolah favorit tertentu, tapi urusan hafalan Qur’an juga. Tiap hari hafal berapa ayat? Sekarang sudah hafal berapa juz? Dengan hafalan segitu banyak, anaknya sudah ikut MTQ tingkat apa saja? Menang kompetisi tahfidz apa saja? Dapat free-pass sekolah mana? Kampus mana? Dapat beasiswa, tidak?

Ini. Sungguh. Nyata. Saudara-saudara.

Tapi ya ada saja yang meminta anak mereka menghafal Qur’an, tanpa tau menau anaknya sudah hafal berapa, suka atau tidak, kesulitan atau tidak. Pokoknya ngafal Qur’an ajah, biar berfaedah hari-hari si anak.

Apakah kedua tipe ini salah? Kurang tau. Belum pernah punya anak, jadi kurang bisa bersuara urusan isi kepala orangtua. Takut salah akutu~ Tapi yang saya selalu ingatkan kepada wali para santri yang saya ajar bahwa, sedikit banyak hafalan anak baiknya diapresiasi. Tiap seorang anak menyelesaikan 1 juz hafalannya dan lulus ujian kenaikan juz, saya selalu memberi catatan di buku penghubung pada orangtua berbunyi ‘Selamat! Lulus ujian juz ini, naik ke juz itu’. Tak lupa berpesan pada si anak,

“Sip, udah lulus juz ini. Keren. Nanti pulang ke rumah, kasih tau orangtuamu ya. Minta diucapin selamat. Kalau orangtuanya punya uang, minta belikan es krim. Kalau nggak ada, minta cium di pipi.”

Biar apa? Biar orangtua yang tak tau menau jadi paham kehebatan anaknya yang sudah berusaha dan merasa bangga. Yang tau dan berambisi besar, menjadi ingat untuk bersyukur dengan tiap pencapaian anaknya, sesedikit apapun hasilnya. Saya pikir, apresiasi adalah hadiah terbesar yang dibutuhkan seorang anak dari orangtuanya. Lha wong anak sudah berusaha meluangkan waktu buat ngaji terus menghafalkan Qur’an, nanti-nanti pahalanya dibagi-bagi juga ke orangtua. Trus orangtuanya tidak apresiatif?

Terlalu.

Tapi hafalan anak saya kok, segitu-gitu aja ya? Temennya yang lain sudah hafal segini juz, anak saya belum beranjak dari juz 30. Nggak sesuai dengan ekspektasi saya. Sulit rasanya untuk apresiasi anak, rasanya tidak puas terus.

Selalu ada kasus seperti ini. Apresiasi biasanya memang tak jauh-jauh dari ekspektasi. Kalau sesuai ekspektasi dan harapan, ya mudah saja untuk menghargai anak. Tapi saya sarankan, jangan memasang ekspektasi yang muluk pada anak yang menghafalkan Qur’an. Beban ke anak, beban ke orangtua juga. Kita boleh berharap, tapi tak bisa memaksakan harapan kita pada anak.

Tak jarang ada anak-anak yang masih tetap kesulitan dalam menghafal Qur’an walau berbulan-bulan telah berlalu. Apakah anak ini tak cerdas, tak berbakat dalam menghafal Qur’an? Ah tidak juga. Saya sendiri orang yang pintar (self-acclaimed, demi apa!), tapi saya pernah mengalami kesulitan dalam menghafal Qur’an selama hidup di pesantren tahfidz. Sekitar 3 tahun pertama awal menghafal selama SMP, saya sering menghabiskan waktu untuk menangis sendiri di pojokan masjid karena tidak pernah lancar tiap setoran hafalan, padahal di 3 tahun pertama itu saya tak pernah lengser dari ranking 3 besar satu angkatan di pesantren.

Mulai tahun keempat, saat saya sudah masuk SMA di pesantren tahfidz yang sama, kualitas setoran hafalan saya semakin membaik dan saya jarang menangis lagi sehabis setoran. Dan lucunya, selama SMA itu kepintaran akademis saya mendadak terjun bebas, tak pernah masuk ranking 10 besar di angkatan saat sekolah, padahal kawan seangkatan saya ya itu-itu saja sejak SMP.

Di sisi lain, beberapa kawan saya di pesantren, secara akademis cukup lemah. Terkadang saya berpikir bahwa, sungguh mereka ini kaum paling tak berdaya di sekolah. Tapi untuk urusan menghafal Qur’an, banyak di antara mereka yang kualitas hafalannya lebih lancar dari saya, kuantitasnya pun lebih banyak.

Percayalah, urusan hafal menghafal Qur’an ini sering tak ada hubungannya dengan bakat atau kepintaran. Saya masih percaya, urusan menghafal Qur’an itu berhubungan erat dengan kemauan besar, konsistensi yang kuat, sedikit topping kecerdasan dan yang paling esensial, izin dari Yang Maha Kuasa. Perkara menghafal Qur’an ini memang ‘misterius’ dari sananya. Kita tidak tau benar, apakah kita akan masuk golongan mereka yang mudah menghafal atau mereka yang sulit menghafal. Qur’an ini terlalu suci untuk kita kira-kira dan target seenaknya sendiri. Jangan muluk-muluk, kita tak akan pernah bisa membuat orang lain hafal Qur’an. Yang isa hanya Allah semata.

Tugas orangtua dan pengajar seperti saya hanya cukup bersabar, terus berdoa, tidak menyerah pada anak dan menghargai tiap pencapaian-pencapaian kecilnya.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *