Jurnal Guru Ch. 1: Menghadapi Anak yang Tak Tahu Sopan Santun

Sejak kecil, saya sadar ada banyak orang dewasa di sekitar saya yang tidak suka dan tidak nyaman dengan saya. Tetangga, guru-guru di sekolah bahkan famili pun sering menunjukkan wajah tak enak pada saya. Bukan sekali dua kali saya melihat mereka yang memaksakan senyum kaku atau terang-terangan nggak nyaman dengan kehadiran saya. Bahkan mereka tak ragu menaikkan level kemarahannya kalau saya kebetulan membuat masalah di depan mereka, setingkat 2 tingkat lebih besar dari level marah mereka kepada anak-anak lain yang sebaya.

Sebenarnya saya paham, kenapa mereka seperti itu. Saya terlalu cerewet dan asal ceplos untuk ukuran anak kecil dan tak jarang membuat orang lain sakit hati karena keganasan mulut saya. Tapi percayalah, sungguh, saya tak pernah memilih menjadi anak yang ‘tak sopan’. Saya hanya, well, tidak sengaja saja.

Sejak kecil, saya, simply tidak punya banyak kesempatan untuk berbicara lama dengan orangtua yang, secara alamiah adalah penyaring kebaikan dan keburukan pada anak. Saya terbiasa bermain sendiri dan jarang berada dalam posisi harus bertemu banyak orang dewasa. Akhirnya pemilihan kata, redaksi dan tingkah laku yang saya gunakan menjadi sangat ‘raw’ dan hampir tanpa filter, membuat diri ini sungguh mengesalkan dan menarik untuk dimarahi.

Saat saya di pesantren, tak terhitung banyaknya saya ditegur para ustadzah dan nyai karena ketidaksopanan ini. Saya yang tak paham benar tata krama tiba-tiba harus hidup di lingkungan pesantren di mana kesopanan adalah koentji. Binasalah!

Saat diberi nasehat oleh nyai, saya menatap mata nyai lekat-lekat saat diam mendengarkan karena pernah sekali membaca bahwa menatap mata lawan bicara adalah bentuk penghargaan dan keseriusan dalam mendengarkan. Hasilnya? Diamuklah saya! Tidak sopan, katanya. Kalau dikasihtau guru tuh, nunduk!

Ya mana saya tau kalau teori buku dan aplikasi nyata bisa sejauh itu aturannya? Saya kan hanya anak kecil!

Saat guru marah-marah, redaksi yang beliau-beliau gunakan biasanya tidak jauh dari kalimat ‘kalian tau kalau itu salah? Kalian menyesal atau tidak?’. Saya yang tidak paham ini, jelas menjawab kalimat pertanyaan itu. Hasilnya? Dimarahi lagiii~ Dengarkan kalau orang bicara! Jangan main jawab saja! Tidak sopan!

Ya mana saya tahu kalau ada kalimat tanya yang gunanya untuk improvisasi ceramah dan hanya perlu didengarkan tanpa dijawab? Saya kan hanya anak kemarin sore!

Ada banyak sekali kejadian sejenis yang, saya baru paham aturan mainnya setelah sekolah di pesantren. Dan sampai saat ini, saya masih percaya bahwa saya tak segitu berdosanya sampai dicap ‘tak sopan’ seumur hidup oleh guru-guru saya hanya karena tak tau tata krama njelimet ini (iya, ada beberapa guru yang terus melabel saya sebagai anak yang tidak sopan sampai saat ini dan masih menampakkan wajah tak suka walau saya sudah belajar banyak untuk berubah).

Dari puluhan guru yang sudah mendidik saya sedari balita sampai setua ini, tak banyak dari mereka yang teringat sebagai sosok penuh kasih di benak ini. Sebagian karena memang tidak banyak memberi pengaruh secara kognitif dan emosional, jadi saya benar-benar lupa nama dan sosoknya. Sebagian saya ingat beberapa ajaran baiknya, walau lebih membekas tatapan tak sukanya pada saya. Dan hanya sedikit dari mereka yang saya ingat karena semua kebaikan didikan dan pribadinya.

Guru-guru saya yang membekas di ingatan sebagai karakter yang mendidik baik dan memperlakukan saya sama baiknya, bukan orang-orang yang sepenuhnya sempurna dan ideal. Saya tahu dan paham juga sisi sisi cela dalam diri mereka. Tapi saya ‘memilih’ untuk terus mengingat-ingat dan hormat sepenuhnya pada mereka karena, beliau-beliau memperlakukan saya tak beda dengan anak lain. Mereka kesal dengan ketidaksopanan saya, tapi mereka menyelesaikannya dengan satu kali teguran dan tidak terus menatap saya dengan sorot amarah.

Saya senang dan lega. Saya tidak marah saat ditegur karena saya memang pada dasarnya, tidak tahu sopan santun. Benar-benar secara harfiah, tidak tahu sopan santun, bukan tahu tapi memilih untuk tidak sopan. Tapi saya kecewa saat teguran satu berbuntut panjang dengan wajah-wajah tak suka saat harus berhadapan dengan saya di kemudian hari. Saya tidak seburuk itu. Ada banyak anak lain yang lebih nakal dan kurang ajar dari saya, hanya karena saya tidak sopan ditambah dengan karakter yang ‘tak hangat dan tak menyenangkan’, saya tidak lantas menjadi yang terburuk.


Hari ini, saya duduk menjadi seorang guru. Berhadapan dengan kumpulan anak SD yang belum purna perkembangan otak dan mentalnya. Yang masih butuh orang dewasa untuk memberi tahu mana yang salah dan tidak. Yang memang tidak paham, bukan paham tapi memilih untuk kurang ajar.

Ada beberapa anak yang, persis mengingatkan pada karakter saya saat SD. Anak yang, saya yakin tak bermaksud buruk, hanya terlalu polos dan tak cakap menyaring kalimat. Beberapa kali saya merasa amarah ini meletup-letup, memaksa untuk meledak dan dilampiaskan pada anak-anak ini, sederhana karena mereka ‘tak sopan’.

Akhirnya saya paham, kenapa guru-guru saya dulu memilih untuk tidak menyukai saya sama sekali. Menahan sakit hati saat berhadapan dengan anak-anak bermulut kurang ajar ini, rasanya memaksa diri untuk muntap. Dalam keadaan biasa pun dan anak-anak ini tidak membuat masalah, saya merasakan ketidaksukaan saya menguar pada mereka.

Saya pernah tumbuh dengan rasa curiga dan tak percaya pada orang-orang dewasa di sekitar saya karena sering diberi tatapan tak suka, hanya karena saya tak tahu sopan santun. Saya tak tahu, bukan tak mau. Saya tak bersalah, kenapa harus dibenci? Bukankah saya paham rasanya? Kenapa anak-anak didik saya malah mendapat perilaku yang sama seperti yang saya dulu, lebih lebih dari saya sendiri?

Mereka sama tak pahamnya seperti saya dulu dan mereka hanya butuh satu dua teguran dari saya untuk berubah. Mereka tak akan selamanya menjadi anak tak sopan. Saya yang idiot kalau mengira semua anak kecil harus paham tata krama dan kesopanan bicara dengan sempurna. Saya yang naif kalau membenarkan diri untuk membenci mereka saat mereka alpa dalam bertingkah laku.

They don’t deserve my resentment, at all.

Since then, everytime they say or do something impolite, I try to laugh it off. Menertawakan kepolosan mereka untuk kemudian menegur mereka dengan serius bahwa, hal ini tidak baik, hal itu tidak benar. Baiknya begini, harusnya begitu. Meminta mereka berjanji untuk tidak melakukannya lagi dan menjadi anak yang lebih baik.

Lalu lupa. Amnesia dengan ketidaktahuan mereka hari ini lalu kembali memperlakukan mereka dengan baik esok hari.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *