‘Jangan Pilih-Pilih Teman’: Fight Me!

“Mbok ya jadi orang tuh yang supel, ramah sama semua orang, senyum gitu kalo ke orang lain jangan merengut, jangan pilih-pilih temen, nggak baik!”

Apa statement di atas hanya diucapkan oleh orangtua kepada anak-anaknya yang masih TK-SD atau tetap berlaku sampai kiamat kurang 3 hari? Untuk poin-poin di awal, aku masih bisa relate dengan maksudnya dan itu logis. Tapi di poin terakhir, ‘jangan pilih-pilih teman’ jelas bukan nasehat yang baik, at least for me. Nggak tau deh buat orang yang ngerasa pilih-pilih teman adalah karakter yang nggak baik.

Kemaren, setelah ada kasus mengenai seorang rapper yang (emang pada dasarnya dia kontroversial sih) membuat kontroversi mengenai salah satu k-pop idol yang akan datang ke Indonesia, para netizen Indonesia mulai bergerak untuk meminta official penyelenggara acara agar tidak mengundang rapper ini ke acara si K-pop Idol karena, well, kontroversinya seksis dan menjurus ke pelecehan sih.

Nggak berhenti di situ, setelah acara idol ini dilaksanakan, si rapper membuat pernyataan di medsos bahwasanya ia dikeroyok oleh fans kpop garis keras sekaligus security saat dia mengikuti acara idol tersebut (meski di akhir kisah, dia ngaku kalau bohong dan mancing rakyat medsos aja sih). Pernyataannya juga dilengkapi dengan foto muka bonyoknya di medsos. Maka, kembalilah netizen beraksi, mengkonfirmasi ke pihak penyelenggara dan menyerang si publik figur yang dianggap melakukan firnah sekaligus kebohongan publik. Ealah, ini tulisan macem reportase aja. Gitu dah.

Nggak, aku nggak bakal bahas kasus ini secara mendalam. Yang aku perhatikan dari kasus ini malahan publik figur lain, seorang penyanyi yang (tiba-tiba) turut berkomentar terhadap perilaku kontroversial rapper ini, yang ternyata merupakan ‘teman’nya. Disambi dengan slight promotion mengenai proyek-proyek musik barunya di tahun 2018, dia turut mengkampretkan si rapper yang sudah bikin ribut ini. Dengan metode tafsir wacana analisis abal-abalan yang telah aku terapkan dalam membaca tanggapan si penyanyi ini mengenai kontroversi rapper-netizen-idol ini, aku memahami bahwa dia nggak membenarkan aksi temannya, si rapper ini. Meski nggak disalahkan dengan terang juga sih, kayak yang masalah pertama si rapper terang-terangan mengungkapkan foto si idol bisa dijadikan objek o*ani, penyanyi ini menganggap itu lumrah (karena banyak lelaki yang pasti begitu juga) meski tetap ‘kampret’ karena diungkap dengan terang di medsos.

Dia mengakui kalau di tahun 2018 ini dia punya proyek musik kolaborasi dengan si  rapper dan dia nggak bakal ngebatalin itu hanya karena kontroversi itu. Katanya, kalau urusan profesionalisme, substansi musik yang harusnya di nilai, bukan karakter penyanyinya. Dia juga bilang, meski si rapper ini kampret, dia akan tetap menjadi temannya. Karena nggak harus juga dia benarkan segala perilakunya, esensi teman itu adalah hanya ‘perlu ada’.

Di situ aku ngerasa ada yang off dengan pernyataan ini.

Selama ini, impresi yang terbentuk di pikiranku mengenai si penyanyi ini adalah, ‘sosok yang terang membedakan mana yang salah dan benar, pantas atau tidak, smart, respectable’. Tapi di pernyataan ini, aku pikir dia menempatkan diri di posisi yang abu-abu, ambigu. Jadi aku putuskan buat baca komentar para netizen yang biasanya kreatif dan inovatif, hahaha. Trus para netizen ngomen,

“Bener tuh, temen nggak harus selalu ngebenerin, yang penting ada aja…”

diikuti dengan berbagai komentar yang memuji profesionalisme dan wisdom si penyanyi ini. Tapi banyak juga sih yang nggak sependapat. Sampai akhirnya ada satu komentar yang bikin aku siuman sepenuhnya, hahhaa. Kalau nggak salah bunyinya begini…

“Seorang ayah membawa anak lelakinya yang berumur 8 tahun datang untuk menonton pertunjukan musik. Di sana, penyanyi yang sedang tampil meneriakkan kata ‘anj*ng’, ‘kon*ol’ dll. Sang ayah menutup kedua telinga anaknya dan membawanya pergi dari tempat acara, sambil berjanji dalam hati untuk menjaga anaknya dari berbagai pengaruh buruk orang lain. Apa kabar anak Anda, Mas Penyanyi? Semoga menjadi anak sholeh dan terlindungi dari pengaruh buruk ‘teman-teman’ ayahnya…”

ITU, SODARA-SODARA! ITU!

Di situ aku sadar sepenuhnya, orang harus bener-bener memberi batasan yang jelas antara acquaintance dan friend. Kenalan dan teman. Hubungan dalam jalinan profesionalisme dan ikatan kedekatan.

Aku dari dulu selalu picky dalam urusan menyebut ‘teman’ ke orang lain. Like, ada seorang manusia sebaya, sama-sama wanita, satu uni beda fak, kita kenal dalam suatu acara dan komunikasi basa-basi, kita nggak menemukan kecocokan, setelah itu nggak pernah ketemu lagi. Aku jelas nggak bisa nyebut dia temenku, gaes! Dia tetap orang asing, posisinya cuma berhenti di level ‘kenalan’! Kalau nggak sengaja ketemu di jalan, paling cuma tukar senyum, jabat tangan dan say hi dilanjutkan pertanyaan ‘mau kemana’. Formalitas basa-basi! Karena apa? Kami nggak punya ‘bahan dasar’ yang dibutuhkan untuk saling berhenti, cipika-cipiki, nanyain how’s the life, trus dilanjutkan dengan kalimat ‘nanti aku hubungi ya, lagi buru-buru ini’.

Buat aku, ketika aku memutuskan bahwa si A adalah temenku, aku sudah siap menerima kehadirannya sebagai sosok yang bakal mempengaruhi sepersekian persen dari hidupku. Why? Hubungan pertemanan buat aku nggak se-ideal ‘unconditional love‘. Aku memastikan teman adalah orang yang baik dan memberi pengaruh baik ke aku dan orang di sekitarku, orang yang kelebihannya bisa aku contoh, orang yang bisa aku pertanggungjawabkan kualitasnya untuk masuk ke inner circle-ku, orang yang bisa aku ambil keuntungannya dari semua kualitas karakternya. Karena apa? Ya jelas karena aku nggak mau se-reckless itu ngebiarin sembarang orang mempengaruhi aku atas nama pertemanan. Aku punya tanggung jawab moral buat ngejaga diri (dan orang-orang di sekitarku) dari pengaruh buruk, kok.

Mungkin ini cuma pembenaranku aja sih, excuse dari orang yang emang pada dasarnya nggak ada bakat gaul sama orang lain. Ngelesnya orang yang suka di judge jutek dan stern hanya karena mengidap sindrom Resting Bitch Face.

Tapi, kalau orang asing dengan gampangnya nilai aku buruk hanya karena tampilanku, ngapain dianggep temen? Dia nggak seberharga itu, kok.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *