Jadi Korban Bully

Sekitar seminggu setelah Nyonya Besar berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, saya dan Tuan Besar berangkat menjenguk adik-adik di pesantren mereka di Malang. Di sana saya mendapatkan laporan dari Fia, adik perempuan saya yang sudah kelas XII bahwa Ukik, adik lelaki saya yang masih kelas VIII menjadi korban bullying di kamar asramanya. Pelakunya adalah teman-teman seangkatannya di kamar yang ternyata memiliki postur tubuh dua kali lipat lebih besar daripada adik saya yang cenderung kecil mungil.

Jadi si Fia ini beberapa waktu lalu dapat titipan surat dari Ukik yang disampaikan lewat salah satu staf pengajar di sekolah mereka. Dari surat berisi curhatan itulah, akhirnya Fia tau kalau Ukik selama ini ‘dianiaya’ (maaf, penggunaan bahasa adik laki-laki saya memang terkadang ‘terlalu canggih’, read; hiperbola) oleh teman-teman sekamarnya. Dia menceritakan perlakuan teman-temannya yang kelewatan seperti menjebol lokernya, mencuri jajanan dan uangnya dan tak jarang melempari kepalanya dengan barang-barang jika permintaan mereka tak dituruti.

Oh maaaaan, mereka masih kelas 2 SMP tapi sudah berani nge-bully seperti itu? Oke, bullying memang tidak lihat-lihat umur, tapi, menjebol loker dan mencuri uang dan jajanannya? Itu hitungannya kriminalitas, Sodara-sodara!

Dengan tubuh kecil mungil seperti itu dan hati yang lemah lembut (cenderung penakut) mana mungkin adik saya melawan? Apalagi lawannya memiliki badan dengan ukuran dua kali lipat lebih besar daripada dirinya sendiri. Adik saya (tentu saja dengan bahasanya yang lebay) menyebut perlakuan mereka dengan sebutan ‘kaum yang kuat menindas kaum yang lemah’.

Saat pertama kalinya saya mendengar laporan dari adik perempuan saya tentang keadaan adik lelaki saya, tentunya saya marah besar. Saya sudah mengambil ancang-ancang untuk mendatangi pengasuh yang bertanggung-jawab dengan masalah penempatan kamar dan pengasuh yang memegang kendali dalam urusan peraturan-tata tertib-konseling-hukuman dsb. Saat itu saya hanya berpikir untuk memindahkan adik saya ke kamar dengan populasi yang ‘lebih baik dan beretika’ dan menindak para pelaku bully itu.

Oh, please! Jangan jadikan alasan umur untuk membenarkan tingkah laku mereka atau term ‘kan, masih temen sendiri’ dalam kasus ini. Anak SD juga tau dengan pasti kalau mengambil milik orang lain dengan paksa dan berlaku kasar dengan teman itu tidak benar. Dan satu lagi, teman dalam kamus saya bukanlah orang yang semena-mena menindas hanya karena kenal dan hidup bersama. Bahkan saya sendiri tidak bisa menyebut setiap orang yang saya kenal sebagai teman walaupun kami seumuran.

Jadi saat itu juga saya berbicara dengan Tuan Besar untuk menghadap ke pengasuh membicarakan masalah ini. Maaf, tak ada toleransi untuk bullying yang mengarah pada pencurian seperti ini. Titik.

Tapi mungkin saya berpikir dan mengambil keputusan terlalu cepat. Oke, masalah akan selesai pada saat itu juga kalau saya melaporkan ke pengasuh dan sang pengasuh langsung menindak masalah itu seketika. Case closed. Tapi apa ‘masalah pribadi adik saya’ lantas beres juga? Sepertinya tidak.

Dia hanya keluar dari masalah itu dengan bantuan orang lain dan jika masalah yang sama kembali terjadi di lingkungannya yang baru, apakah dia harus kembali mengadu kepada orang lain dan membiarkan orang lain yang membereskan masalahnya untuk dirinya sendiri? Bisa jadi tapi tentunya tidak benar. Maksud saya, tidak selamanya dia berada pada umur ‘tinggal lapor orang tua dan orang-orang yang mengganggunya serta semua masalah yang menghadangnya akan pergi seketika’. Dia mau tidak mau akan sampai pada saat dimana dia harus menyelesaikan masalahanya sendiri, menghadapi lawannya sendiri, mencari solusi sendiri, mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.

Dan untuk sampai pada tahapan tersebut, saya selalu berpikir bahwa hanya orang yang siap dan bermental kuat saja yang mampu menghadapinya. I mean, what do you expect from a whiny crybaby who can’t solve his own problems? He IS the problem itself!

Saya ingat percakapan saya dengan salah satu kawan yang memiliki cita-cita untuk menjadi sineas kondang tanah air. Saat itu dia sedang menggarap plot naskah untuk proyek film pendek terbarunya dan kami saling bertukar opini untuk mendapatkan ide dan alur cerita yang keren. Tema yang diangkatnya saat itu adalah kasus bullying. Dan dari percakapan itu saya sampai pada sebuah gagasan bahwasanya, tak semua kesalahan dalam kasus bullying berada pada pelaku bully. Tapi korban juga memiliki andil dalam terjadinya bullying tersebut.

Maksud saya, kamu akan terus di bully kalau kamu tidak memberi perlawanan, kan? Kalau tidak berani konfrontasi secara langsung pada pelaku, melaporkan tindakan bully juga sudah termasuk sebuah ‘tindakan’ bukan? Ini semacam jargon terkenal Bang Napi dahulu kala, ‘kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah! Waspadalah!’.

Langkah pertama untuk berani bisa memberi efek besar untuk seterusnya pada diri kita, at least buat saya pribadi.

Sejak kecil saya sudah cengeng dan penakut. Jangankan dibentak, dipelototi orang lain saja saya akan langsung menciut dan mewek nggak jelas. Saya takut pada orang baru. Saya enggan dengan orang bermuka masam. Saya akan histeris saat melihat boneka (okaaaay, it’s really too much but true). Orang tua saya akan kesulitan membawa saya ikut bertamu ke rumah orang lain, berhadapan dengan orang banyak, dll. Dan saya tau hidup saya benar-benar menyesakkan saat itu. Saya ingin hidup tanpa ketakutan dan kekhawatiran tapi saya terlalu takut dan terlalu khawatir untuk tenang.

Saat TK, setiap hari uang jajan saya selalu dipalak oleh preman kelas (sampai saat ini saya masih ingat nama dan wajah anak yang suka memalak saya itu saking membekasnya ingatan itu). Saya sebenarnya tidak yakin apakah dia membully saya atau tidak, karena pada saat itu dia juga seperti penjaga saya, menolong saya untuk melakukan ini dan itu karena saya terlalu takut bahkan untuk bertindak dan menyapa orang lain. Ah, anggap saja dia anak yang perhatian dan suka menolong tapi sifatnya jelek (penggambaran yang ambigu sekali).

Saya masih menjadi penakut saat masuk SD. Tapi saya mulai berusaha untuk berubah, karena menjadi orang yang cengeng dan penakut itu sungguh tidak enak. Setiap hari saya selalu khawatir sebelum berangkat ke sekolah. Apa saya akan bertemu dengan anak kelas yang jahat? Apa saya akan dipalak kakak kelas yang kejam? Apa saya akan menangis hari ini? Apa saya harus berangkat sekolah atau kabur saja? Semua pertanyaan dan kekhawatiran itu selalu berputar di kepala saya setiap akan berangkat sekolah.

Namun akhirnya, saya memulai debut sebagai seorang pemberani setelah saya meyakinkan diri saya untuk memukul anak laki-laki di kelas yang berusaha mengganggu saya dan teman saya saat jam istirahat. Pukulan itu sukses walau saya dipukul balik juga oleh anak lelaki itu. Lalu berakhir dengan kami yang sama-sama menangis.

Dari kejadian ini saya baru menyadari bahwa, ternyata saya tidak terlahir sebagai penakut abadi. Buktinya, saya berani memukul balik anak lelaki yang mengganggu saya. Saya berani melawannya. Saya berani melakukan sesuatu. Saya berani ‘bertindak’. Dan kesadaran itu membuat saya senang sekali dan tentunya menyadari bahwa saya tidak perlu khawatir dan terus-menerus takut. Saya hanya perlu mengulang kembali keberanian itu, mengingat kembali bahwa saya ‘pernah berani’ dan ‘pasti bisa terus berani’. Dan akhirnya saya paham, langkah pertama memang mempengaruhi segalanya. Andai saya tidak memaksakan diri untuk berani pada saat itu, mungkin sampai saat ini saya akan tetap menjadi pribadi yang cengeng dan penakut.

Tapi, apakah saya jadinya menyalahkan korban bullying? Nggak juga, sih. Saya nggak punya hak menganggap kasus ini sebagai masalah ringan. Terkadang ketahanan dan gaya berpikir orang pada suatu masalah bisa berbeda. Bisa jadi suatu masalah akan menjadi hal sepele di mata saya tapi di saat yang sama masalah itu jadi cobaan besar untuk orang lain. Dan bisa jadi pandangan saya hanya berlaku untuk beberapa kasus dan kasus lain harus ditanggapi dengan pemikiran yang berbeda. Iya, kan?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *