Hal-Hal yang Harus Dipersiapkan Jauh Hari sebelum Menulis Skripsi

Tahun depan, adik saya akan memulai perjalanan menulis skripsinya dan dia sudah menyiapkan kebingungannya dari hari ini. Hahahaha. Beberapa mata kuliah yang sekarang dia tempuh juga nggak jauh-jauh dari persiapan dalam rangka menuju penulisan skripsi. Pokoknya, hampir setiap mata kuliahnya mewajibkan mahasiswa untuk membuat proposal penelitian dan sejenisnya.

Berhubung adik saya sudah menunjukkan gelagat serba susah dan sengsara di tiap menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya (dan mulai parno akan kesusahan skripsi suatu saat nanti), saya jadi terpikir menuliskan postingan ini.

Saya rasa, setiap orang yang masuk kuliah pasti sudah paham betul kalau akan berhadapan dengan TA (Tugas Akhir) di tahun-tahun terakhir kuliahnya, entah dalam bentuk karya ilmiah, skripsi, tesis dll. Jadi, maklum lah kiranya kalau mahasiswa mulai mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk menghadapi fase TA yang mahsyur akan segala dramanya ini.

Jadi, mari kita langsung ke poinnya.

1. Mengasah Skill Menulis

Mempunyai skill menulis yang baik berarti menyelesaikan 1 dari 3 persoalan paling utama penulisan TA. Kenapa? Yhaaa kalau tulisanmu bagus, maksudmu jadi lebih mudah tersampaikan dan lebih gampang dicerna oleh pembaca. Kasarnya begini, mau secanggih apapun gagasan penelitian, penemuan dan teori yang sudah kamu siapkan, tulisan yang buruk hanya akan mengaburkan konten tulisanmu.

Beberapa kali saya membantu dosen untuk mengecek teknik penulisan skripsi mahasiswa bimbingannya, mulai dari kawan seangkatan sampai kakak tingkat. Dan akhirnya saya paham, kenapa selalu ada dosen yang hobi corat-coret skripsi mahasiswanya sambil memberi catatan: TULISAN SAMPAH. Tak lain tak bukan ya karena memang tulisannya sampah banget sih. Hahaha.

Ada saja mahasiswa yang kurang paham cara menggunakan tanda baca, huruf kapital, membedakan ‘di’ dan ‘ke’ yang dipisah dan tidak, membedakan bahasa baku dan tidak baku dan seterusnya. Hal-hal teknis seperti ini, mungkin kelihatan sepele saja, tapi kalau Anda ada dalam posisi pembaca (dalam hal ini dosen, misalnya), kesalahan-kesalahan teknis seperti ini tuh distracting banget.

Kenapa?

Pemilihan bahasa (baku atau tidak baku) biasanya menentukan ‘level keseriusan’ tulisan. Ya masa’, situ mau nulis skripsi, yang mana merupakan tulisan ilmiah dengan segala aturan EYD-nya, pakai redaksi santai macam lagi ngobrol santai dengan kawan? Kan nggak cocok sama sekali.

Penggunaan tanda baca biasanya juga mempengaruhi artikulasi saat tulisan dibaca. Kalau penempatan tanda koma, titik dan lain-lain tidak disesuaikan dengan bagaimana tulisan itu harusnya dibaca, maksud tulisannya jadi lebih susah ditangkap. Bisa saja dipahami, tapi ya rancu sekali jadinya.

Terkadang yang membuat skripsi jadi sulit selesai dan bolak-balik revisi, ya karena urusan teknis penulisan ini. Boro-boro revisi konten penelitian, dosen paham maksud tulisanmu pun enggak. Waktu jadi terbuang banyak untuk urusan teknis yang, harusnya bukan masalah lagi untuk level mahasiswa. Di saat yang lain sudah mendapatkan ACC TA nya, kalian masih berjibaku dengan masalah ‘sesepele’ tanda baca dan huruf kapital? Sungguh nggak keren. Percaya lah, punya basic skill menulis yang baik adalah awal dari skripsi yang cepat beres.

Lalu, bagaimana cara mengasah skill menulis yang baik?

Selain memeriksa kembali aturan gramatikal Bahasa Indonesia, banyak lah membaca dan mulai latihan menulis!

Ketika kita terbiasa membaca buku, kita akan semakin peka untuk membedakan tulisan yang baik dan buruk dan perbendaharaan kata kita akan meningkat. Kepekaan dan perbendaharaan ini lah modal awal dari skill menulis yang baik. Sedangkan, latihan menulis akan membuat kita lebih terlatih untuk mengungkapkan isi kepala kita dalam bentuk tulisan. Saya sendiri merasa cukup peka dengan kualitas sebuah tulisan dan perbendaharaan kata saya rasa-rasanya juga cukup luas. Tapi menulis itu soal lain. Sacanggih apa pun ide saya, ketika saya mencoba menuangkannya dalam tulisan, melahirkan paragraf yang baik, ideal, menarik dan benar-benar mewakili ide saya dengan efektif itu sungguh sulit. Saya jelas masih butuh banyak latihan untuk urusan ini, apalagi Anda yang sedang mempersiapkan diri menghadapi penulisan TA (yang aturannya lebih banyak dari sekedar menulis postingan blog). Tak ada jalan lain menuju kemudahan skripsi tanpa rajin membaca dan latihan menulis!

2. Memilih Judul dan Jenis Penelitian yang Ideal

Ideal bagi tiap orang jelas berbeda. Kalau saya sendiri sih, anti dengan judul skripsi dan penelitian yang berbau ‘sulit’. Hahahaha. Sekedar mengingatkan, jangan terlalu terobsesi dengan judul atau jenis penelitian yang sungguh gaya nan mempesona, canggih kelihatannya dan sulit rasa-rasanya. Pilih judul yang sekiranya dekat secara emosional dengan diri kamu. Entah karena kamu paham benar bahasannya, punya modal sosial buat mengerjakannya atau minimal karena kamu benar-benar tertarik dengan temanya. Mengerjarkan TA yang sulit hanya biar kelihatan keren itu sungguh tidak keren. Titik. Hahahaha.

Tapi kalau kamu mau memilih penelitian TA yang canggih begitu juga bukan masalah. Masalahnya adalah, kamu harus tahu benar potensimu. Bukan hanya masalah kapasitas otak, urusan rajin dan ketekunan juga harus dipertimbangkan. Mau kamu pintar nggak pernah lengser dari IPK 4.0 juga, selama kamu punya bakat malas dan hobi rebahan (masalah kedua dari 3 hal yang menghalangi beresnya skripsi dengan cepat), jangan harap TA itu selesai tepat waktu. Nggak semua mahasiswa ‘dibekali’ dosen pembimbing yang rajin meneror progress TA-nya dan biasanya, dosen juga terlalu sibuk untuk intensif mengawal perkembangan penulisan mahasiswa bimbingannya. Mau nggak mau, mahasiswa harus mengandalkan dorongan pribadinya untuk terus tekun mengerjakan skripsi.

Tema dan tipe penelitianmu sulit, kamu sukar mencerna teori dan masukan dosen pembimbing dan gampang terdistraksi selama penulisan? Ucapkan selamat tinggal pada mimpi ‘lulus tepat waktu’.

Saat saya menentukan judul skripsi, sebisa mungkin tema yang saya pilih itu cukup dekat secara personal dengan saya dan saya punya ketertarikan khusus dengan bahasan yang diambil. Saya ‘kan orangnya pemalas akut, kaum rebahan yang tak mudah bergerak pula. Kalau saya nggak memulai skripsi saya dengan tema yang benar-benar saya sukai, sulit buat saya mencari alasan yang kuat untuk terus menekuni pengerjaan skripsi. Tapi yhaaa, ada saja kasus mahasiswa yang nggak bisa memilih TA-nya sendiri dan ditentukan oleh dosen pembimbingnya. Kalau ini, saya kurang paham lagi deh.

3. Kenali Dosen Pembimbing dengan Baik

Ini krusial sih. Kalau kalian kurang mengenal tendensi masing-masing dosen di jurusan kalian, sulit untuk menentukan taktik perang pengerjaan skripsi. Mengenal dosen dengan baik adalah kewajiban setiap mahasiswa jauh sebelum masuk masa skripsi. Kalian harus tau, apakah dosen ini mudah ditemui atau tidak? Tema apa yang merupakan keahlian tiap dosen? Dan approach yang dosen gunakan saat membimbing mahasiswanya seperti apa (ambigu, atau jelas maunya, atau membimbing hanya dengan kalimat motivasi tanpa benar-benar memberi bimbingan teknis, atau kurang mengayomi tapi beringas di ruang sidang, atau malah hobi ngomong ‘terserah’ dan bikin galau mahasiswa?). Semuanya harus dikenali dan patut dipertimbangakan!

Mengenali tendensi-tendensi itu akan membuat kita bisa bersiap-siap dari jauh hari untuk menstrategikan banyak hal. Mulai dari pemilihan judul, pematangan teori atau minimal ibadah yag makin khusyuk di sepertiga malam terakhir karena ternyata apes dapat dosen killer yang jauh dari ekspektasi awal. Hahahahaha.

4. Ibadah adalah Koentji

Sudahlah. Nggak ada support terkuat di dunia ini selain Tuhan Yang Maha Esa. Mau kamu bego urusan tata bahasa, judul penelitian sulit dan dapat dosen killer pula, segalanya bisa dilewati selama Allah kasih jalan. Yang punya kuasa memberi ilmu ya cuma Allah, yang bisa mengangkat kemalasan dan kemageran juga Allah, lebih-lebih melembutkan hati dosen yang rewel dan misterius maunya.


Maka sesungguhnya, tips-tips di atas adalah hal umum yang saya yakin banyak orang sudah paham. Saya tulis sedemikian rupa karena lagi pengen aja. Hahahaha. Semoga bermanfaat

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *