Menjaga Emosi Selama Pandemi

Pandemi dan dipaksanya kita untuk diam di rumah terus memang ujian banget. Saya yang hidup sebelum pandemi ini memang diem di rumah aja juga mulai ngerasain dampak buruknya. Emosi jadi gampang tersulut aja gitu, jadi selektif banget sekarang buka-buka sosmed–menghindar dari berita pandemi-related yang biasanya isi kabar negatif aja. Bawaannya kesulut untuk ngehina semua orang, semua instansi, semua pihak terkait.

There’re so many stupid things going around in this world, terutama pas pandemi sekarang ini. Tapi menghina dan merendahkan kebodohan-kebodohan ini, terutama tanpa tahu benar dengan fakta dan alasan di balik sebuah kebodohan, saya sadari ternyata adalah kebodohan juga. You may find someone out there doing stupid things, even tho he’s already exposed to his stupidity and knew it. Tapi ya tetep aja dilanjutin kebegoannya. Kenapa? Padahal dia tau salah dan yang dia lakuin itu kesalahan, kebodohan. Tapi kenapa dia lanjut aja?

Mungkin karena pengetahuan yang dia dapat tentang kesalahannya hanya berakhir sebagai ‘hal yang dia ketahui’ bukan yang ‘disadari’. Saya baru-baru ini sadar, ada sesuatu semacam ‘momen kesadaran’ untuk suatu pengetahuan agar dia benar-benar relate, terhubung dan rekat dengan pengetahuan itu.

Contoh, saya paham konsep zero waste dan minimalism. Saya tau urgensinya dan usaha-usaha yang harus dilakukan untuk memenuhinya. Tapi ya sekedar begitu saja, cuma tau dan tidak benar-benar melekat sebagai kesadaran yang harus saya penuhi. Kurang relate, belum ada momen di mana konsep ini strike home.

Sama seperti konsep privilege. Saat tau, saya tercengang dan sedikit sadar, memang. Tapi konsep ini tidak benar-benar menonjok kesadaran saya. Not that deep. Tapi pengetahuan ini baru mulai benar-benar menampar saya sebagai sebuah kesadaran ketika saya melihat banyak orang di sekitar saya takjub pada saya hanya karena saya bisa melakukan hal-hal yang (saya anggap) ‘sepele’. Di situ saya benar-benar sadar bagaimana konsep privilege menyentuh berbagai level pengetahuan dan kehidupan. Juga betapa begonya saya karena selama ini menganggap semua kemampuan-kemampuan yang saya miliki itu biasa saja, padahal dia akumulasi dari segala privilege yang sudah dinisbatkan Tuhan pada saya.

Pada akhirnya, pengetahuan hanyalah pengetahuan tanpa kita benar-benar sadari titik intinya. Lalu bagaimana caranya bertemu pada titik inti kesadaran dari sebuah pengetahuan? Bagaimana caranya mentransformasi pengetahuan agar tidak berhenti pada level ‘tau doang’ tapi disadari dan bermanfaat? Weh, ini pertanyaan ribet amat. Saya juga nggak tau, tapi hal yang benar bekerja di saya agar pengetahuan tidak berhenti di level ‘tau’ adalah… jangan merasa ‘penuh’ saat baru mengetahui suatu hal. Kejar terus pengetahuan itu sampai ia benar-benar relate dengan diri dan kehidupan kita. Teruslah baper untuk mengenal kedalaman emosi yang dikandung pengetahuan itu, belajar untuk menyelami lapisan-lapisan ilmunya dan merenung untuk memikirkan kembali sepenting apa pengetahuan ini.

That being said, saya belajar untuk tidak dengan entengnya merendahkan ‘kebegoan’ orang lain. Balik lagi ke poin privilese di mana akses cukup berpengaruh untuk memaksimalkan usaha dalam menyelami pengetahuan. Sebagaimana contoh ngeyelnya banyak orang yang masih tidak memenuhi aturan PSBB dan lain-lain di masa pandemi saat ini. Tentu mereka tau aturannya dan resiko yang harus dihadapi jika tetap melanggar. Tapi apa yang mereka ketahui bisa jadi masih ada di level ‘informasi’, tau doang tapi belum relate benar dengan urgensi dan kedalaman pengetahuan ini. Skenario yang bisa mereka bayangkan dari resiko terkena virus belum se-advance skenario yang bisa dibayangkan oleh orang-orang yang benar paham ilmunya, it simply doesn’t hit home.

Jadi, kamu membenarkan dan membiarkan kebegoan orang-orang ini, gitu?

Ya nggak dipersingkat jadi begitu juga. Kebegoan itu benar adanya dan nyusahinnya, nggak bisa dimaafkan begitu saja karena implikasi kebegoan itu biasanya ngaruh ke orang lain. But what I’m trying to say is, jangan terlalu kesel sama orang-orang ini, mereka punya situasi yang berbeda dari kita, situasi yang mendukung kebegoan ini. Jangan marah-marah terus, kesehetanmu loh. Hahahahha. Mari diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam. Mau nyaci maki orang lain juga kita hanya buang-buang energi. Kalau punya energi sebesar itu buat marah-marah, mending salurkan untuk menegur dan berusaha improve keadaan di sekitar kita, tentu dengan kapasitas kekuatan yang kita punya.

P.S: kesadaran atas dasar kebodohan ini hanya berlaku untuk rakyat. Kalau pemerintah membuat keputusan-keputusan bego, ya mereka jahat aja sih. Sudah di luar konteks yang saya bicarakan, since they got all the resources and access to handle this pandemi better. Ya ndak lucu kalau kebegoan mereka harus dimaklumi oleh rakyat yang aksesnya jauh lebih terbatas ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *