Great Skill I Got in Social Media Era

Di era digital yang serba cepat dan wajib cepat, reaksi ketika menerima suatu info rasa-rasanya kudu ikutan cepet. Apalagi tombol reaksinya juga praktis tersedia deket dengan bagian utama (kayak tombol like, dislike, retweet, share etc.). Kalau rasanya setuju, langsung like. Nggak setuju langsung dislike (bisa juga langsung lawan dengan komen atau quoted retweet sekalian). Dan setelah bereaksi, udah. Scroll untuk membaca info lain buat diserap.

Hold on, my friends.

Kita wajib paham benar perkara bereaksi serba cepet ini ga mesti baik. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan opini, argumen atau wacana-wacana lain yang nyenggol bahasan sensitif. Kalau kita paham diri ini bukan ahli di bidang yang sedang diomongkan, tahan reaksi kita dan zoom out untuk melihat detail bahasannya sebelum bereaksi.

I personally am not a curious person. Lebih memilih buat nggak bereaksi apa-apa atas setiap info dan opini orang lain karena, well, males. Ya gimana dong, rasa-rasanya saat menerima suatu info, saya kudu periksa kronologi masalahnya dari awal dan fakta-fakta pendukung kisahnya baru bisa ngasih reaksi yang baik. Nah di bagian zoom out ini yang saya males banget. Saya lebih memilih procrastinating di laman youtube daripada stay curious untuk hal yang nggak saya minati.

Dan kemalesan ini saya anggap sebagai berkah, wkwkwk. Saya jadi tidak terburu-buru untuk komen sesuatu atau bereaksi apa-apa (untuk kemudian terbukti salah mikir dan mengambil keputusan). Saya baru benar-benar bereaksi jika info tersebut harmless, sekedar candaan yang nggak nyenggol-nyenggol amat, atau infonya trivial sekali. Tapi kalau tiba-tiba saya membaca sebuah pernyataan yang bikin penasaran (contoh: Twitter), the least I do for zooming out is baca komen.

Saya sungguh lebih mencintai fitur komentar di segala sosial media karena dia menawarkan banyak sekali info dan opini tambahan dari orang lain dengan bekgron dan pola pikir yang berbeda. Tentu nggak semua komen cakep dan bisa dijadikan bahan pertimbangan, tapi ya pasti nemu lah pernyataan-pernyataan yang melengkapi info utama atau malah mengoreksi pernyataan si penulis awal.

Terkadang, si orang yang bikin twit awal itu bikin pernyataan tanpa benar-benar mencari tau faktanya. Dan jangan karena mentang-mentang dia pintar atau kita kagumi, kita bisa sembarang nge-like semua pernyataan dia. Pasti, pasti ada suatu masa di mana seseorang bisa salah bikin pernyataan dan kita ga boleh sembarang menelan info dari orang itu.

Nah, dari sini fitur komentar menunjukkan kebaikannya. Orang-orang yang tidak taklid buta dan fanatik pada figur ini akan muncul dan mengoreksi pernyataannya dengan memberi info tambahan atau menegur kekeliruannya. Fitur komentar bagi saya adalah penyelamat dari kesalahan reaksi deh, pokoknya. Beberapa kali saya menemukan pernyataan orang di sosial media yang menurut saya janggal. Kelihatan benar, tapi sepertinya salah. Dari situ saya akan langung loncat pada komentar dan membaca tanggapan orang lain yang bisa memberi sudut pandang yang lebih variatif. Justru terkadang, kesadaran akan sebuah kebenaran (?) ini datang dari ketekunan (jiakh, ketekunan) saya dalam membaca komen. Wkwkkw.

Tulisan ini sepertinya bikin bingung karena rancu banget. Tapi intinya gitu, deh. Jangan buru-buru bereaksi negatif/ positif (lalu membagikannya ke orang lain) sebelum benar-benar mencari tau info lengkap dari suatu hal. Orang bijak itu orang yang nggak buru-buru bertindak sebelum memikirkan kebaikan dan kebenaran akan sesuatu. Walau kita nggak bijak dan ga bakal sampe pada tahap beneran bijak, sok bijaklah dalam berpikir (inget, adil sejak dalam pikiran)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *