For You Who Need to Complain Here and There

Ini namanya, Sindrom Galau Pengangguran Terdidik

Dilansir dari media massa online Pikiran Rakyat, berdasarkan dara Kemenristek, 8,8 persen dari 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana alias sekitar 630 ribu sarjana di Indonesia masih menyandang gelar pengangguran. Dan jumlah itu sangat mengkhawatirkan karena Indonesia sudah mulai masuk pada Revolusi Industri 4.0. Jadi, kalau Sodara-sodara sekalian ada yang baru lulus di paruh kedua tahun ini dan masih nganggur juga, berdoa dan berusahalah karena Anda hanya akan menambah nominal angka 630 ribu sekian itu.

Salah satu kawan saya di kampus, saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan yang bisa dianggap ‘layak’. Kok gitu? Yah, karena bayaran dari pekerjaannya nggak bisa menutupi kebutuhan apapun selain bayar kost per bulan. Dia cuma bisa bayar tempat tinggal, tapi masih butuh subsidi orangtua untuk keperluan makan dan lain-lainnya. Kemarin, saya sengaja ngejenguk dia di tempat kerjanya, mau nanya kabar, meski kabarnya tetep gitu-gitu aja. Setelah saya interogasi, ketahuan lah bahwa setiap ada wawancara kerja di tempat lain, dia selalu tidak berkesempatan buat datang. Selalu ada halangan yang mendesak, macem ribet gitu yang mau dapet kerjaan baru. Nggak jodoh-jodoh.

Dia juga sudah mulai galau, bakal lanjut ngerantau dengan posisi terus membebani orangtua atau balik ke rumah dan nggak ngeribetin ortu. Tapi di rumah ngapain? Nggak ada kerjaan juga. Akhirnya saya maksain dia buat nyari lowongan perkerjaan di instansi pendidikan milik kerabatnya, meski dia rada sungkan gitu karena ingin jalan rizqinya nggak lewat ‘cara-cara kekeluargaan’. Tapi toh, baru bisa disebut nepotisme kalau dia memanfaatkan kekerabatan buat memaksakan posisi yang harusnya untuk orang lain, atau memaksakan jabatan yang bukan kemampuannya sama sekali kan? Kalau sekedar nanya-nanya lowongan dan nggak maksa masuk, sah-sah saja toh…

Di sisi lain, ada teman lain di kampus. Sudah selesai sidang, tinggal menunggu wisuda. Sudah dapat pekerjaan yang layak dan dianggap terhormat. Lalu panggilan kerja juga masih terus datang silih berganti, tinggal pilih sesuai selera. Kerjanya di medsos, ngeluuuuuuuuuuuuuuh aja. Mau berangkat kerja pagi-pagi, dapat sms panggilan kerja dari perusahaan ini, di screenshot, upload status whatsapp, dilengkapi dengan caption ‘ini yang namanya ujian, udah mau berangkat kerja tiba-tiba dapat panggilan kerja’ plus emoticon nangis-nangis kejer. Dapet panggilan kerja dari instansi ini, screenshot lagi, upload status lagi, ngeluh lagi karena penempatan di luar Jawa. Panggilan kerja lagi, bikin status lagi, caption ‘untuk calon mertua, maafkan menantumu yang belum sukses ini’ dalam posisi dia sudah dapat perkerjaan enak dan nyaman tanpa lewat proses lamar-ngelamar kerjaan. Mau daftar CPNS, mondar-mandir kota untuk pemberkasan dan antri berjam-jam, jadi status lagi pakai emoticon nangis-nangis ‘demi kertas selembar ini, aku rela bolak-balik dan antri berjam-jam’.

1kyj4g
Totally dumbfounded

 

Kenapa oh kenapa spesies manusia dengan akal picik dan kebutuhan alay semakin berkembang-biak macem coro di pojokan rumah tak terawat? Kenapa mereka (aku, kamu, kita semua) niat banget nyari belas kasihan di medsos? Padahal hidup kita jelas lebih enak daripada mereka yang beneran hidup sulit sampe nggak punya gadget buat menyaksikan keluhan-keluhan kufur nikmat itu…. Kita nggak semenyedihkan itu buat ‘secara implisit bangga menjadi orang yang nggak bersyukur dapat kesempatan yang lebih baik dari angka 7,7 juta pengangguran’ itu. Kita bagian dari orang-orang yang beruntung punya smartphone se kuota-kuota datanya itu, walau cuma dipake buat ngeluh sana-sini…

Apa mendapatkan perhatian dari kepicikan diri lagi jadi trend ya? Apa upload status tentang keribetan hidupnya (yang sebenernya sepele dan ga penting-penting amat buat diribetin) jadi kebutuhan ya? Apa mempertontonkan kelemahan dan kekufuran jadi keharusan para wanita di medsos? Apa menjadi lemah dan pengeluh di medsos lantas bikin ciwi-ciwi jadi nampak lovable and must be protected?

Kenapa kita harus mengeluh ini dan itu (yang sama sekali nggak pantes dikeluhkan di khalayak ramai), padahal mungkin kita bikin keluhan dan tangisan di medsos sambil senyam senyum mikirin bakal dapat tanggapan dari berapa orang, like dari berapa orang, belas kasihan dari berapa orang? Just… why?

Jumat, 28 September 2018

Written by a part-time jobless

Credit to:

http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih-menganggur-421873

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *