Fear of The Unknown

Manusia, memiliki sebuah ketakutan alamiah. Pada hal yang tak mereka ketahui, pada yang misterius, pada yang tak tertangkap mata dan tersentuh kulit, pada yang tak pasti, pada yang tak logis.


Ketakutan mengarahkan manusia pada tuntutan. Tuntutan untuk melawan. Tak menerima hal yang tak terjelaskan. Menolaknya sebagai sebuah ketidakrasionalan

Ketakutan itu menuntun manusia pada sebuah kekacauan. Kekacauan sistem dan norma karena adanya perlawanan pada hal yang tak mereka miliki ilmunya. Menganggapnya sebagai musuh, tak pantas diterima, janggal keberadaannya dan bahaya dampaknya.

Ada saat ketika manusia terlalu menuhankan ego dan akalnya. Lupa bahwa manusia belum sampai pada puncak masanya. Tak ingat bahwa manusia tak pernah cukup pintar untuk menjelaskan segalanya dengan otak.

Islam datang sebagai penjelas. Pelindung. Naungan bagi mereka yang cukup pintar untuk tau kalau mereka bodoh. Cukup cerdas untuk paham bahwa ia tak harus mengetahui segala hal. Cukup piawai untuk menerima bahwa sebuah soal tak harus muncul jawabannya di saat itu, di masa itu, di kehidupan itu.

Islam melindungi akal dan ego manusia pada sebuah pengabdian, penghambaan, penuhanan terhadap zat yang yg berhak menguasai apa apa yang tak manusia miliki. Islam menuntun manusia pada sebuah penerimaan, tentang kewajiban menjadi pintar tanpa kepongahan tak berbatas.

Islam dan iman membuat manusia tau, harus ada penyerahan diri dan penerimaan atas kebodohan pribadi. Hingga manusia tau caranya, untuk hidup cukup dan bahagia tanpa terlalu risau oleh logika. Karena jawaban, tak harus ada sekarang dan terjelaskan hari ini.

Manusia tidak pernah sampai pada puncak masanya. Dunia berkembang, ilmu pengetahuan meluas, jawaban bermunculan. Dan manusia yang Islam dan iman memilih untuk belajar keras tanpa harus jadi budak logika.

Penjelasan akan selalu datang. Jawaban akan selalu muncul. Mungkin esok, lusa, atau 100 tahun lagi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *