Cinta Ketenangan, Cinta Uang

Aku suka sekali dengan uang.

Sebenernya, siapa sih yang nggak suka uang? Kalo bahasa kerennya sekarang sih, money rules everything. Kalau masih ada orang yang nggak tertarik sama uang dan segala macam harta dunia lainnya, orang itu pasti spesies antik dan harus segera dijaga kelestariannya. Secara, tipe orang yang begitu mah sudah langka di dunia saat ini. Rata-rata sudah pada berpulang dan menempati tempat yang baik di sisi-Nya, in syaa Allah.

Jadi, kemarin ini aku sibuk menggalau ria karena uang di ATM tinggal 200 ribu (doang). Sebenarnya masih lumayan banyak ya? Yah memang dasarnya aku aja yang suka panik kalau uang di ATM nggak menyentuh angka 500 ribu ke atas (ih, anak presiden juga kagak, lagak udah kayak sosialita).

Aku seketika bingung, gundah gulana, sibuk mengkhawatirkan masa depan aku yang seakan-akan sudah bisa dipastikan kesuramannya. Besok sarapan makan apa? Makan siang dengan apa? Malam hari makan lauk apa? Bagaimana kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak dan aku harus merelakan uang 200 ribu itu pergi seketika? Bagaimana kalau… kalau… kalau…. Dan banyak ‘kalau’ lainnya. Iya, aku kelewat parno sama hal-hal yang akan datang dan belum tentu akan terjadi menyangkut masalah keuangan. I mean, siapa sih yang nggak? Rata-rata orang pasti panik kan kalau uang menipis dan masa depan masih belum jelas. Banyak kekhawatiran berputar-putar di kepala.

Jadi, aku milih duduk dan bermain hape untuk mengalihkan pikiran sesaat. Sampai ketika aku memeriksa pesan di BBM dan merhatiin feed di timilene BBM, aku nemuin sebuah foto yang kece. Foto yang dijadikan display picture oleh salah satu kawan di kampus. Foto yang menampilkan seorang tua renta yang duduk menjaga buah-buahan dagangannya yang diletakkan di atas gerobak. Foto yang sederhana dan sebenarnya nggak terlalu menarik sih. Tapi, itu foto yang buat aku  berpikir lagi bahwa semua kekhawatiran aku tentang uang dan masa depan sama sekali nggak berguna.

Foto seorang tua ranta dengan dagangan di atas gerobak yang bertuliskan, ‘kayfa akhaafu bil faqri wa ana ‘abdul Ghanii’.

Bagaimana aku takut akan kefakiran sementara aku adalah hamba Sang Maha Kaya?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *