Menanggung Kebodohan Itu Memang Perih, Bruh…

Suatu hari, teman saya yang bekerja menjadi tenaga pendidik di  salah satu rumah tahfidz di Palembang menghubungi saya. Sepertinya bahasan tentang boleh tidaknya membaca al-Qur’an saat sedang berhalangan (bagi wanita) sedang menjadi trending topic di institusi tempat dia bekerja. Masalah itu tidak berhenti di tingkat ‘membaca’ saja, tapi muroja’ah (mengulang kembali) hafalan Qur’an bagi wanita-wanita yang menghafalkan Qur’an. Jadilah topik ini menjadi kebingungan pribadinya.

Continue Reading

Thesis Escape: Strayed in Banyuwangi (Part 1)

Berjalan tanpa rencana matang di kota orang adalah salah satu keinginan yang bener-bener aku impikan. Sensasi nyasar, nggak tau arah, ngerasa asing dan clueless menimbulkan efek excited buat aku secara pribadi. Well-planned journey bukan hal yang beneran menarik buat aku, nggak ada surprising effect­-nya sama sekali. Jadi, perjalanan macam biksu Tong San Chong ke barat untuk mencari kitab suci dan Gon Freecs yang berusaha menemukan ayahnya (atau Hachi yang nyari mamanya) jelas jadi inspirasi terbesarku buat menjelajah dengan satu tujuan tanpa list ini itu. Cukup pasang sau tujuan, entah apa aral rintangannya nanti, pikir belakangan!

Continue Reading

Cinta Ketenangan, Cinta Uang

Aku suka sekali dengan uang.

Sebenernya, siapa sih yang nggak suka uang? Kalo bahasa kerennya sekarang sih, money rules everything. Kalau masih ada orang yang nggak tertarik sama uang dan segala macam harta dunia lainnya, orang itu pasti spesies antik dan harus segera dijaga kelestariannya. Secara, tipe orang yang begitu mah sudah langka di dunia saat ini. Rata-rata sudah pada berpulang dan menempati tempat yang baik di sisi-Nya, in syaa Allah.

Jadi, kemarin ini aku sibuk menggalau ria karena uang di ATM tinggal 200 ribu (doang). Sebenarnya masih lumayan banyak ya? Yah memang dasarnya aku aja yang suka panik kalau uang di ATM nggak menyentuh angka 500 ribu ke atas (ih, anak presiden juga kagak, lagak udah kayak sosialita).

Aku seketika bingung, gundah gulana, sibuk mengkhawatirkan masa depan aku yang seakan-akan sudah bisa dipastikan kesuramannya. Besok sarapan makan apa? Makan siang dengan apa? Malam hari makan lauk apa? Bagaimana kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak dan aku harus merelakan uang 200 ribu itu pergi seketika? Bagaimana kalau… kalau… kalau…. Dan banyak ‘kalau’ lainnya. Iya, aku kelewat parno sama hal-hal yang akan datang dan belum tentu akan terjadi menyangkut masalah keuangan. I mean, siapa sih yang nggak? Rata-rata orang pasti panik kan kalau uang menipis dan masa depan masih belum jelas. Banyak kekhawatiran berputar-putar di kepala.

Jadi, aku milih duduk dan bermain hape untuk mengalihkan pikiran sesaat. Sampai ketika aku memeriksa pesan di BBM dan merhatiin feed di timilene BBM, aku nemuin sebuah foto yang kece. Foto yang dijadikan display picture oleh salah satu kawan di kampus. Foto yang menampilkan seorang tua renta yang duduk menjaga buah-buahan dagangannya yang diletakkan di atas gerobak. Foto yang sederhana dan sebenarnya nggak terlalu menarik sih. Tapi, itu foto yang buat aku  berpikir lagi bahwa semua kekhawatiran aku tentang uang dan masa depan sama sekali nggak berguna.

Foto seorang tua ranta dengan dagangan di atas gerobak yang bertuliskan, ‘kayfa akhaafu bil faqri wa ana ‘abdul Ghanii’.

Bagaimana aku takut akan kefakiran sementara aku adalah hamba Sang Maha Kaya?

Continue Reading

Jadi Korban Bully

Sekitar seminggu setelah Nyonya Besar berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, saya dan Tuan Besar berangkat menjenguk adik-adik di pesantren mereka di Malang. Di sana saya mendapatkan laporan dari Fia, adik perempuan saya yang sudah kelas XII bahwa Ukik, adik lelaki saya yang masih kelas VIII menjadi korban bullying di kamar asramanya. Pelakunya adalah teman-teman seangkatannya di kamar yang ternyata memiliki postur tubuh dua kali lipat lebih besar daripada adik saya yang cenderung kecil mungil.

Continue Reading

2018 .Beginning.

My days in 2017 was one of the most complicated years I’ve been through. I joined 2 prestigious competition, one in national scale for college students and the other was East Java scale. It was a good experience for me even I still couldn’t made it to the final. But, who cares? As long as I get the chance, I wouldn’t think any longer. The winner doesn’t exist without the losers anyway. And yes, I gave the opportunity to the others to be a winner. Well,  I’m a modest and humble person, by the way.

But unfortunately I still couldn’t get rid my laziness. Sun rays and exhaustion still be my number 1 and 2 enemy. And, if I can choose which one, get up from bed and doing something outdoor or catch my dreams via sleeping, well… I prefer the second one.

But, it’s 2018. A whole new year. A brand new year. A start to another new days. I couldn’t stop myself for hoping an evolution within myself, to be a better one. I wish I can earn money. Make a living. And being independent financially.

Well, I better get hurry to get rid my laziness.

Continue Reading

One of The Most Inspiring Thing My Lecturer Told Me

“Otak manusia itu sekuat apa, sih? Kamu bisa apa dengan kemampuan otakmu yang sekarang? Otak kita nggak sehebat itu buat menghadapi segala masalah rumit, Mbak. Jagankan masalah masyarakat umum, buat ngatasin masalah diri sendiri paling hanya sedikit yang bisa otak kita lakuin buat nyelesain masalah itu. Makanya kita butuh baca! Kita butuh berdiskusi dengan orang lain! Kita butuh bertukar pikiran! Kita harus kasih makan otak kita, drill otak sampai benar-benar terpakai. Nggak akan pernah cukup kita menyelesaikan masalah hanya dengan kemampuan otak yang, jangankan setengah-setengah, 10% aja belum tentu kepake. Jangan sombong dengan isi kepalamu, sampai matipun kamu nggak akan pernah menyelesaikan semua masalah di bumi, paham semua persoalan dan mengerti segala disiplin ilmu. Dengan kemampuan gitu masih main-main? Baca 4 jurnal seminggu aja males? Populasi orang bodoh udah tinggi, Mbak-Mas! Nggak usah menambah angkanya!”

 

Disampaikan dengan tenang, tanpa unsur bentakan dan amukan.

Continue Reading

2017 .End.

Tahun ini menjadi tahun yang cukup menarik. I’ve been through many ups and downs. Kalau di rekap, kejadian-kejadian yang aku lewati tahun ini cukup beragam dan nggak monoton seperti yang sudah-sudah.

Continue Reading

Karena Aku Teman

A friend can be astrangerjust because of a jealousy.

Sometimes, my friends luckier than me, sometimes they can afford easily the things that I’m craving for, sometimes they look like ‘backstabbing’ me with their luck and happy life.

But they’re my friends. Friend is a precious thing. Something that I should cherish and treasure well. And they don’t deserve my jealousy and narrow-mind.

But I am their friend. I’ll silently bury my jealousy, don’t reveal any status updates which indicating my pathetic side and playing victim over their happiness. Everything is okay and I wouldn’t bring them any unpleasant feeling. Let them feel happy cause their luck isn’t their fault, at all.

And because we’re friend, we’re being so considerate to each other.

 

A day after my thesis proposal getting wrecked

Continue Reading

Melewati Masa Pencarian Jati Diri (My Version)

Aku pernah bercita-cita buat masuk jurusan psikologi, walaupun akhirnya terdampar di sosiologi yang aku kira bakal nggak jauh beda dengan psikologi (tapi ternyata lumayan jauh juga dengan psikologi). Tak apa, tak masalah. Nggak ada alasan buat berhenti mendalami hal lain walau hal yang kita tekuni sekarang berbeda.

Continue Reading