Faris yang Ingin Masuk TV dan Pantang Menyerah

Faris namanya. Salah seorang anak didik saya di kelas tahfidz. Dia adalah anak yang memulai karir menghafal Qur’an-nya dengan satu jalan ninja: tampil di acara Hafidz Indonesia RCTI. Pokoknya, sebelum lulus SD, dia ingin mencoba peruntungan masuk TV di Bulan Ramadhan. Dan saya, sebagai gurunya harus mendukung serta memfasilitasi keinginannya.

Hari-hari pertama mulai menghafal, Faris di mata saya bukan anak yang luar biasa berbakat. Dia memang pintar, tapi bukan tipe yang akan membuat saya tercengang dengan kemampuan menghafalnya. Beberapa kali setorannya saya beri nilai ‘Kurang Lancar’ di buku penghubung orangtuanya.

Tapi intensitas kelancaran setoran Faris mendadak meningkat hanya karena satu hal: saya memujinya secara khusus, sekali setelah setorannya lancar.

“Nah, kalau ngajinya lebih banyak, kan setorannya lebih lancar. Kalau ngajinya rajin, setorannya lancar, kamu makin ganteng, Faris. Kamu harus semangat terus. Kalau kamu rajin, sebelum lulus SD bisa nih ikut Hafidz Indonesia di TV.”

Dan Faris pun luluh.

Entah terbayang pujian saya atau iming-iming masuk TV, Faris jadi hobi menghafal. Sepulang sekolah, dia akan sibuk mempersiapkan hafalannya untuk disetorkan pada saya di sore hari nanti. Hafalannya juga mulai melebihi batas minimal harian yang saya pasang padanya dan semakin hari, hafalan Faris makin banyak dan lancar.

Karena perkembangan pesatnya ini, saya jadi terus mengingatkan diri dalam hati untuk memuji Faris secara berkala. Bisa jadi pujian saya adalah pemicu utama rajinnya Faris (walau sepertinya nafsu masuk TV-nya yang lebih mendominasi). Saya ingin kebiasaan dan pencapaian baik ini terus konsisten dan Faris tetap selalu merasa istimewa tiap berhasil menyelesaikan setoran dengan lancar.


Selain konsistensi dan keistiqomahan Faris dalam mengaji, satu hal yang benar-benar saya apresiasi dari Faris adalah kemauan kerasnya untuk berusaha dan pantang menyerah.

Terdengar klise? Oh tidak.

Entah disadari atau tidak, ketika menyetorkan hafalan, banyak anak yang yang tidak mau repot-repot berpikir lama untuk mengingat hafalan yang dia lupakan. Misal dia lupa dengan satu ayat saat setoran, dia akan diam sejenak untuk mengingat. Jika dalam 5 sampai 10 detik anak ini belum ingat dengan hafalannya, dia akan menyerah dan menatap saya menunggu bantuan. Dan bukan anak-anak saja, saya juga punya tendensi seperti itu dulu saat menghafalkan Qur’an.

Tapi Faris tidak seperti itu. Saat dia lupa dengan satu ayat ketika setoran, dia akan berpikir lama untuk mengingat-ingat ayat tersebut. Yang saya maksud lama adalah, sungguhan lama. Tidak sekedar setengah menit, dia bisa saja diam selama 5 menit untuk mengingat-ingat hafalannya (dan tidak mengijinkan saya untuk memberitahunya). Dan lebih ajaibnya lagi, dia bisa ‘memanggil ingatan’nya kembali tanpa bantuan sedikit pun!

Saya sendiri tidak bisa membayangkan diri saya duduk setoran hafalan di hadapan muhafidz/ah dalam waktu yang lama dalam diam untuk mengingat ayat yang saya lupakan. Tekanan karena berhadapan dengan guru dan perasaan ‘ditunggu’ akan membuat konsentrasi saya buyar dan akan sulit bagi saya untuk mengingat ayat yang hilang itu.

Tapi Faris mencontohkan pada saya bagaimana definisi dari istilah ‘pantang menyerah’ yang sesungguhnya. Misi kamu hanya satu. Pakai konsentrasi penuhmu untuk mencapai tujuan itu. Jangan merasa terganggu dan tertekan akan hal-hal yang, belum tentu buruk dan terjadi. Niscaya, misimu akan tercapai.

Continue Reading

Cinta pada Good Day yang Tidak Bertepuk Tangan

Saya pecinta kopi. Yang tidak sejati, jelas. Saya tak mengenal banyak varian biji kopi, cara penyeduhan lebih-lebih penyajiannya. Pencapaian terbesar saya yang berbau kopi hanyalah penelitian masyarakat petani kopi Arabica di suatu daerah di Situbondo, dulu saat kuliah. Dan saat disuguhi kopi luwak asli dari tempat itu pun, saya tak bisa meminumnya sampai habis.

Hanya satu alasan kenapa saya berani menyebut diri sendiri sebagai pecinta kopi, sederhana karena saya wajib minum kopi tiap hari. Kopi adalah penguat. Doping saya dalam menyambut hari. Tanpa kopi, seluruh organ tubuh saya sulit untuk berfungsi normal di waktu-waktu produktif. Tanpa kopi, saya butuh waktu tidur lebih banyak dan waktu resmi saya memulai hari akan mundur sampai pukul 10 pagi.

Hanya ada satu merek kopi yang bisa saya minum dengan baik, setiap harinya. Kopi itu adalah Good Day. Kopi yang digunting, bukan di roasting. Yang varian rasanya banyak dan datang dalam berbagai bentuk kemasan. Kopi yang anak muda sekali dan mungkin, kurang kopi untuk ukuran pecinta kopi sejati.

Tapi hanya Good Day, yang bisa saya nikmati dengan baik. Saya suka dengan berbagai pilihannya, kepraktisannya dan rasa yang datang dari pemanis buatannya. Saya sungguh cinta. Rasanya yang mild sangat cocok dengan lidah saya yang tidak bisa menghayati cita rasa kopi ‘sungguhan’. Baunya yang sarat akan perisa artifisial juga sangat pas dengan selera hidung minimalis saya.

Rasa cinta saya yang besar pada Good Day bahkan menciptakan trademark sendiri di lingkaran pertemanan saya. Mereka sudah mafhum, paham betul dengan kebiasaan minum Good Day saya dan sudah jera mengingatkan saya untuk berhenti minum kopi kemasan tiap hari.

Tapi ada satu hal yang kawan-kawan saya (dan saya pribadi) sesali dari rasa cinta ini. Harusnya dengan konsistensi dan intensitas saya minum Good Day, saya sudah lebih dari cukup untuk didapuk menjadi wajah Good Day. Brand ambassador yang tidak sekedar minum Good Day untuk keperluan iklan dan promosi. Karena saya yakin, jumlah Good Day yang saya minum, pasti lebih banyak dari asupan Good Day Maudy Ayunda dan Afgan dikombinasi.

Continue Reading

Menemani Orang Sepuh

Kesibukan saya beberapa bulan ini memang agak lain dengan kesibukan orang biasanya. Kalau orang lain sibuk sejak pagi hingga sore, masa sibuk saya dimulai dari siang sampai malam. Praktis, setiap pagi saya kelihatan leyeh-leyeh saja. Nganggur dan bengong. Tapi, kebengongan saya di pagi hari itu, bisa jadi tak kalah penting dari pekerjaan saya dari siang sampai malam, karena saya bengong sambil menemani Mbah Uti saya yang sudah sepuh.

Continue Reading

Memperingati Maulid Nabi SAW: Apakah Kita Sungguh Mencintai Rasulullah?

Dari jaman dahulu kala, saya nggak bisa sembarang bicara cinta pada Nabi Muhammad. Simply karena saya memang nggak yakin punya perasaan cinta itu. Hormat sama kagum iya, tapi kalau sesumbar soal perasaan cinta, saya nggak pernah berani.

Kalau para orang sholeh, ulama dan wali-wali gitu, rasa cintanya pada Nabi Muhammad kan bisa sampai membuat mereka sholawat minimal 1000 kali setiap harinya, menangis di setiap mengingatnya dan rindu bertemu dengannya. Dan akhirnya, rasa cinta itu terbalas dengan dipertemukannya mereka dengan Rasulullah di mimpi.

Saya… nggak begitu.

Boro-boro sholawat 1000 kali, biasanya juga baca sholawat pas sholat doang. Di luar itu, jarang. Kadang-kadang malah, saya baru intens bersholawat kalau ada maunya. Sholawat yang statusnya terlalu transaksial dan memalukan buat dibicarakan.

Ada banyak public figure yang menawarkan solusi segala urusan dengan sholawat. Ingin rizki lancar? Jodoh cepat datang? Hidup enak dengan harta unlimited? Sholawat-in aja! Kalau membaca testimoni keampuhan dari para praktisi sholawat itu, saya jadi tergoda untuk mencobanya juga, demi hajat-hajat saya agar segera makbul.

Tapi pada akhirnya, saya nggak berani juga mengentengkan amal sholawat dan menjadikannya ‘bargaining chip‘ kemaqbulan doa-doa duniawi saya. Kalau saya lagi ‘ingat’ dan ingin bersholawat, saya selalu berusaha meniatkannya untuk menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah. Biar deh, saya nggak minta macam-macam saat sholawat. Minimal sholawat saya diterima Rasulullah dan jadi penumbuh rasa cinta yang sungguh padanya.

Karena rasa-rasanya, status kemusliman saya belum benar sempurna kalau saya belum tulus mencintai Rasulullah.

Continue Reading

Privilege Itu Hoki, Sodara-sodara! Kurang Keren untuk Disombongkan!

Understand that the right to choose your own path is a sacred privilege. Use it. Dwell on possibility. (Oprah Winfrey)

Saya membaca sebuah kalimat yang menarik saat sedang mengulik-ulik sebuah akun milik aktifis wanita di sosial media; privilege gap is real. Kalau kata Mbak Afutami dalam salah satu artikel tulisannya, sampai saat ini masih belum ada padanan yang benar-benar tepat untuk menggambarkan istilah ‘privilege group’ dalam tataran sosial dan politik di Indonesia. Kalau di Amerika, katanya istilah ini ada dan nyata. Terutama untuk mereka yang datang dari kalangan kulit putih-protestan, ada hak istimewanya sendiri begitu.

Saya jadi tertarik dengan bahasan privilege karena di saat yang sama setelah membaca artikel terkait, saya akhirnya teringat dan kembali sadar bahwa: saya bagian dari privilege group di Indonesia. Saya muslim, tinggal di Jawa, heteroseksual dan dari keluarga berstatus solid middle-class. Singkat kisah, saya banyak dimudahkan oleh berbagai kondisi tersebut sampai dengan santainya bisa mengetik naskah buku ini pakai netbook sendiri lengkap dengan unlimited wifi tanpa kepikiran harus makan apa besok.

Continue Reading

Hafidz Qur’an Sampai Akhir Hayat: Mengenang Kawan Lama

Namanya Ita. Panggilan sayangnya, Itachi. Dia tak punya sharingan seperti Uchiha Itachi, tapi yang jelas matanya tetap istimewa. Totalnya ada empat. Hahahaha. Ita, adalah teman saya sejak masuk pesantren. Dia tipikal anak Madura yang tekun dan pekerja keras, pintar dan pantang mundur. Rumahnya dekat saja dari pesantren kami, hanya sekitar 15 menit perjalanan darat menggunakan taksi—orang Madura di daerah pesantren kami menyebut angkot dengan sebutan taksi. Walau rumahnya dekat, sama seperti kami yang datang dari luar pulau, Ita tak bisa seenaknya izin pulang dari pesantren. Walau teuteup, orangtuanya akan datang berkunjung ke pesantren setiap ada kesempatan.

Continue Reading

Jurnal Tahfidz FAQ: Hal-hal yang Sering Ditanyakan pada Penghafal Qur’an

Saya selalu menghindari obrolan tentang tahfidz Qur’an dengan orang-orang yang benar-benar tidak mengetahui apapun tentang proses menghafal Qur’an (walau saya juga bukan ahlinya). Itu karena biasanya, saya harus dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung repetitif dan judgemental sampai saya harus menjelaskan dari awal tentang, seperti apa sebenarnya urusan hafal-menghafal Qur’an itu. Trus, kenapa saya memilih untuk menulis post ini? Yah karena saya pikir, ada baiknya saya berbagi pengetahuan dan opini kepada khalayak massa agar urusan ini terang dan lurus.

DISCLAIMER: semua jawaban saya berbentuk opini. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tidak bisa dijadikan pakem, karena saya juga tidak benar-benar berilmu untuk urusan ini.

Continue Reading

Jurnal Guru Ch. 2: Ekspektasi Pada Anak yang Menghafal Qur’an

Selama setahun terakhir ini, saya menjadi muhafidzah (pengajar tahfidz Qur’an) untuk anak-anak SD di lembaga TPQ milik keluarga. Macam-macam cerita dari anak-anak yang ingin menjadi hafidz Qur’an ini. Beberapa bahkan dengan terangnya bertanya,

“Mbak, sempet nggak, kalau saya ikut Hafidz Indonesia di TV sebelum kelas 6?”

Masuk TV adalah jalan ninjaku~

Continue Reading

Jurnal Guru Ch. 1: Menghadapi Anak yang Tak Tahu Sopan Santun

Sejak kecil, saya sadar ada banyak orang dewasa di sekitar saya yang tidak suka dan tidak nyaman dengan saya. Tetangga, guru-guru di sekolah bahkan famili pun sering menunjukkan wajah tak enak pada saya. Bukan sekali dua kali saya melihat mereka yang memaksakan senyum kaku atau terang-terangan nggak nyaman dengan kehadiran saya. Bahkan mereka tak ragu menaikkan level kemarahannya kalau saya kebetulan membuat masalah di depan mereka, setingkat 2 tingkat lebih besar dari level marah mereka kepada anak-anak lain yang sebaya.

Continue Reading