Cinta pada Good Day yang Tidak Bertepuk Tangan

Saya pecinta kopi. Yang tidak sejati, jelas. Saya tak mengenal banyak varian biji kopi, cara penyeduhan lebih-lebih penyajiannya. Pencapaian terbesar saya yang berbau kopi hanyalah penelitian masyarakat petani kopi Arabica di suatu daerah di Situbondo, dulu saat kuliah. Dan saat disuguhi kopi luwak asli dari tempat itu pun, saya tak bisa meminumnya sampai habis.

Hanya satu alasan kenapa saya berani menyebut diri sendiri sebagai pecinta kopi, sederhana karena saya wajib minum kopi tiap hari. Kopi adalah penguat. Doping saya dalam menyambut hari. Tanpa kopi, seluruh organ tubuh saya sulit untuk berfungsi normal di waktu-waktu produktif. Tanpa kopi, saya butuh waktu tidur lebih banyak dan waktu resmi saya memulai hari akan mundur sampai pukul 10 pagi.

Hanya ada satu merek kopi yang bisa saya minum dengan baik, setiap harinya. Kopi itu adalah Good Day. Kopi yang digunting, bukan di roasting. Yang varian rasanya banyak dan datang dalam berbagai bentuk kemasan. Kopi yang anak muda sekali dan mungkin, kurang kopi untuk ukuran pecinta kopi sejati.

Tapi hanya Good Day, yang bisa saya nikmati dengan baik. Saya suka dengan berbagai pilihannya, kepraktisannya dan rasa yang datang dari pemanis buatannya. Saya sungguh cinta. Rasanya yang mild sangat cocok dengan lidah saya yang tidak bisa menghayati cita rasa kopi ‘sungguhan’. Baunya yang sarat akan perisa artifisial juga sangat pas dengan selera hidung minimalis saya.

Rasa cinta saya yang besar pada Good Day bahkan menciptakan trademark sendiri di lingkaran pertemanan saya. Mereka sudah mafhum, paham betul dengan kebiasaan minum Good Day saya dan sudah jera mengingatkan saya untuk berhenti minum kopi kemasan tiap hari.

Tapi ada satu hal yang kawan-kawan saya (dan saya pribadi) sesali dari rasa cinta ini. Harusnya dengan konsistensi dan intensitas saya minum Good Day, saya sudah lebih dari cukup untuk didapuk menjadi wajah Good Day. Brand ambassador yang tidak sekedar minum Good Day untuk keperluan iklan dan promosi. Karena saya yakin, jumlah Good Day yang saya minum, pasti lebih banyak dari asupan Good Day Maudy Ayunda dan Afgan dikombinasi.

Continue Reading

Memperingati Maulid Nabi SAW: Apakah Kita Sungguh Mencintai Rasulullah?

Dari jaman dahulu kala, saya nggak bisa sembarang bicara cinta pada Nabi Muhammad. Simply karena saya memang nggak yakin punya perasaan cinta itu. Hormat sama kagum iya, tapi kalau sesumbar soal perasaan cinta, saya nggak pernah berani.

Kalau para orang sholeh, ulama dan wali-wali gitu, rasa cintanya pada Nabi Muhammad kan bisa sampai membuat mereka sholawat minimal 1000 kali setiap harinya, menangis di setiap mengingatnya dan rindu bertemu dengannya. Dan akhirnya, rasa cinta itu terbalas dengan dipertemukannya mereka dengan Rasulullah di mimpi.

Saya… nggak begitu.

Boro-boro sholawat 1000 kali, biasanya juga baca sholawat pas sholat doang. Di luar itu, jarang. Kadang-kadang malah, saya baru intens bersholawat kalau ada maunya. Sholawat yang statusnya terlalu transaksial dan memalukan buat dibicarakan.

Ada banyak public figure yang menawarkan solusi segala urusan dengan sholawat. Ingin rizki lancar? Jodoh cepat datang? Hidup enak dengan harta unlimited? Sholawat-in aja! Kalau membaca testimoni keampuhan dari para praktisi sholawat itu, saya jadi tergoda untuk mencobanya juga, demi hajat-hajat saya agar segera makbul.

Tapi pada akhirnya, saya nggak berani juga mengentengkan amal sholawat dan menjadikannya ‘bargaining chip‘ kemaqbulan doa-doa duniawi saya. Kalau saya lagi ‘ingat’ dan ingin bersholawat, saya selalu berusaha meniatkannya untuk menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah. Biar deh, saya nggak minta macam-macam saat sholawat. Minimal sholawat saya diterima Rasulullah dan jadi penumbuh rasa cinta yang sungguh padanya.

Karena rasa-rasanya, status kemusliman saya belum benar sempurna kalau saya belum tulus mencintai Rasulullah.

Continue Reading

Belajar Membaca Non-Fiksi

Beberapa waktu lalu, saya mencoba untuk menulis naskah buku non-fiksi dan menocba-coba keberuntungan dengan mengirimkannya ke penerbit. Hasil akhirnya? Ditolak habis-habisan. Hahahaha. Salah satu penerbit malah menolak dengan alasan sedang tidak menerima naskah fiksi.

Bingung lah saya.

Saya ingat benar telah mengirimkan naskah untuk lini non-fiksi dan konten yang saya tulis juga bukan sekedar fiktif belaka. Saat saya kembali mengonfirmasi alasan penolakan tersebut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya;

“Walaupun konten yang Anda tulis merupakan kenyataan, penyampaian yang Anda gunakan dalam naskah adalah bentuk cerita. Dan itu masuk dalam kategori ‘fiksi'”

Bingung, mulailah saya berkelana di alam Google untuk memastikan status genre tulisan saya. Dan sama seperti jawaban redaktur, senyata apapun tulisan yang saya buat, selama redaksi yang saya gunakan adalah ‘bentuk cerita’, dia dikategorikan fiksi.

Akhirnya dengan berat hati, saya harus mengakui. Saya tidak bisa seenteng itu menulis naskah non-fiksi hanya dengan bermodalkan pengalaman membaca buku fiksi. Di situ saya mulai bergerak untuk memperluas range bacaan saya, saya harus belajar membaca non-fiksi.

Continue Reading

Privilege Itu Hoki, Sodara-sodara! Kurang Keren untuk Disombongkan!

Understand that the right to choose your own path is a sacred privilege. Use it. Dwell on possibility. (Oprah Winfrey)

Saya membaca sebuah kalimat yang menarik saat sedang mengulik-ulik sebuah akun milik aktifis wanita di sosial media; privilege gap is real. Kalau kata Mbak Afutami dalam salah satu artikel tulisannya, sampai saat ini masih belum ada padanan yang benar-benar tepat untuk menggambarkan istilah ‘privilege group’ dalam tataran sosial dan politik di Indonesia. Kalau di Amerika, katanya istilah ini ada dan nyata. Terutama untuk mereka yang datang dari kalangan kulit putih-protestan, ada hak istimewanya sendiri begitu.

Saya jadi tertarik dengan bahasan privilege karena di saat yang sama setelah membaca artikel terkait, saya akhirnya teringat dan kembali sadar bahwa: saya bagian dari privilege group di Indonesia. Saya muslim, tinggal di Jawa, heteroseksual dan dari keluarga berstatus solid middle-class. Singkat kisah, saya banyak dimudahkan oleh berbagai kondisi tersebut sampai dengan santainya bisa mengetik naskah buku ini pakai netbook sendiri lengkap dengan unlimited wifi tanpa kepikiran harus makan apa besok.

Continue Reading

Balada Mukenah

Saya orang yang ribet masalah bawaan tas. Membawa sedikit rasanya nggak aman, membawa banyak juga punggung nggak nyaman. Beberapa kali saya mencoba ikut-ikut gaya hidup minimalis untuk urusan membawa isi tas, dan selalu berakhir dengan penyesalan karena setiap harinya saya memang butuh banyak barang untuk dibawa kemana-mana. Everyday traveller kalau kata orang keminggris, hobinya bawa tas besar dengan perlengkapan hidup kemana pun dan kapan pun.

Continue Reading

Wisuda dan Kisah Selanjutnya…

Sebuah selebrasi menuju realita yang kejam

Tanggal 23 Februari di hari wisuda juga tidak ada hal yang menarik. Saya dipaksa bangun sebelum pukul 4 pagi oleh kawan saya untuk didandani, bersiap diri dan menjalani prosesi. Lebih menyebalkan lagi, hiburan saat acara tidak lain tidak bukan adalah penampilan karawitan dari ibu-ibu Dharma Wanita. Saya heran dan merasa greget, kenapa panita menyediakan hiburan mendayu-dayu begitu di acara yang super membosankan seperti wisuda ini? Saya jadi paham, kenapa para pendahulu berkata “sesungguhnya kalian bersusah-susah kuliah hanya agar tau rasanya tidur saat acara wisuda beralngsung”. Kredibel sekali lah ucapan para senior ini.

Continue Reading

Fear of The Unknown

Manusia, memiliki sebuah ketakutan alamiah. Pada hal yang tak mereka ketahui, pada yang misterius, pada yang tak tertangkap mata dan tersentuh kulit, pada yang tak pasti, pada yang tak logis.


Ketakutan mengarahkan manusia pada tuntutan. Tuntutan untuk melawan. Tak menerima hal yang tak terjelaskan. Menolaknya sebagai sebuah ketidakrasionalan

Ketakutan itu menuntun manusia pada sebuah kekacauan. Kekacauan sistem dan norma karena adanya perlawanan pada hal yang tak mereka miliki ilmunya. Menganggapnya sebagai musuh, tak pantas diterima, janggal keberadaannya dan bahaya dampaknya.

Ada saat ketika manusia terlalu menuhankan ego dan akalnya. Lupa bahwa manusia belum sampai pada puncak masanya. Tak ingat bahwa manusia tak pernah cukup pintar untuk menjelaskan segalanya dengan otak.

Islam datang sebagai penjelas. Pelindung. Naungan bagi mereka yang cukup pintar untuk tau kalau mereka bodoh. Cukup cerdas untuk paham bahwa ia tak harus mengetahui segala hal. Cukup piawai untuk menerima bahwa sebuah soal tak harus muncul jawabannya di saat itu, di masa itu, di kehidupan itu.

Islam melindungi akal dan ego manusia pada sebuah pengabdian, penghambaan, penuhanan terhadap zat yang yg berhak menguasai apa apa yang tak manusia miliki. Islam menuntun manusia pada sebuah penerimaan, tentang kewajiban menjadi pintar tanpa kepongahan tak berbatas.

Islam dan iman membuat manusia tau, harus ada penyerahan diri dan penerimaan atas kebodohan pribadi. Hingga manusia tau caranya, untuk hidup cukup dan bahagia tanpa terlalu risau oleh logika. Karena jawaban, tak harus ada sekarang dan terjelaskan hari ini.

Manusia tidak pernah sampai pada puncak masanya. Dunia berkembang, ilmu pengetahuan meluas, jawaban bermunculan. Dan manusia yang Islam dan iman memilih untuk belajar keras tanpa harus jadi budak logika.

Penjelasan akan selalu datang. Jawaban akan selalu muncul. Mungkin esok, lusa, atau 100 tahun lagi.

Continue Reading

Tentang Sebuah Idealisme yang Mendasar

Kita punya rasa takut untuk bodoh, dianggap bodoh dan terlihat bodoh. Ketakutan itu mengarahkan kita pada beberapa hal, salah satunya ‘membenarkan apa kata orang yg kita anggap pintar’. Implikasinya, istilah ‘smart people‘ saat ini dijunjung tinggi sebagai sebuah puncak pencapaian kognitif masyarakat.


Semakin ke sini juga, mulai bermunculan figur-figur publik terkenal dengan personal branding ‘manusia pintar, agamis, logis nan kritis’. Figur-fugur tersebut menjadi jawaban bagi orang-orang bodoh dan orang-orang yang pintar tapi tak sadar. Figur-figur ini memberikan opini pribadinya atas permasalahan sosial ataupun permasalahan pribadi orang lain di hadapan publik dengan gaya logis nan kritisnya.

Fakta dipelintir, nurani disingkirkan, aturan agama dikebalakangkan, hanya logika manusianya yg dibenarkan. Dengan retorika lihai nan ciamik, masyarakat samar akan fakta dan kebenaran dibalik kisah asli. Membenarkan pernyataan dan tudingan figur-figur tersebut dan menganggap mereka yang tak sejalur bukanlah dari kalangan smart people, hanya orang bodoh yang mengetik komentar tanpa otak kata mereka.

Lebih lucunya, figur-figur tersebut makin jumawa. Lupa kalau dirinya tak pernah sempurna. Tak akui kesalahannya dan menyalahkan korbannya. Menggerakkan ‘pengikutnya’ menuju logika tak terbantahkannya. Dan orang-orang mendadak amnesia, bahwa tidak lebih penting menjadi orang baik daripada menjadi orang pintar.

Continue Reading

Officially 24

I cherish every moment I had until the very today.


Makin kesini, ulang tahun makin nggak berarti apa-apa buat saya. Iya, saya ulang tahun. Iya, umur saya bertambah. Iya, usia saya berkurang. Kok berasa nggak enak kalo makin deket sama maut dirayain. Wkwkwkw. Tambah tua, saya tambah mikir, kenapa ulang tahun harus dikasih ucapan ‘selamat’. Bertambah usia atau berubah angka bukan sesuatu yang cukup penting untuk dirayakan, kayaknya. Tapi, saya tau. Siapapun yang memberi saya ucapan selamat , tulus atau tidak tulus, orisinil atau modal copy paste ucapan orang lain, ada usaha mereka untuk membahagiakan saya. Jadi, let it be.

Belum seperempat abad, tapi biarkan saya menulis seakan saya sudah mencapai banyak hal dalam hidup.

Di antara banyak doa dalam ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang terdekat saya, ada beberapa yang saya ingat dan saya syukuri dari doa yang tersampaikan tersebut. Ada yang berdoa agar hidup saya selanjutnya hanya tersisa kebaikan saja. Ada yang berharap saya selalu berbahagia, in simple way. Ada yang mendoakan saya semakin zuhud, dan berkumpul bersamanya nanti di surga. Dari sekian banyak doa tentang pencapaian, jodoh, rizki, mimpi dan harapan… saya sadar, yang saya butuhkan adalah kebaikan, kebahagiaan, rasa syukur dan masuk surga. Segala keinginan duniawi saya hanya menjadi bagian dari egoisme dan nafsu pribadi. Saya nggak mendapatkan jaminan jelas tentang keabadian pencapaian itu hingga bisa saya ajukan sebagai bargaining chips buat masuk surga.

Mungkin ini yang namanya realistis, nggak idealis.

Dulu, saat masih sekolah, mimpi saya banyak. Besar-besar. Keinginan untuk berprestasi dan mencapai puncak masih kuat. Tapi, semenjak masuk kuliah, keinginan itu semakin pudar, lalu hilang. Mimpi saya saat ini tidak lebih dari ‘sekedar’ mutqin hafalan Qur’an dan menjadi penulis yang menwarkan kebaikan. Saya tidak lagi ingin jadi presiden, atau menteri pendidikan, kuliah ke luar negeri, berkeliling dunia, menjadi psikolog, dan lain-lain. Saya hanya butuh rasa cukup, syukur dan bahagia. Saya tidak ingin menjadi orang yang namanya tertulis dalam sejarah dunia, atau negara. Saya hanya berharap menjadi orang yang disyukuri keberadaannya oleh orang-orang di sekitar saya, sebagai sosok baik yang tidak tergantikan.

Keinginan-keinginan besar itu ada, tapi tak tercapai. Dan saya mengalah.

Dulu saya sedih, kecewa dan malu karena saya berakhir di sebuah perguruan tinggi yang tidak sekeren kampus-kampus besar yang tenar sesaentaro Indonesia. Semua sepupu-sepupu saya kuliah di kampu-kampus besar itu, dengan jurusan yang tidak kalah kerennya. Dan saya di sini, di sebuah kampus yang nggak terlalu keren, dengan program studi kelas tiga. Ketika lulus, sepupu-sepupu saya menempuh jalur yang tidak kalah keren. Bekerja di perusahaan besar, menempati posisi tinggi, profesi kebanggaan standar masyarakat Indonesia, kuliah S2 di luar negeri pakai LPDP… dan saya di sini, menerima setoran hafalan Qur’an anak-anak SD di yayasan sendiri. Belum menjadi ‘siapa-siapa’ dengan profesi membanggakan dengan pencapaian besar. Ketakutan itu ada, sama seperti kegagalan saya menyusul pencapaian sepupu-sepupu saya yang lain dalam kuliah. Saya mulai galau, apakah pencapaian saya akan berakhir sampai di titik ini, atau ada kemungkinan lain bagi saya untuk menjadi yang tak kalah hebatnya?

Akhirnya saya mengalah.

Saya nggak mau menjadikan sepupu sebagai standar lagi. Saya menerima pencapaian saya ada di sini, di area yang jauh berbeda dengan sepupu saya. Saya harus menerima jalan ini, tanpa berekspektasi tinggi-tinggi. Karena saya tau, saya hanya perlu menjadi orang baik dan menwarkan kebaikan. Saya harus berhenti dan mundur. Karena untuk menjadi orang disyukuri keberadaannya, posisi dan latar belakang tidak menjadi soal.

Tapi, saya masih berharap….

Saya masih berharap agar hati ini tidak goyah. Saya masih berdoa agar kebaikan ini diterima Yang Di Atas. Saya masih bermimpi menjadi orang yang berguna. Dan saya tidak akan protes atau kecewa lagi dengan jalan kebaikan yang dipilih-Nya.  

Continue Reading