But First, Coffee…

Actually, I’m not a morning person. I jokingly said that my official time to start a day is 10 a.m and that’s actually embarrassing for an Indonesian girl. Tapi, memang aku sulit (dan kurang berusaha) buat melawan gaya gravitasi kasur yang sangat tinggi. Bahkan dulu semasa di pesantren, di hari Jum’at dimana sekolah dan segala kegiatan lannya libur, aku bakal menghabiskan waktu hampir 24 jam cuma buat tidur! Dan tidurku hanya bisa terpotong buat makan dan shalat. Let’s say, kalau mau diurutkan dari yang paling parah, rasa malasku menempati posisi kedua setelah sombong dalam 7 Deadly Sins.

Sampai kuliah pun, aku bakal ngerasa menjadi manusia paling bahagia saat tau ada hari dimana kuliah dimulai siang hari dan ngerasa sedih berkepanjangan saat harus masuk kuliah di jam-jam pagi. Karena rasa malas dan kebutuhan tidur di luar batas normal ini, aku memutuskan buat nggak ikut semua kegiatan kampus di luar jam perkuliahan. Aku nggak ikut UKM, HMJ apalagi BEM ataupun bendera politik mahasiswa tertentu. Nggak masalah buatku cuma kenal dengan teman seangkatan di jurusan saja. Nggak kenal ataupun dikenal kakak-adik tingkat, dosen-dosen, mahasiswa lintas jurusan dan fakultas, it’s okay and I’m literally doing fine without it.

Memulai hari pada pagi hari itu semacam siksaan dan bisa bikin mood-ku hancur seharian. Tapi nggak mungkin begitu terus, kan? Mau kerjaanku ke kampus hanya berkisar urusan kuliah, tetap butuh energi besar dan mood yang terjaga agar tetap survive sampai di penghujung hari. Untuk itu aku butuh kopi di pagi hari.

Nggak. Bukan kopi hitam.

Kopi yang biasa aku minum datang dari merk yang kandungan kopi-nya hanya sekian persen dengan kadar pengawet dan pemanis buatan yang tinggi. Minum kopi di pagi hari semacam doping, aku bisa jatuh tertidur di kelas kalau nggak memulai pagi dengan minum kopi, dan aku beneran bisa tidur gitu aja di kelas walaupun dosen sedang memberi kuliah di kelas.

Kopi semacam obat penenang buat aku secara pribadi (sekali lagi, bukan kopi hitam atau kopi dengan cita rasa ‘murni’). Kopi menjadi kebutuhan primer buat menjaga stabilitas mood-ku. Kopi adalah trademark pribadiku yang lekat dengan mie ayam di mata ibu kantin kampus. Kopi tampak sebagai alarm buat temen-temenku untuk selalu mengingatkanku betapa berbahayanya minum kopi terlalu sering. Dan kopi menjadi pilihan satu-satunya para kawan mahasiswa kere yang berusaha untuk memberiku hadiah di saat-saat tertentu. Karena segelas kopi, se-sachet kopi, sekotak kopi, sebotol kopi, akan cukup untuk menjalankan hidup sebagai ‘aku yang stabil’.

Dan…

Kenapa tiba-tiba derajat kopi jadi lebih tinggi daripada Qur’an di mataku?

Kan, kampret!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *