Balada Mukenah

Saya orang yang ribet masalah bawaan tas. Membawa sedikit rasanya nggak aman, membawa banyak juga punggung nggak nyaman. Beberapa kali saya mencoba ikut-ikut gaya hidup minimalis untuk urusan membawa isi tas, dan selalu berakhir dengan penyesalan karena setiap harinya saya memang butuh banyak barang untuk dibawa kemana-mana. Everyday traveller kalau kata orang keminggris, hobinya bawa tas besar dengan perlengkapan hidup kemana pun dan kapan pun.

Sekarang sih, banyak hal yang bisa disubstitusi hanya dengan menggunakan smartphone. Nggak usah ribet bawa buku dan alat tulis seabrek sementara kamu bisa pakai aplikasi note di hape, nggak usah pakai jam tangan berfitur alarm kalau alarm hapemu bisa jauh lebih canggih, nggak lagi ribet-ribet bawa Qur’an atau buku bacaan lain kalau sekarang semuanya sudah tersedia dalam bentuk e-book. Praktis dan nggak berat di bawaan. Hidup lebih mudah dan ringan.

Tapi ada satu hal yang, dalam keadaan apapun akan selalu saya bawa dalam perjalanan berdurasi lebih dari 1 jam. Yaitu, mukenah. Nggak bisa dikompromi, berharga mati. Bagi saya yang punya keparnoan tingkat tinggi dengan dunia luar rumah, sholat menjadi garansi keamanan dan kenyamanan diri saya selama berada di luar rumah (padahal resiko sial dan kematian itu unlimited, nggak cuma di luar rumah tapi juga dalam rumah). Saya percaya, jika sebelum keluar rumah saya tidak sholat, entah sunnah atau wajib, urusan saya tak akan benar-benar lancar. Walau hanya sekali dua kali, pasti akan ada masalah di hari itu. Ini mindset negatif atau positif sebenarnya? Ambigu sekali. Tapi saya berusaha untuk menyandarkan hidup saya pada Tuhan, biar nggak tuman menganggap segala kejadian semata karena usaha dan kemampuan saya. Sombong sih anaknya, sukses dikit langsung jumawa.

Mukenah itu semacam penyelamat di saat-saat berat ketika harus sholat di tempat lain. Entah di rumah kawan atau masjid sekitar, menggunakan mukenah sendiri bagai melepas beban berat saat tidak sholat di rumah pribadi. Menjawab persoalan sholat, saya akan merasa lebih nyaman saat menggunakan mukenah sendiri. Walau sholat di masjid besar yang menyediakan mukenah umum, saya tetap merasa nggak nyaman karena mukenahnya ya ala kadarnya. Kadang robek sana sini, setelannya nggak lengkap, bau apek yang menjijikkan sampai noda-noda kotor bukti jarangnya si mukenah dicuci.

Sholat di rumah orang saat bertamu juga nggak sepenuhnya menyenangkan, ada saat dimana tuan rumah menyediakan mukenah berbahan parasut yang tipis dengan bahan kain yang nggak jatuh buat tamunya, entah itu mukenah yang memang biasa tuan rumah pakai atau memang statusnya mukenah untuk tamu. Singkat kisah, sholat di luar rumah itu perjuangannya besar kali lah.

Saat saya memutuskan untuk meninggalkan mukenah saya dan sholat di masjid dengan mukenah umum, saya harus bertahan sholat sekian rakaat dalam balutan mukenah yang baunya nggak tertahankan. Pakai mukenah layak dan sholat 2 rakaat di rumah sendiri saja saya sulit khusyuk, gimana mau benar-benar khusyuk dengan mukenah jorok kayak begitu? Lepas salam penutup, buru-buru saya lepas mukenah itu. Nggak kepikiran doa sebaris dua baris, apalagi lengkap dengan dzikir. Intinya saya harus lepas dari siksaan bernama mukenah umum itu.

Memilih Mukenah Travelling

Banyak dijual di pasar, toko fisik maupun online, mukenah berbahan parasut yang bisa dilipat rapat sampai membentuk kepalan tangan. Ringan, compact dan praktis dibawa kemana pun. Tapi saya pribadi, sungguh nggak suka dengan mukenah berbahan parasut tipis itu. Beberapa kali saya beli dan pengalaman sholat saat menggunakannya benar-benar menyiksa.

Kalau warna kainnya terang, mukenahnya cenderung transparan dan terawang. Kalaupun pakai yang berwarna gelap dan transparansi nggak lagi jadi soal, bahan tipis parasut itu yang ganti jadi masalah. Setiap kali saya rukuk ataupun sujud, saat ada angin sepoi-sepoi, mukenah itu akan terbang dari badan saya dan kadang melewati leher hingga punggung dan sebagian rambut saya terlihat saat saya sujud. Yang mau sholat sambil menahan mukenah juga merepotkan sekali.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli mukenah parasut dengan kualitas yang lebih baik. Bahannya lebih tebal dan lebih berat. Jadi saat dipakai, dia tidak terawang dan bahannya jatuh. Tidak mudah diterbangkan angin sepoi. Dari segi bentuk, tipe mukenah ini memang lebih besar karena kainnya yang lebih berat. Tidak se-compact mukenah berbahan parasut tipis. Berat pula jika dibawa dalam tas kemana-mana. Tapi saya ingat ucapan salah satu beauty blogger dari Malaysia, lupa namaya dia bilang

“I love make up so I don’t mind even if I can wear it only for a few hours, but girls remember remember remember never compromise your sholat just because of makeup. I know how it feels like when your make up is on point and you need to wash it all, but take care your sholat.”   

Pesan itu sangat kuat saya ingat karena, kalau saya lihat di makeup tutorial, cewek bisa menghabiskan waktu yang sangat lama buat menghasilkan makeup yang on fleek banget. Rasanya pasti berat banget buat memakai makeup itu hanya untuk beberapa jam dan kemudian harus dihapus total untuk sholat ketika wudhu. Tapi pada akhirnya, kita memang nggak bisa mengkompromikan sholat kita dalam keadaan yang nggak benar-benar darurat.  

Itu yang kemudian menjadi pengingat saya bahwa, seribet apapun saya, seberat apapun barang bawaan saya setiap hari, saya nggak ingin mengkompromikan sholat saya dengan tidak membawa mukenah sendiri. Iya, pakai mukenah pinjaman atau milik pribadi juga judulnya tetep sholat, tapi saya tau sholat saya nggak benar-benar berkualitas bahkan dengan mukenah cantik milik sendiri. Sholat saya nggak benar-benar khusyu’ dan mungkin nggak cukup baik untuk diterima Tuhan, dan saya nggak mau menurunkan lagi kualitas sholat saya dengan menggunakan mukenah yang, menurut saya, nggak layak. Beda mukenah, beda feel sholat, Sodara-sodara. Mungkin ini masalah saya saja, tapi kalau sekiranya saya bisa mengusahakan kualitas sholat yang lebih baik, kenapa nggak?   

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *