BALADA ANAK

Kenapa harus memiliki anak?

Sempat, beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah tulisan blog tentang seseorang yang tidak berencana untuk memiliki anak dan bertanya, kenapa orang harus meributkan keputusan pribadinya padahal ya, kalau punya anak juga mereka tak ikut menanggung biaya popok, susu dan pendidikan si anak. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa memiliki anak setelah menikah bukan perkara yang sudah ‘sepantasnya dan sewajarnya’ tanpa harus melewati proses berpikir sebelumnya. Anak baiknya tidak jadi sebuah produk, hasil dari orangtua yang ‘membuatnya’ tanpa berpikir sebelumnya.

Hal ini membuat saya sadar, selama ini saya melompati satu proses saat memikirkan tentang anak. Kalau memilih jodoh dan menikah harus didasari dengan motif dan visi misi yang jelas, kenapa memiliki anak tidak lantas didasari dengan hal yang sama? Kenapa saya terburu-buru fokus memikirkan program pengasuhan anak yang ideal dan bermimpi punya anak yang sholih/ah? Bukannya saya harus memikirkan alasan ‘untuk apa saya punya anak’ terlebih dahulu?

Don’t get me wrong, I’d like to bear my children someday. Tapi bukannya anak-anak adalah makhluk berharga yang idealnya dilahirkan dengan penuh kesadaran dan kesiapan? Butuh lebih dari sekedar pernyataan ‘wajarnya habis nikah ya punya anak’ untuk melatarbelakangi keberadaan anak. Kalau emang wajar mah, nggak perlu ada ‘usaha bikin anak’ yang masih diiringi kemungkinan gagal. Kalau wajar mah, kita udah default habis ijab kabul langsung hamil.

Hal ini mengingatkan saya pada ucapan salah satu doesn saat saya kuliah dulu. Beliau berkisah bahwa alasannya punya anak adalah untuk meneruskan kebaikan-kebaikannya, melanjutkan pengabdiannya pada masyarakat, mewarisi keilmuannya dan menyebarkan kebaikan lebih luas dari apa yang bisa beliau lakukan sekarang. Mendengarkan pernyataan ini membuat saya dapat menggambarkan tujuan ‘beranak’ yang lebih jernih dari sekedar kalimat ‘mencetak generasi sholeh/ah’. Kebodohan saya (dan mungkin sebagian orang lain) adalah ketidakmampuan dalam mengeksplorasi makna kesholehan anak. Sholih/ah yang bagaimana? Yang berimbas pada apa? Kenapa makna sholih/ah ini seakan hanya untuk kepentingan pribadi anak dan orangtua saja tanpa implikasi yang lebih jauh pada kepentingan masyarakat secara umum?

Menggabungkan akan kesadaran sepenuhnya dalam keputusan memiliki anak dan ingatan tentang dosen saya, saya memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam memikirkan alasan untuk memiliki anak suatu saat nanti (tentu kalau Allah mengizinkan).

Tentang Anak yang Bukan Investasi

Ya anggap saja lah saya kolot, saya akan selalu menganggap anak sebagai investasi. Hahahahha. Tentu tidak dalam artian penyerahan tanggung jawab total kehidupan saya jika mereka sudah mandiri suatu saat nanti. Saya tidak akan meminta segala hal pada mereka bahkan jika mereka jauh lebih mampu. Tapi saya tidak akan munafik lah, ‘mental pengemis yang ingin disayang dan dimanjakan anak’ ini pasti ada. Tentu ada harap-harapan lamat dalam hati suatu saat nanti anak-anak saya berkenan dan tidak keberatan untuk memanjakan saya, di sisi ekonomi sampai religi. Ya dijajani bakso dan baju sampai didoakan khusus di semua kesempatan.

Kan bisa hancur hati saya kalau suatu saat nanti misal saya butuh suatu hal yang darurat (dengan uang pensiun dan dana darurat yang tidak mampu mencover—belajar dari pandemi), trus minta bantuan pada anak, anak saya malah curhat ngenes di twitter tentang beratnya hidup sebagai sandwich generation, dijadiin investasi orangtua dll. Tentu ada orangtua yang tidak mau tau kondisi anaknya dan maunya ditanggung penuh anak tanpa usaha sendiri. Tapi ya banyak juga anak di luar sana yang baru diberatin orangtuanya sekali sudah koar-koar seakan hidupnya paling susah, pakai bahasa konsep ala-ala sandwich generation dan nasib dijadikan investasi orangtua. Na’udzubillah, semoga kalau memang saya diijinkan jadi orangtua oleh Allah, saya jadi orangtua yang tidak memberatkan anak dan punya anak yang dermawan pada setiap orang termasuk pada orangtuanya.     

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *