Menemani Orang Sepuh

Kesibukan saya beberapa bulan ini memang agak lain dengan kesibukan orang biasanya. Kalau orang lain sibuk sejak pagi hingga sore, masa sibuk saya dimulai dari siang sampai malam. Praktis, setiap pagi saya kelihatan leyeh-leyeh saja. Nganggur dan bengong. Tapi, kebengongan saya di pagi hari itu, bisa jadi tak kalah penting dari pekerjaan saya dari siang sampai malam, karena saya bengong sambil menemani Mbah Uti saya yang sudah sepuh.

Mbah Uti, sebagaimana orang sepuh pada umumnya, sudah mulai terjangkit penyakit tua. Pikun dan kekanak-kanakan. Ingatannya mulai pendek-pendek saja, biasanya juga tak sampai 1 jam. Menit ini selesai makan, setengah jam lagi beliau bertanya,

“Mbah sudah makan, belum?”

Beliau juga mulai rewel dan tak bisa ditinggal sendiri. Wajib ditemani dan harus ada yang beraktifitas di dekatnya. Kalau ditinggal sendiri begitu saja, beliau akan panik dan mondar-mandir memanggil semua nama anak dan cucunya. Jika kebetulan sedang tidak ada orang di rumah yang bisa menyahut panggilannya, beliau akan diam sendirian sambil menangis. Sungguh pilu, tapi ya juga lucu.

Tapi, pagi hari adalah masa sibuk semua orang pada umumnya. Para orang dewasa berangkat bekerja, anak-anak pergi ke sekolah. Jadi hampir pasti tak ada orang di rumah yang bisa menemani Mbah Uti dari pagi sampai siang hari.

Kecuali saya, tentunya.

Waktu sibuk saya kan, tidak sebagaimana orang dewasa pada umumnya. Di pagi hari, saya adalah contoh nyata milenial pengangguran dan tidak produktif, kerjanya rebahan sambil main hape. Jadilah, amanah besar menemani sesepuh ini jatuh pada saya. Sejak saat itu, Mbah Uti mulai bergantung pada saya di pagi hari dan tidak bisa tidak melihat wajah saya barang sedetik pun. Bukan karena saya cucu kesayangan, Mbah tak punya pilihan cucu lain yang available saja.


Menemani orang sepuh, tidak sepenuhnya sulit walau tak lantas mudah. Saya harus legowo mendengar semua kisah yang beliau tuturkan. Diulang tiap hari, tak pernah alpa, dengan redaksi yang sama persis pula tiap harinya. Tentu saja sebagai cucu perempuan paling dewasa Mbah, saya dituntut untuk menjadi sosok penuh maklum dan pengertian. Apa itu ‘bosan’? Saya yang penuh pengertian ini, jelas tak kenal kata ‘bosan’. Di depan semua omongan Mbah yang diulang terus-menerus bagai kaset rusak itu, saya hanya tau kewajiban memasang reaksi kaget ‘eureka!’ dan manggut-manggut takzim di tiap akhir ceritanya.

Tapi tentu saja, di antara semua tuturan bersifat repetitif ini, ada satu topik yang Mbah hobi sampaikan pada saya yang membuat kepala sumpek. Apa lagi selain perihal pekerjaan?

Begini kira-kira redaksi pasti yang sudah bagai template itu,

“Kamu tuh kerja. Ngelamar kemana-mana. Ibunya itu dulu ya ngelamar kerja. Makanya sukses. Uangnya banyak. Bisa nyekolahkan anak-anaknya, kamu, sampai sarjana. Kamu jangan diem diem saja. Sana cari kerja!”

Saya memang punya kesabaran tingkat tinggi dalam menghadapi obrolan Mbah yang diulang tiap hari. Tapi jelas saya tak punya kemampuan yang sama saktinya untuk menjelaskan keadaan saya kepada Mbah saat tema pekerjaan diangkat setiap harinya. Akhirnya, saya yang penuh maklum ini mengenal kata ‘bosan’.


Pada suatu pagi yang sepi setelah semua orang berangkat beraktifitas, saya menemani Mbah Uti sambil mengerjakan beberapa dokumen untuk melamar pekerjaan, it

“Da? Kok dari tadi ndak ngomong sama sekali?”

“Aku sibuk Mbah, ngerjain berkas-berkas,”

“Buat apa?”

“Ngelamar kerja. Kan aku disuruh kerja sama Mbah,”

Mbah diam. Lalu wajahnya mulai suram dan kuyu.

“Kalau kamu kerja, Mbah sama siapa di rumah? Siapa yang nemenin Mbah? Orang-orang pergi semua, ndak ada yang nemenin Mbah lagi. Mbah takut kalau sendirian di rumah,”

Jadi gimana, Mbah? Maunya aku kerja tapi Mbah ikut ngantor, gitu?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *