Memperingati Maulid Nabi SAW: Apakah Kita Sungguh Mencintai Rasulullah?

Dari jaman dahulu kala, saya nggak bisa sembarang bicara cinta pada Nabi Muhammad. Simply karena saya memang nggak yakin punya perasaan cinta itu. Hormat sama kagum iya, tapi kalau sesumbar soal perasaan cinta, saya nggak pernah berani.

Kalau para orang sholeh, ulama dan wali-wali gitu, rasa cintanya pada Nabi Muhammad kan bisa sampai membuat mereka sholawat minimal 1000 kali setiap harinya, menangis di setiap mengingatnya dan rindu bertemu dengannya. Dan akhirnya, rasa cinta itu terbalas dengan dipertemukannya mereka dengan Rasulullah di mimpi.

Saya… nggak begitu.

Boro-boro sholawat 1000 kali, biasanya juga baca sholawat pas sholat doang. Di luar itu, jarang. Kadang-kadang malah, saya baru intens bersholawat kalau ada maunya. Sholawat yang statusnya terlalu transaksial dan memalukan buat dibicarakan.

Ada banyak public figure yang menawarkan solusi segala urusan dengan sholawat. Ingin rizki lancar? Jodoh cepat datang? Hidup enak dengan harta unlimited? Sholawat-in aja! Kalau membaca testimoni keampuhan dari para praktisi sholawat itu, saya jadi tergoda untuk mencobanya juga, demi hajat-hajat saya agar segera makbul.

Tapi pada akhirnya, saya nggak berani juga mengentengkan amal sholawat dan menjadikannya ‘bargaining chip‘ kemaqbulan doa-doa duniawi saya. Kalau saya lagi ‘ingat’ dan ingin bersholawat, saya selalu berusaha meniatkannya untuk menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah. Biar deh, saya nggak minta macam-macam saat sholawat. Minimal sholawat saya diterima Rasulullah dan jadi penumbuh rasa cinta yang sungguh padanya.

Karena rasa-rasanya, status kemusliman saya belum benar sempurna kalau saya belum tulus mencintai Rasulullah.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *