How Do You…

… keep your pride even you got the job you dont really want since it’s socially considered as low-paid job and not ‘fancy’ enough?

I went through this experience, exactly nowadays since I am in the middle of the training this job required. On the firs fay of 3 days worth training, the mentor said this kind of sentence:

“Dont consider this profession as a shame, you need to hold your pride strongly cz you got through the training and examinition this job needed beforehand.  There is someone who got his bachelor title and said that this job must be ‘proud’ since, he, the bachelor degree holder decided to take this job. But, nope. This job itself that chosen its worker. This job is something that doesnt need high education title but, fun fact, this job need the best character possible from a worker. Diligence, honesty, dedication and responsibility. And be proud! You’re chosen, you’re honored to be a part of this.”

And I’m honoured. It’s a relief that I got to see the different perspective. There aren’t any halal job that ‘more honorable’ or ‘less one’. Every job runs for its purpose and you’re part of this world balance. You need to take your pride and source of happiness into a whole new level. Be proud and don’t feel any shame since every of you already got your own important job and there’s no one who can belittle you over this petty things. 

Continue Reading

Memperingati Maulid Nabi SAW: Apakah Kita Sungguh Mencintai Rasulullah?

Dari jaman dahulu kala, saya nggak bisa sembarang bicara cinta pada Nabi Muhammad. Simply karena saya memang nggak yakin punya perasaan cinta itu. Hormat sama kagum iya, tapi kalau sesumbar soal perasaan cinta, saya nggak pernah berani.

Kalau para orang sholeh, ulama dan wali-wali gitu, rasa cintanya pada Nabi Muhammad kan bisa sampai membuat mereka sholawat minimal 1000 kali setiap harinya, menangis di setiap mengingatnya dan rindu bertemu dengannya. Dan akhirnya, rasa cinta itu terbalas dengan dipertemukannya mereka dengan Rasulullah di mimpi.

Saya… nggak begitu.

Boro-boro sholawat 1000 kali, biasanya juga baca sholawat pas sholat doang. Di luar itu, jarang. Kadang-kadang malah, saya baru intens bersholawat kalau ada maunya. Sholawat yang statusnya terlalu transaksial dan memalukan buat dibicarakan.

Ada banyak public figure yang menawarkan solusi segala urusan dengan sholawat. Ingin rizki lancar? Jodoh cepat datang? Hidup enak dengan harta unlimited? Sholawat-in aja! Kalau membaca testimoni keampuhan dari para praktisi sholawat itu, saya jadi tergoda untuk mencobanya juga, demi hajat-hajat saya agar segera makbul.

Tapi pada akhirnya, saya nggak berani juga mengentengkan amal sholawat dan menjadikannya ‘bargaining chip‘ kemaqbulan doa-doa duniawi saya. Kalau saya lagi ‘ingat’ dan ingin bersholawat, saya selalu berusaha meniatkannya untuk menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah. Biar deh, saya nggak minta macam-macam saat sholawat. Minimal sholawat saya diterima Rasulullah dan jadi penumbuh rasa cinta yang sungguh padanya.

Karena rasa-rasanya, status kemusliman saya belum benar sempurna kalau saya belum tulus mencintai Rasulullah.

Continue Reading

Hal-Hal yang Harus Dipersiapkan Jauh Hari sebelum Menulis Skripsi

Tahun depan, adik saya akan memulai perjalanan menulis skripsinya dan dia sudah menyiapkan kebingungannya dari hari ini. Hahahaha. Beberapa mata kuliah yang sekarang dia tempuh juga nggak jauh-jauh dari persiapan dalam rangka menuju penulisan skripsi. Pokoknya, hampir setiap mata kuliahnya mewajibkan mahasiswa untuk membuat proposal penelitian dan sejenisnya.

Berhubung adik saya sudah menunjukkan gelagat serba susah dan sengsara di tiap menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya (dan mulai parno akan kesusahan skripsi suatu saat nanti), saya jadi terpikir menuliskan postingan ini.

Continue Reading