Belajar Membaca Non-Fiksi

Beberapa waktu lalu, saya mencoba untuk menulis naskah buku non-fiksi dan menocba-coba keberuntungan dengan mengirimkannya ke penerbit. Hasil akhirnya? Ditolak habis-habisan. Hahahaha. Salah satu penerbit malah menolak dengan alasan sedang tidak menerima naskah fiksi.

Bingung lah saya.

Saya ingat benar telah mengirimkan naskah untuk lini non-fiksi dan konten yang saya tulis juga bukan sekedar fiktif belaka. Saat saya kembali mengonfirmasi alasan penolakan tersebut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya;

“Walaupun konten yang Anda tulis merupakan kenyataan, penyampaian yang Anda gunakan dalam naskah adalah bentuk cerita. Dan itu masuk dalam kategori ‘fiksi'”

Bingung, mulailah saya berkelana di alam Google untuk memastikan status genre tulisan saya. Dan sama seperti jawaban redaktur, senyata apapun tulisan yang saya buat, selama redaksi yang saya gunakan adalah ‘bentuk cerita’, dia dikategorikan fiksi.

Akhirnya dengan berat hati, saya harus mengakui. Saya tidak bisa seenteng itu menulis naskah non-fiksi hanya dengan bermodalkan pengalaman membaca buku fiksi. Di situ saya mulai bergerak untuk memperluas range bacaan saya, saya harus belajar membaca non-fiksi.

Saya bukan penggemar non-fiksi. Saat masih bersekolah, buku-buku non-fiksi yang sering saya jumpai adalah buku-buku agama dengan sisipan ayat dan hadits di sana sini yang, sama sekali tidak menarik di mata saya. Selain itu, ada buku-buku self-improvement, yang menurut saya, kontennya terlalu basic, lebih banyak berisi common sense yang normalnya dipunya setiap orang, tidak memberi banyak improvement pada diri saya, de el el. Pokoknya, pengalaman saya dengan buku-buku non-fiksi selama di sekolah itu kurang menarik lah.

Saat kuliah, buku-buku nonfiksi yang saya temui seringnya datang dari buku-buku wajib dibaca tiap mata kuliah, yang hampir di setiap kalimatnya, mengandung banyak informasi dan tidak bisa saya cerna dengan baik hanya dengan sekali baca. Otomatis, membaca 1 halaman buku saja rasanya otak saya sudah menelan terlalu banyak informasi dalam waktu singkat. Panas. Pusing. Dan tak mampu melanjutkan lagi. Hahahaha.

Tapi berhubung sudah mendapatkan penolakan naskah dengan gaya seperti itu, jadilah, saya yang pecinta fiksi garis keras ini, mencoba mulai membaca buku nonfiksi. Saya kembali berkelana di alam Google untuk mencari rekomendasi nonfiksi terjemahan (karena saya tydac yakin dengan buku-buku nonfiksi lokal yang di mata saya kebanyakan adalah buku agama berikut dengan dalil, buku motivasi yang kurang motivatif, buku skill khusus dan biografi politisi).

Setelah buku-buku terbeli, masalah sealnjutnya adalah, memaksakan diri buat membaca. Hahahaha.

  1. Membaca dengan Memberi Batas Waktu

Kalau baca novel dan komik mah, saya betah-betah saja diam di tempat selama berjam-jam, tidak tidur semalaman dan mengerjakan urusan lain disambi membaca. Batasan waktu saat membaca fiksi adalah fana. Hahaha.

Tapi membaca nonfiksi adalah kisah lain. Saya memberi waktu 15 menit di pagi hari dan 15 menit di malam hari untuk membaca buku tersebut. 15 menit saja. Saya pernah membaca, katanya, saat ingin konsisten dalam membaca, jangan fokus pada kuantitas bacaan harian, tapi fokuslah pada waktunya. Soalnya, berekspektasi pada jumlah bacaan hanya akan membuat kita terburu-buru untuk mengejar deadline. Tidak benar-benar membaca kontennya dengan baik dan akhirnya informasi yang didapat tidak dapat dicerna dengan sempurna.

Cukup 15 menit di tiap pagi dan malam hari, dan sesedikit apapun halaman yang kita bisa baca dalam waktu singkat itu, kita harus yakin sudah menyerapnya dengan sempurna.

2. Menggunakan Bantuan Aplikasi

Saya sempat mencoba Bullet Journal dan ada pilihan untuk membuat reading log yang bisa me-record perkembangan bacaan kita, kebiasaan membaca dan lain-lain. Tapi, saya sudah tidak lagi betah membuat jurnal itu, simply karena tidak ada konten yang bisa saya tulis. Hahahah. Saya bukan orang yang sibuk dan perlu mencatat banyak plan, bukan orang yang cukup rapi juga untuk memenuhi to do list ini itu.

Akhirnya saya mencari aplikasi khusus di smartphone yang sama fungsinya dengan reading log di bullet journal. Dan saya menemukan ini, Read More: Reading Habit Tracker

Aplikasinya tersedia di Google Playstore dan App Store

Di dalamnya, kita bisa memasukkan buku-buku yang sedang kita baca dalam Reading List. Pilihan buku yang sedang kita baca juga tersedia di inventory aplikasi tersebut, lengkap dengan deskripsi buku, rating, jumlah halaman (yang berguna untuk progress record kita dalam membaca) dan lain-lain. Ingat ya, isi bukunya hanya keterangan saja. Tidak disertai dengan konten buku. Kalau mau baca, beli!

Tampilan Awal

Seperti di gambar, sampai saat ini saya sudah menyelasaikan 47% dari total 500 halaman buku Sapiens yang saya baca, berarti saya sudah membaca sekitar 230-an halaman.

Reading Timer!

Di bagian ini, kita bisa menghitung lama baca waktu kita dalam sekali duduk. Aplikasi akan merekam berapa lama waktu membaca kita setiap harinya dan akan terlihat di fitur reading log yang tersedia. Seperti ini;

Reading Log

Kita juga bisa melihat rekor membaca kita di fitur Personal Best yang menjelaskan berapa halaman terbanyak yang bisa kita baca dalam sehari dan berapa waktu terlama kita membaca dalam sehari.

Personal Best

Kita juga bisa mengeset alarm di aplikasi ini untuk mengingatkan waktu untuk membaca. Biasanya, notifikasi Read More saat alarm baca berbunyi, disertai juga dengan quotes tentang membaca dan buku juga.

Menggunakan aplikasi ini, so far, membuat saya bisa dengan jelas melihat progress saya dalam membaca buku dan merasa puas saat saya sudah menyelesaikan ‘tuntutan membaca harian’ saya.

3. Mencari Motivasi

Hal terakhir yang saya lakukan untuk memaksakan diri membaca buku non fiksi adalah, dengan mencari motivasi. Biasanya sih, saya selalu berusaha recharge motivasi saya dengan menonton figur-figur keren yang juga kutu buku, seperti Maudy Ayunda. Hahahah. Saya juga mengikuti bookstagram yang khusus di genre nonfiksi di sosial media dan membaca review mereka tentang buku-buku nonfiksi di reading list mereka.

Karena saya pada dasarnya adalah orang dengan ego tinggi dan selalu terluka saat merasa bego, melihat figur-figur keren ini membuat saya dengki dan iri hati. Pada akhirnya, saya ‘terpaksa’ juga menyelesaikan bacaan buku nonfiksi saya. Saya pikir, tidak ada jalan lain bagi saya untuk menambah wawasan tanpa membaca buku. Saya bukan penikmat konten visual seperti film dan lain-lain, saya juga tidak begitu hobi mendengarkan musik. Satu-satunya referensi pengetahuan saya biasanya datang dari bacaan. Dan jika saya tidak memaksakan diri untuk memperluas range bacaan saya ke genre nonfiksi, well, saya jadi merasa terlalu sombong untuk menambah wawasan.

Terus-menerus merasa bodoh dan kurang, memang lah koentji. Intens menyaksikan orang-orang yang jauh lebih pintar, juga koentji. Pada akhirnya, koentji untuk improvisasi diri, tak lain tak bukan adalah terus menyadari kalau diri ini terlalu bodoh untuk tenang-tenang saja tanpa membaca.


Sebenarnya, menjadi anggota dari book club juga sangat membantu sih. Kita jadi punya perasaan wajib untuk membaca buku untuk kemudian didiskusikan dengan aggota lain. Membaca tidak lagi hanya menjadi kegiatan personal yang hanya mengandalkan mindset pribadi, tapi juga menjadi bahan diskusi untuk melihatnya dari berbagai sisi.

Tapi berhubung saya bukanlah anggota dari bookclub manapun, saya jadi tidak bisa menerangkan poin ini dengan lebih baik. Mencari kawan yang bisa diajak berdiskusi soal buku, yhaaa juga sulit sih di lingkaran pertemanan saya. Entah terhalang waktu, terhalang selera, atau kecocokan, dll.

Hhhh…

(Konten tidak disponsori)

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *