Privilege Itu Hoki, Sodara-sodara! Kurang Keren untuk Disombongkan!

Understand that the right to choose your own path is a sacred privilege. Use it. Dwell on possibility. (Oprah Winfrey)

Saya membaca sebuah kalimat yang menarik saat sedang mengulik-ulik sebuah akun milik aktifis wanita di sosial media; privilege gap is real. Kalau kata Mbak Afutami dalam salah satu artikel tulisannya, sampai saat ini masih belum ada padanan yang benar-benar tepat untuk menggambarkan istilah ‘privilege group’ dalam tataran sosial dan politik di Indonesia. Kalau di Amerika, katanya istilah ini ada dan nyata. Terutama untuk mereka yang datang dari kalangan kulit putih-protestan, ada hak istimewanya sendiri begitu.

Saya jadi tertarik dengan bahasan privilege karena di saat yang sama setelah membaca artikel terkait, saya akhirnya teringat dan kembali sadar bahwa: saya bagian dari privilege group di Indonesia. Saya muslim, tinggal di Jawa, heteroseksual dan dari keluarga berstatus solid middle-class. Singkat kisah, saya banyak dimudahkan oleh berbagai kondisi tersebut sampai dengan santainya bisa mengetik naskah buku ini pakai netbook sendiri lengkap dengan unlimited wifi tanpa kepikiran harus makan apa besok.

Derajat Manusia Itu Dibedakan dari Ketaqwaannya, Gaes, Bukan Etnisnya!

Saya kuliah di salah satu kampus negeri dan hidup menjadi mahasiswa perantahuan di kabupaten itu (walau jarak rantaunya hanya setengah jam perjalanan darat sih). Secara umum, mahasiswa di kampus tersebut menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan santai sehari-harinya dan hanya sebagian saja yang berbicara dengan bahasa Madura. Tapi ada hal lucu, yang saya sadari di tahun pertama kuliah.

Dalam beberapa kesempatan, terkadang dosen akan menanyakan asal daerah kami saat kuliah berlangsung. Dari situ saya sadar, ada perasaan malu yang kentara saat kawan-kawan yang datang dari kabupaten yang sama dengan saya menyebutkan daerah asalnya. Kenapa? Simply karena mahasiswa lain dan dosen akan auto-ngakak saat tahu mereka dari kabupaten saya dan akan segera menggoda dengan kalimat “reng madureh, madureh!” (orang madura, madura). Mungkin terdengar lucu, tapi bukannya ‘candaan’ itu amis bau SARA, ya? Kawan-kawan saya yang memang berbahasa Madura setiap harinya mendadak jadi merasa malu dengan identitas kulturalnya itu. Tiba-tiba mereka jadi rajin belajar berbahasa Jawa dan berusaha menghilangkan aksen khas Madura-nya saat berbicara dalam bahasa Indonesia.

Salah satu kawan korban godaan SARA di atas malah sempat mengutarakan keiiriannya dengan saya, yang tak jelas identitas budayanya ini. Katanya, “enak ya, kalau kamu pake bahasa Indonesia, nggak kedengaran (aksen) Madura-nya sama sekali…”. Saya sedih ketika kawan itu secara tak langsung meyayangkan identitas budayanya hanya karena ditertawakan seperti itu. Itu jelas bukan keburukan dan tak ada yang salah dari etnis bawaannya. Dan dengan hati gondok, saya membalas,

“Lah, terus salah kalo aksen kamu Madura banget? Kamu malu jadi orang Madura? Kamu ngerasa anak-anak Jawa yang ngetawain kamu itu derajatnya lebih tinggi dari kamu? Sadar, Say! Di TV, orang Jawa itu penggambarannya mentok sama 2 peran! Satu ningrat, satu pembokat! Inget itu baik-baik dan santai pas diketawain, toh mereka bukan ningrat!”

Sungguh kalimat yang benar kejam dan tak kalah SARA! Padahal dirinya sendiri setengah Jawa! Jawa yang kental pula garis turunannya! Bisa-bisanya menghina etnis sendiri!

Tak ada yang salah dengan identitas kultur setiap orang di Indonesia, kan judulnya Bhineka Tunggal Ika. Negara merangkul setiap perbedaan dari segi manapun, kok ya orang-orangnya masih merasa lebih rendah dan lebih tinggi dari orang lain? Kalau dalam agama Islam, yang membedakan kualitas umat itu hanya tingkat ketaqwaannya, wahai handai taulan, bukan etnisnya, lebih-lebih aksen bicaranya!

Tapi teuteup, privilege itu ada. Selalu ada kelompok yang ‘terunggulkan’. Kalau di Indonesia, sebut saja salah satunya; Jawa (pulau dan etnis). Saya ingat salah satu kawan asal Kalimantan di pesantren sempat bilang ke saya, “aku mau disebut pinter, ya pinternya anak daerah doang. Kalau kata orang sana, belum beneran pinter kalo belum diadu di Jawa”. Dan kalimat itu sampai di telinga saya dengan arti ‘Jawa adalah standar’. Indonesia itu ‘Jawa dan lain-lain’. Secara, akses informasi dan pendidikan lebih optimal di Jawa, pusat pemerintahan ada di Jawa, pun pusat ekonomi. Sebagian besar presiden yang pernah menjabat juga orang Jawa. Menjadi orang Jawa atau tinggal di Jawa, mau tak mau adalah privilege. Dan mungkin sebagai bagian dari yang diistimewakan, secara tak sadar membuat kita yakin bahwa kita punya unshakable back-up dan tak perlu berhati-hati dalam memperlakukan mereka yang dari kalangan non-privilege.

Ini tak hanya berlaku di dalam etnis. Urusan gender, agama bahkan orientasi seksual bisa sangat dipengaruhi oleh arogansi kaum privileged. Saya pikir, tak masalah kalau kita tak cocok, tak sejalan ataupun bertentangan dengan apa-apa yang dianut oleh kelompok lain, toh kita punya kepercayaan masing-masing. Saya sendiri Muslim dan bukan pendukung gerakan LGBT, tapi ya sudah, sampai di situ saja. Ketidakcocokan tak bisa langsung ditranslasi sebagai kebencian, kan? Saya juga tak bisa memaksakan ‘kebenaran’ yang saya anut pada orang lain, kan? Sederhananya, perbedaan tak lantas harus membuat saya menjadi orang jahat. We simply didnt match each other, either in belief, thought nor value. Dan perbedaan tak menjustifikasi kita untuk saling bermusuhan.

Privilege Gap: Sebuah Jarak yang Sungguh Nyata

Kalau dipikir-pikir, sebagian besar privilege itu sifatnya embedded, sudah menempel dengan diri kita tanpa harus diusahakan. Seperti etnis, latar belakang keluarga (sosial dan ekonomi), gender, tampang bahkan agama (ini sebagian sih, tapi tak sedikit juga dari kita yang beragama karena faktor ‘budaya dan turunan’). Mari sebut, privilege ini sebagai starting point dalam hidup kita, yang mana sedikit banyak akan memberi dampak yang cukup signifikan sama proses tumbuh kembang kita.

Selama menulis draft ini, saya berkesempatan untuk mengikuti pelatihan metodologi mengajar baca Qur’an dan harus menjalani ‘training camp’-nya dalam waktu 3 hari 2 malam.

Selama 3 hari 2 malam itu, saya harus tinggal dengan beberapa orang yang datang dari daerah-daerah lain di kabupaten saya, sebagian besar dari mereka datang dari bagian terpelosok dari kabupaten kecil saya, tingkat pendidikannya tak lebih dari SMA dan rata-rata langsung menikah setelah lulus sekolah. Yang sarjana? Cuma saya seorang. What do you expect? Tak banyak sarjana yang mau jadi guru ngaji di kampung dengan bayaran ala kadarnya. Bahkan dalam salah satu sesi pelatihan, mentor kami sempat bercerita bahwa ada seorang sarjana yang sebelumnya mengikuti pelatihan ini dan bilang,

“lah cuma jadi guru ngaji, sudah untung ada sarjana yang mau…”

‘Sehina’ itu lah posisi guru ngaji kampung di mata ‘sarjana’. Kurang fancy, bergaji minim, tak bisa disambi live instagram karena riya’ prone dan lain sebagainya. Ndilalah, banyak dari guru ngaji kampung ya paling mentok lulusan SMA dan bekerja semata untuk mendapatkan ridho Allah ta’ala (atau memang karena tak banyak pilihan lain). Itu yang sering saya temui di kabupaten saya sendiri.

Di situ akhirnya saya melihat ada privilege gap yang nyata antara saya dengan peserta pelatihan yang lain. Saya berkesempatan mengenyam pendidikan sampai sarjana, mereka tidak. Saya pernah beberapa kali mengikuti perlombaan tingkat nasional sampai lokal, mereka tidak. Saya sering dihadapkan dengan berbagai situasi sulit yang menantang ketahanan mental, mereka juga tidak.

Saat kami harus maju satu persatu ke depan untuk praktek mengajar, kawan-kawan lain kesusahan karena tak biasa. Ada yang bolak balik WC, ada yang suaranya mendadak hilang, ada yang kakinya terus bergetar dan lain-lain. Saat di tes kompetensi membaca Qur’an-nya pun, beberapa dari kawan-kawan ini ada yang langsung kaku dan sulit bernafas saat disalahkan sekali oleh penguji.

Saya yang berangkat pelatihan dengan mental, ‘ah cuma tes ngajar, udah sering…’ dan ‘ah cuma tes ngaji, bin nadzor (dengan melihat Qur’an) pula,’ jelas mendadak sadar.

Inilah privilege.

Saya mendapatkan banyak kesempatan untuk memaksimalakan potensi saya, hidup di lingkungan yang kompetitif dan progresif (tempe macam apa ini?), melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tanpa kesulitan biaya dan lain-lain. Sedangkan ada banyak orang yang kesulitan untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan baik seperti saya, entah karena kesulitan di bidang ekonomi atau keluarga yang kurang mendukung untuk terus bersekolah.

Bahkan dalam satu kesempatan, salah seorang kawan di pelatihan memuji saya, “Adek pinter ya, berani maju ke depan. Nggak kelihatan kaku, tiap ditanya-tanyain bahasa Inggris sama Ustad, bisa. Kalau disalahkan juga kelihatan biasa aja…”

Hancur hati ini, Qaqa.

Dulu, saya merasa kualitas-kualitas ini adalah hal yang biasa dan tak istimewa. Saya suka merendahkan mereka yang tak bisa melakukan hal sesepele bicara di depan orang lain dan mengungkapkan idenya. Saya selalu mempertanyakan, ‘apa sih susahnya? Ngomong doang…’. Saya lupa, kemampuan ‘ngomong’ saya itu adalah hasil tempaan dari proses pendidikan terbaik, di tempat terbaik dan dengan pembelajaran terbaik yang bisa saya dapatkan. Tapi segala hal ‘terbaik’ itu pada akhirnya bukan milik semua orang dan banyak yang tak berkesempatan untuk mendapatkannya.

Pikiran saya melayang kemana-mana. Ada banyak skenario dimana seseorang tak bisa berkembang dengan maksimal dan tak jarang itu semua dimulai dari masa-masanya saat masih di kandungan, dan itu akarnya juga datang dari privilege. Beruntunglah mereka yang lahir dari seorang ibu dengan pengetahuan nutrisi dan gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jabang bayi. Syukurlah mereka yang lahir di keluarga yang mapan sehingga ibu mereka tak harus sibuk mempertaruhkan kesehatan bayinya karena harus bekerja keras saat hamil. Berbahagialah mereka yang masa kecilnya selalu dijaga kesehatannya oleh orangtua dan diakomodasi dengan asupan makanan dan kondisi ideal.

Keberuntungan-keberuntungan ‘kecil’ sejak masa kandungan itu, tanpa kita sadari juga mempengaruhi perkembangan kita dan memberi kesempatan yang lebih untuk memaksimalkan otak kita. Dan keberuntungan-keberuntungan itu adalah privilege. Privilege bagi mereka yang lahir dari ibu dan keluarga yang beruntung.

Kesadaran yang mendadak lewat di kepala saya ini membuat saya melek dan mengutuk diri saya yang sebelumnya, yang lancar sekali menghina kebodohan orang lain.

Ah, harusnya aku nggak gampang ngehina mereka yang kemampuannya di bawah aku. Siapa tahu sebenarnya mereka berkesempatan buat lebih hebat dari aku, tapi nggak punya privilege yang cukup untuk tumbuh berkembang sesempurna mungkin. Buat mereka sampai di titik yang sama dengan aku, mereka pasti harus kerja keras, dua tiga kali lipat dari usahaku karena starting point yang beda.

Saya yang punya bakat sombong dalam keadaan apa pun mendadak tak bisa sombong dan merasa menjadi yang terbaik pada saat itu. Ah, sombong terus dari lahir. Lupa kalau semua kebaikan dan keberuntungan dalam bentuk privilege ini pada hakikatnya pengasihan dari Allah. Kalau saya dipilih sama Allah buat hidup dan tumbuh dalam keadaan seberuntung ini, jelas saya punya tanggung jawab yang lebih besar untuk berbagi dan mengasihi mereka yang tak seberuntung saya. Apa pun kebaikan dan kelebihan yang saya punya pada hakikatnya menjadi tanggung jawab moral saya untuk dikembalikan kepada orang lain. Saya tak bisa merasa puas dan bangga hanya karena ‘punya’. Dibalik kata ‘punya’, selalu ada kewajiban untuk ‘berbagi’.

Pada saat itu juga, saya yang masih belum sepenuh hati untuk melanjutkan karir ‘guru ngaji’ orangtua saya, langsung merasa legowo dan nerimo. It’s okay. Saya mungkin bisa menggeluti profesi lain yang kelihatan ‘lebih fancy’, tapi saya menemukan tempat di mana saya bisa ‘memberi’ dengan maksimal. Di sini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *