Hafidz Qur’an Sampai Akhir Hayat: Mengenang Kawan Lama

Namanya Ita. Panggilan sayangnya, Itachi. Dia tak punya sharingan seperti Uchiha Itachi, tapi yang jelas matanya tetap istimewa. Totalnya ada empat. Hahahaha. Ita, adalah teman saya sejak masuk pesantren. Dia tipikal anak Madura yang tekun dan pekerja keras, pintar dan pantang mundur. Rumahnya dekat saja dari pesantren kami, hanya sekitar 15 menit perjalanan darat menggunakan taksi—orang Madura di daerah pesantren kami menyebut angkot dengan sebutan taksi. Walau rumahnya dekat, sama seperti kami yang datang dari luar pulau, Ita tak bisa seenaknya izin pulang dari pesantren. Walau teuteup, orangtuanya akan datang berkunjung ke pesantren setiap ada kesempatan.

Ita adalah anak kebanggaan orangtuanya. Dia anak yang rajin dan tak pernah melawan, selalu ranking pertama dan tak terkalahkan saat SD. Bergelar siswa unggulan dan aktif dalam berbagai kegiatan dan perlombaan di masanya. Masuk pesantren juga tak membuat dia kalah dari anak lain, walau tak lagi selalu menempati ranking satu, dia adalah salah satu anak yang ‘tak bisa dikeluarkan dari daftar anak terpintar di angkatan’ kami. Saat kami masih menjadi anak baru, saya kebetulan ditempatkan dalam satu kelompok tasmi’ yang sama dengan Ita. Awal mula menghafalkan juz 30, saya yang sering kesulitan dalam menghafal selalu mengagumi Ita yang telah membawa hafalan juz 30 dari sebelum masuk pesantren. Bacaannya bagus dan hafalannya lancar. Suaranya memang tidak seindah Ratu yang bergelar qariah dari TK, tapi suaranya lantang dan ‘Ita bangeet’.

Saat ujian, dia adalah definisi sesungguhnya dari sebuah ‘keistiqomahan’. Dia akan duduk di bawah tiang masjid yang sama di setiap kesempatan, menghafalkan materi ujian dengan lantang dan fokus tanpa terpengaruh berisiknya warga sekitar. Dia tidak akan belajar secara berkelompok dengan yang lain, tapi dia bukan tipe yang pelit ilmu dan sulit untuk ditanya. Dia juga salah satu anak dengan kemampuan Bahasa Arab terbaik di angkatan kami, dengan mudah memahami teks berbahasa Arab rumit dan selalu menjadi andalan kami di setiap lomba berpidato Bahasa Arab antar angkatan.

Dia juga anak yang unik. Salah satu keunikan dari Ita adalah jari jemarinya. Saat membuka telapak tangannya, kesepuluh jarinya pasti tidak bisa lurus sebagaimana tangan orang lain, selalu tertekuk di setiap sendinya dan menjadikan kesepuluh jarinya keriting tak beraturan.

Ita juga kepercayaan Nyai. Setiap Nyai merasa angkatan kami sedang membuat masalah baru, beliau pasti menugaskan Ita sebagai utusan untuk memeriksa anak-anak angkatan kami satu persatu. Entah memastikan semua anggota hadir untuk setoran di masjid, tak lalai sholat berjamaah, tidak nyakit di kamar atau bersembunyi di kamar mandi asrama.

Ita juga seorang penghafal Qur’an yang gigih. Dia rela menghabiskan masa liburan kuliahnya dengan mengikuti Dauroh Qur’an di Kalimantan untuk melancarkan hafalannya dan mengikuti setiap kesempatan khotmul Qur’an yang diadakan di dalam atau luar kampusnya. Role model-nya adalah Ulum, kawan kami dengan hafalan terbaik di angkatan. Di setiap kesempatan, dia akan menceritakan tentang Ulum ke setiap anggota keluarganya sambil berharap suatu saat nanti hafalan Qur’an-nya akan selancar Ulum. Ita adalah seorang hafdz Qur’an, bukan lagi ‘penghafal Qur’an’ selevel saya. Dialah simbol hafidz Qur’an sampai mati di angkatan saya.

***

7 Januari 2017, seminggu setelah ulang tahun Ita yang ke 2

Siang yang pengap, saya sedang tidur-tiduran di kasur sambil bermain hape saat chat dari Ulum muncul di notifikasi.

“Wang, aku mau berbagi air mata sama kamu…”

Apaan nih anak, air mata kok dibagi-bagi…

“Maaf Lum,” ketik saya balik sambil tertawa-tawa,  “aku temen yang jahat. Cuma mau berbagi tawa, kalau air mata, bagi ke yang lain aja…”

“Wang? Kamu nggak tau? Ita meninggal, Wang! Itachi temen kita meninggal…”

Heh?

Mana ada Ita kita meninggal?

“Buka grup Wang, buka grup. Anak-anak sudah konfirmasi…”

Saya terburu-buru membuka grup whatsapp angkatan kami, yang chat barunya telah menyentuh angka 200an. Luapan pesan dari semua kawan seangkatan membanjiri grup chat itu, isinya pesan-pesan berisi tangisan dan ketidakpercayaan atas berita meninggalnya Itachi. Saya membaca semua chat itu dalam diam dan khidmat. Mencermati isinya satu persatu, membuka setiap gambar bukti yang mengiringi kabar tersebut.

Kepala saya mendadak kosong, tapi badan saya bergerak kilat menuju ibu saya dalam keadaan panik.

“Bu! Bu! Aku mau ke Madura sekarang juga!” Ibu saya yang akan tidur siang mendadak bangkit, terkaget akan kepanikan saya, “Aku mau ke Madura Bu, sekarang! Aku harus ke Madura!”

“Iya! Iya, kenapa? Kenapa di Madura?” ibu saya ikut panik dan berusaha menarik tangan saya untuk duduk,

“Ita Bu, Ita….”

Dan air mata saya akhirnya jatuh. Saya menangis histeris dan tidak bisa mendengar apa-apa yang dikatakan ibu saya dan bapak yang menghampiri kami. Saya hanya bisa menyebut nama Ita berulang-ulang di sela tangisan saya. Rasa kaget bercampur luapan kesedihan itu membuat hati saya hancur. Saya belum bisa menerima. Umur kami belum 25 tahun, dan Ita telah berpulang. Ita masih terlalu muda untuk pergi, kenapa Ita pergi sekarang? Ita yang bercita-cita untuk menjadi orang sukses dan mengangkat derajat orangtuanya, Ita yang bermimpi punya hafalan Qur’an mutqin sebagaimana hafalan Ulum, Ita kawan kami yang tekun dan pekerja keras…..

“Ita meninggal Bu, Ita meninggal… Ita nggak ada lagi…. Ita yang kemarin jadi wali kelas adek waktu pengabdian, Bu…” saya terus menangis histeris sambil berusaha menuturkan alasan saya ingin ke Madura.

“Yang jadi wali kelas adekmu waktu kelas 3? Yang pakai kacamata itu?” ibu saya juga ikut panik.

“Hiks…hiks… iyaaaa…. Ita yang itu…”

“Innalillahi wa inna ilayhi rooji’uun…” ucap bapak dan ibu saya berbarengan. Tak banyak yang saya ingat pada saat itu karena isi kepala saya blank, hati saya kalut. Saya hanya ingat saat menghubungi Ulum saat itu untuk menemani saya pergi ke Madura, malam itu juga. Kami bertemu di terminal dan saling berpelukan dalam tangis. Ita kami telah pergi, Ita kami meninggalkan kami.

Di dalam bis selama perjalanan menuju Surabaya, kami berdua hanya saling diam dan sesekali menangis mengingat Ita. Beberapa kali saya mengecek grup whatsapp untuk memastikan siapa yang akan berangkat melayat ke rumah Ita esok hari, sekaligus menghubungi Husna, salah satu kawan kami di Surabaya untuk menumpang tidur malam itu. Kami semua masih sedih dan kalut, khotmul Qur’an segera diadakan di grup chat dan kami membaca bagian juz kami sambil terus menangis.

***

Pagi hari, saya, Ulum dan Husna bertolak dari Bungurasih menuju Sumenep. Di Bangkalan, 2 kawan kami yang lain, Maya dan Uci juga turut naik ke bis kami untuk melayat juga. Tak banyak obrolan yang kami lakukan dan kami hanya fokus dengan kesedihan kami sendiri. Kami sampai di seberang rumah Ita siang hari. Di sana telah menunggu, Auris dan Didin, kawan kami yang akan masuk bersama menuju rumah duka. Kendaraan dimana-mana, parkir di pinggiran jalan, pelayat keluar masuk silih berganti menyampaikan bela-sungkawa.

Saat kami masuk ke halaman rumah Ita, ibu Ita yang sedang menerima pelayat segera berlari berhambur menuju kami dan kembali menangis histeris sambil memeluk Ulum. “Ulum, nak… Kamu dateng, Ibu nunggu kamuuu… Ita nggak ada, Lum…. Ita pergi… Nduukk, kalian datang bukan buat nikahan Ita, tapi buat meninggalnya Ita….”

Tangis kami pecah kembali. Sesaat, kami masuk ke dalam rumah Ita untuk mendengar kronologi meninggalnya Ita dari anggota keluarga. Tante kesayangan Ita, yang selalu dia ceritakan pada kami semasa di pesantren yang menerima dan menemani kami. Ita, telah berada di rumah selama 40 hari sebelum meninggal. Dia kembali dari tempat kuliahnya di Jakarta dalam keadaan kuyu dan sakit. Menurut diagnosis dokter, Ita terkena tipes. Umumnya, saat terdiagnosis tipes, dokter akan memberi pantangan dalam mengkonsumsi makanan tertentu agar tidak memperparah penyakitnya, tapi menurut kesaksian Ita, dia tak mendapatkan larangan tersebut dan terus memakan makanan yang ia suka.

Saat belum sembuh benar, Ita juga sempat pergi ke Malang untuk mengikuti kompetisi puisi Bahasa Arab di sebuah universitas, dan kawan-kawan kami yang kebetulan tinggal di Malang menemui Ita untuk kemudia merayakannya dengan rujakan buah. Kembali dari Malang, sakit Ita semakin parah dan akhirnya dia memilih kembali pulang ke Sumenep.

“Ita, meski sakita parah Dek, ndak pernah nyusahin…. Diem terus dia. Pernah saya masuk ke kamarnya, badannya sudah gemeter kedinginan. Dia ndak manggil siapa-siapa dan terus nahan sendiri. Saya sempet marahin dia, dia cuma bilang ndak mau nyusahin orang lain…” kisah tante Ita sambil sesekali terisak.

Ita, yang semakin lemah keadaannya tak lagi mampu bergerak sehingga untuk melepaskan hajat, dia harus dibantu anggota keluarganya yang lain. Sampai suatu ketika, saat membuang hajat, darah ikut mengucur dari dubur Ita. Pihak keluarga yang tak paham, mengira Ita sedang haid dan hanya memakaikannya pembalut. Namun, Ita sadar ada sesuatu yang salah.

“Saya kira Ita haid, Dek… Tapi Ita bilang, ‘itu bukan haid Tante, aku nggak haid’. Saya agak ndak percaya, Dek. Soalnya Ita sudah lama ndak haid, jadi saya bilang ‘itu haid, Nak.’. Ita itu Dek, meski sudah ndak berdaya, dia masih sadar 100 persen Dek. Dia masih bilang waktu itu, ‘darah haid kan keluar dari vagina, ini keluar dari dubur Tante…’. Kami semua panik, Dek. Jadi malam itu, Ita kami bawa ke puskesmas.”

Puskesmas setempat tidak sanggup menangani masalah Ita dan ia dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Di rumah sakit, keadaan Ita dapat dikatakan mulai membaik dan ia mulai mau menelan makanannya. Orangtua dan tantenya yang senang, segera memenuhi semua permintaan makanan Ita.

“Lewat tengah malem, Dek… Jam 2-an, Ita bangunkan saya. Dia bilang, ‘Tante, aku mau sholat. Aku kangen tahajjud, aku mau sholat tahajjud,’. Jadi saya wudhu’ kan Ita, Dek. Ya ndak kenapa-napa, Ita sudah agak baikan. Meski sholatnya cuma bisa sambil baring, Ita tetep terus sholat. Tapi, Dek… paginya…”

Tente Ita kembali menangis. Dan kami sudah mengira kelanjutannya.

Kondisi Ita tiba-tiba drop dan nafasnya satu-satu, mulai kritis. Tante-nya yang panik segera berlari mencari dokter yang berjaga. Dan saat ditagani, Ita sudah dalam keadaan sakaratul maut.

“Saya harus nemenin Ita, Dek…. Hati saya sakit, saya ndak kuat ngelihat Ita kesakitan. Tapi saya harus nemenin Ita, bapaknya sudah pingsan itu. Ibunya juga sudah histeris. Kalau saya ndak temenin, siapa yang mau nuntun Ita? Saya ya ndak kuat Dek…”

Di detik-detik terakhirnya, Ita yang berminpi untuk punya hafalan Qur’an mutqin itu masih memaksakan diri untuk membaca ayat-ayat Qur’an. Tante-nya yang sadar akan kemauan keras Ita untuk terus mengaji di saat-saat terakhirnya mulai membujuk Ita untuk melafalkan asma Allah saja untuk mempermudahnya. Tapi Ita, Ita kami masih berpegang teguh pada hafalannya. Dia terus mengaji, bibirnya terus bergerak walau nafasnya putus-putus. Dia terus mengaji, mempersembahkan hafalan Qur’an-nya pada Yang Maha Kuasa di penghujung hidupnya.

Sampai akhir.

Sampai selesai nafasnya.

Ita, meninggal tanggal 6 Januari 2017. Ita, kawan kami yang tekun dan pekerja keras, meninggalkan kami seminggu setelah ulang tahunnya yang ke 21. Semoga Ita kami, diterima Allah sebagai hafidz Qur’an yang kaffah dan terselamatkan di akhirat bersama keluarganya. Dan semoga, kami semua dapat menyusulnya dalam keadaan husnul khatimah sebagai seorang hafidz Qur’an yang kaffah.

 

In memoriam, our friend, our sister, part of our big family.

Nur Athifah (1994-2017)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *