Jurnal Tahfidz FAQ: Hal-hal yang Sering Ditanyakan pada Penghafal Qur’an

Saya selalu menghindari obrolan tentang tahfidz Qur’an dengan orang-orang yang benar-benar tidak mengetahui apapun tentang proses menghafal Qur’an (walau saya juga bukan ahlinya). Itu karena biasanya, saya harus dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung repetitif dan judgemental sampai saya harus menjelaskan dari awal tentang, seperti apa sebenarnya urusan hafal-menghafal Qur’an itu. Trus, kenapa saya memilih untuk menulis post ini? Yah karena saya pikir, ada baiknya saya berbagi pengetahuan dan opini kepada khalayak massa agar urusan ini terang dan lurus.

DISCLAIMER: semua jawaban saya berbentuk opini. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tidak bisa dijadikan pakem, karena saya juga tidak benar-benar berilmu untuk urusan ini.

Wah, kamu hafal Qur’an? Berarti, kamu nggak boleh pacaran, ya?

Tunggu…. Kalau saya tidak hafal Qur’an, pacaran jadi halal gitu?

Wah, berarti aku punya temen hafidz Qur’an dong?

Menurut pendapat pribadi saya, penghafal Qur’an dan hafidz Qur’an harus dibedakan. Karena walaupun secara linguistik artinya tak jauh beda, kata ‘hafadza’ yang mendasari kata ‘haafidz’ itu juga bermakna ‘menjaga’ dan bukan sekedar ‘menghafal’. Bagi saya, tak semua orang yang menghafal Qur’an bisa disebut hafidz Qur’an. Contohnya, saya yang ngawur ini. Saya jelas belum menjadi hafidz Qur’an. Saya masih dalam tahapan ‘menghafal’. Hafalan Qur’an itu ada di mulut dan lumayan menempel di otak, tapi belum sampai mengalir ke setiap tetes darah saya (jiah). Belum menjadi keseharian, belum menjadi adab dan tingkah laku, belum menjadi karakter. Penghafal Qur’an yang sudah sampai di tingkat aplikasi harian lah yang bagi saya pantas disebut hafidz Qur’an. Saya mah beluuuum.

Ngafalin Qur’an kok tingkahnya begitu?

Misal kamu bicara ini di depan penghafal Qur’an, kemungkinan besar dia akan muntah darah saking kesalnya. Hahaha.

Penghafal Qur’an bukan orang yang tak akan pernah berbuat dosa, Gaes. Hafal Qur’an tidak lantas membuat kami berganti spesies menjadi malaikat. Kami masih manusia, masih berbuat salah, masih menyakiti hati orang lain, masih dzalim pada sesama makhluk Allah, masih belum punya tiket free-pass surga. Memang sejatinya, Qur’an akan membantu ‘pemegangnya’ untuk berjalan di jalan kebaikan dan terlindung dari sifat buruk, tapi bukan berarti kami pasti tak akan pernah berbuat salah.

Manusia tidak pernah bikin dosa itu mustahil, gaes.

Malahan saya kenal dan tau beberapa orang, yang hafal Qur’an tapi karakternya buruk dan tak malu berbuat dosa. Jadi baiknya, kalau mau judge seseorang tentang kebaikan dan keburukan, lihat kualitas pribadinya. Bukan nasabnya, pamornya atau pencapaiannya.

Enak ya, udah terjamin masuk surga kalau hafal Qur’an…

Aamiin. Tapi, masih berhubungan erat dengan pertanyaan sebelumnya. Orang-orang yang menghafal Qur’an (sepaham saya) tidak terjamin masuk surga tanpa icip-icip neraka. Memang, Allah memberikan keutamaan ini itu kepada penghafal Qur’an, tapi menurut saya, penghafal Qur’an yang mana dan seperti apa yang terjamin itu? Toh sebagaimana saya tulis di poin kedua, masih ada saja penghafal Qur’an yang tak malu berbuat dosa. Mungkin ada ribuan sampai jutaan orang yang hafal Qur’an, tapi dari sekian banyak nominal itu, berapa persen yang meninggal tetap sebagai hafidz Qur’an? Berapa persen yang bisa mempertahankan hafalan dan kebaikannya? Berapa persen yang Allah ridhai untuk masuk surga tanpa transit di neraka?

Tapi, kan… Penghafal Qur’an itu makhluk pilihan Allah, masa’ ada yang masuk neraka juga?

Menghafalkan Qur’an itu ‘survival of the fittest’, Sodara-sodara. Anda jelas ‘terpilih’ untuk sampai hafal Qur’an, tapi Anda belum tentu terpilih untuk masuk surga tanpa mampir ke neraka. Hanya yang pantas yang berhak. Semoga saya dan Anda semua termasuk dari orang yang diridhoi masuk surga, aamiin.

Apa orang boleh tau tentang jumlah hafalan kita?

Entah, hehehhe. Saya tidak yakin apakah orang lain boleh tau tentang jumlah hafalan kita. Dulu, ketika saya masih di pesantren, men-tracking jumlah hafalan teman seangkatan adalah wajib bagi saya. Saat ada kawan yang jumlah hafalannya lebih banyak atau setingkat lebih cepat proses menghafalnya daripada saya, saya akan terpacu untuk lebih rajin lagi dan meningkatkan proses menghafal saya. Tapi, kami mah tidak saling menyembunyikan jumlah hafalan karena, mau disembunyikan juga pasti ketahuan. Tapi, biasanya saya cenderung tidak bicara mengenai hafalan Qur’an kepada orang yang, katakan saja tidak benar-benar paham urusan menghafal Qur’an atau tidak berkecimpung langsung dengan program menghafal Qur’an. Ya buat apa juga saya ujug-ujug bicara dan mengklaim diri sebagai yang paling tau? Mereka tau pun, saya biasanya menghindari penyebutan jumlah hafalan, cukup bilang bahwa saya ‘dalam proses menghafal dan belum selesai’.

Tidak bohong, kan? Hehehehe.

Saya hanya berusaha berhati-hati untuk membicarakan hal ini karena, well… saya belum berkapasitas. Miskin ilmunya. Bego orangnya. Belum mampu menghadapi judgement semena-mena oknum masyarakat yang hobi memasang ekspektasi setinggi langit untuk penghafal Qur’an.

Bener nggak sih, kalau kamu hafal Qur’an trus lihat maksiat dikit, langsung hilang hafalannya?

Sepengetahuan saya, memang ada penghafal Qur’an yang hafalannya ‘sensitif’. Lihat maksiat sekali, hilang satu juz. Tidak mengaji sehari, sariawan bibirnya. Dan menurut saya, tipe-tipe orang seperti ini yang beruntung. Yah kan enak, bikin salah sedikit langsung jatuh tegurannya. Tipe yang benar-benar terjaga gituuu. Tapi ya ada juga yang hafalannya tetap terjaga walau maksiat terus berjalan. Dan saya pikir, orang-orang yang seperti ini yang patut waspada. Takutnya, ini bentuk ‘pembiaran’ Allah. Dibiarkan begitu saja, trus dilaknat di akhir cerita. Kalau saya? Saya termasuk orang yang hafalannya biasa saja. Jika lama tak mengaji, ya luntur hafalannya. Kalau sedang rajin mengaji, ya lengket hafalannya. Pernah mendapat ‘teguran’? Iya, beberapa kali. Tapi kalau diukur-ukur, saya ini termasuk dari golongan yang biasa-biasa saja pokoknya.

Apakah boleh penghafal Qur’an ikut kompetisi Qur’an seperti MTQ dll?

Pertama, tergantung guru. Kyai-kyai besar di beberapa pesantren tahfidz melarang santrinya untuk ikut dalam kompetisi Qur’an. Jadi, saya sering bertemu dengan penghafal Qur’an yang hafalannya ciamik tapi menolak ikut kompetisi dan sejenisnya karena larangan gurunya semasa nyantri. Mundur sajalah kalau dipantang guru. Sebagai seseorang yang percaya dengan ‘ridho dan keberkahan menaati guru’ (walau tetap minim takzim dan maksimal ndableg), saya merasa urusan itu hukumnya wajib dipenuhi.

Kedua, tergantung niat. Kalau guru tidak memberi pantangan santrinya untuk ikut dalam lomba (seperti saya, hehehe), maka yang kemudian harus dijadikan pertimbangan adalah niat. Saya pernah beberapa kali mengikuti kompetisi, mulai dari cabang hifdzil sampai tafsir (tidak pernah tilawah atau tartil karena, suara saya serak-serak becek), pernah menang pula walau hanya sekali (dengan lawan seorang saja, hahaha). Niatnya hanya coba-coba, ingin tau sensasi dan rasanya. Awal mengikuti kompetisi, saya tak pernah menang. Dan rasanya biasa saja, lah memang peserta yang lain hafalannya lebih lancar, bacaannya lebih benar. Sekali menang pun rasanya biasa juga, tidak lantas bangga karena memang lawan saya hanya seorang.

Tapi, saya berhenti mengikuti kompetisi sebelum sampai kali kelima. Saat mendekati waktu lomba, intensitas mengulang hafalan dan mempelajari tafsir Qur’an terasa semakin tinggi. Dan ketika lomba usai, semangat kembali kendor. Saya mulai tak yakin dengan hati saya sendiri. Apa benar saya rajin mengaji untuk memperdalam ilmu Qur’an dan melancarkan hafalan untuk upgrade kualitas diri dan keimanan, atau hanya untuk ‘performa di atas panggung dengan disaksikan penonton dan dewan juri’? Apa benar saya mengikuti lomba untuk fastabiqul khairaat (berlomba-lomba dalam kebaikan) atau hanya untuk menikmati privilege jalan-jalan kafilah, uang saku dan kesempatan memenangkan hadiah ini itu?

Saya tidak tau jelas jawabannya. Tapi munculnya kegamangan itu membuat saya yakin bahwa saya harus berhenti mengikuti kompetisi. Saya pikir, kalau niat saya benar dan murni, saya tak perlu meragukan diri sendiri. Tapi karena saya tau, saya belum memiliki hati yang sungguh bersih, saya memutuskan untuk berhenti. Beberapa pihak mengatakan bahwa lomba-lomba seperti ini baik untuk mendorong masyarakat menuju kebaikan, saya setuju. Tapi mungkin, dorongan ini tidak cocok untuk saya. Jadi pada akhirnya, tergantung hati orangnya saja.

Selain itu, dalam beberapa kasus (atau banyak?), penyelenggaraan kompetisi terkait tidak begitu ‘bersih’. Banyak peserta (atau official perwakilan kafilah) yang memalsukan data diri peserta dengan merekayasa nama, KK, akta lahir dll. agar lolos syarat administrasi yang berlaku. Kebocoran soal juga bukan sekali dua kali terjadi. Jadi saran pribadi saya mah, kalau memang ingin fastabiqul khairaat, pastikan tata cara Anda saat mengikutinya cukup bersih.

Jadi sekian opini saya. Jika masih ada yang ingin ditanyakan, silakeun.

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *