Belajar Membaca Non-Fiksi

Beberapa waktu lalu, saya mencoba untuk menulis naskah buku non-fiksi dan menocba-coba keberuntungan dengan mengirimkannya ke penerbit. Hasil akhirnya? Ditolak habis-habisan. Hahahaha. Salah satu penerbit malah menolak dengan alasan sedang tidak menerima naskah fiksi.

Bingung lah saya.

Saya ingat benar telah mengirimkan naskah untuk lini non-fiksi dan konten yang saya tulis juga bukan sekedar fiktif belaka. Saat saya kembali mengonfirmasi alasan penolakan tersebut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya;

“Walaupun konten yang Anda tulis merupakan kenyataan, penyampaian yang Anda gunakan dalam naskah adalah bentuk cerita. Dan itu masuk dalam kategori ‘fiksi'”

Bingung, mulailah saya berkelana di alam Google untuk memastikan status genre tulisan saya. Dan sama seperti jawaban redaktur, senyata apapun tulisan yang saya buat, selama redaksi yang saya gunakan adalah ‘bentuk cerita’, dia dikategorikan fiksi.

Akhirnya dengan berat hati, saya harus mengakui. Saya tidak bisa seenteng itu menulis naskah non-fiksi hanya dengan bermodalkan pengalaman membaca buku fiksi. Di situ saya mulai bergerak untuk memperluas range bacaan saya, saya harus belajar membaca non-fiksi.

Continue Reading

Privilege Itu Hoki, Sodara-sodara! Kurang Keren untuk Disombongkan!

Understand that the right to choose your own path is a sacred privilege. Use it. Dwell on possibility. (Oprah Winfrey)

Saya membaca sebuah kalimat yang menarik saat sedang mengulik-ulik sebuah akun milik aktifis wanita di sosial media; privilege gap is real. Kalau kata Mbak Afutami dalam salah satu artikel tulisannya, sampai saat ini masih belum ada padanan yang benar-benar tepat untuk menggambarkan istilah ‘privilege group’ dalam tataran sosial dan politik di Indonesia. Kalau di Amerika, katanya istilah ini ada dan nyata. Terutama untuk mereka yang datang dari kalangan kulit putih-protestan, ada hak istimewanya sendiri begitu.

Saya jadi tertarik dengan bahasan privilege karena di saat yang sama setelah membaca artikel terkait, saya akhirnya teringat dan kembali sadar bahwa: saya bagian dari privilege group di Indonesia. Saya muslim, tinggal di Jawa, heteroseksual dan dari keluarga berstatus solid middle-class. Singkat kisah, saya banyak dimudahkan oleh berbagai kondisi tersebut sampai dengan santainya bisa mengetik naskah buku ini pakai netbook sendiri lengkap dengan unlimited wifi tanpa kepikiran harus makan apa besok.

Continue Reading

Hafidz Qur’an Sampai Akhir Hayat: Mengenang Kawan Lama

Namanya Ita. Panggilan sayangnya, Itachi. Dia tak punya sharingan seperti Uchiha Itachi, tapi yang jelas matanya tetap istimewa. Totalnya ada empat. Hahahaha. Ita, adalah teman saya sejak masuk pesantren. Dia tipikal anak Madura yang tekun dan pekerja keras, pintar dan pantang mundur. Rumahnya dekat saja dari pesantren kami, hanya sekitar 15 menit perjalanan darat menggunakan taksi—orang Madura di daerah pesantren kami menyebut angkot dengan sebutan taksi. Walau rumahnya dekat, sama seperti kami yang datang dari luar pulau, Ita tak bisa seenaknya izin pulang dari pesantren. Walau teuteup, orangtuanya akan datang berkunjung ke pesantren setiap ada kesempatan.

Continue Reading

Jurnal Tahfidz FAQ: Hal-hal yang Sering Ditanyakan pada Penghafal Qur’an

Saya selalu menghindari obrolan tentang tahfidz Qur’an dengan orang-orang yang benar-benar tidak mengetahui apapun tentang proses menghafal Qur’an (walau saya juga bukan ahlinya). Itu karena biasanya, saya harus dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung repetitif dan judgemental sampai saya harus menjelaskan dari awal tentang, seperti apa sebenarnya urusan hafal-menghafal Qur’an itu. Trus, kenapa saya memilih untuk menulis post ini? Yah karena saya pikir, ada baiknya saya berbagi pengetahuan dan opini kepada khalayak massa agar urusan ini terang dan lurus.

DISCLAIMER: semua jawaban saya berbentuk opini. Bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tidak bisa dijadikan pakem, karena saya juga tidak benar-benar berilmu untuk urusan ini.

Continue Reading