Wisuda dan Kisah Selanjutnya…

Sebuah selebrasi menuju realita yang kejam

Tanggal 23 Februari di hari wisuda juga tidak ada hal yang menarik. Saya dipaksa bangun sebelum pukul 4 pagi oleh kawan saya untuk didandani, bersiap diri dan menjalani prosesi. Lebih menyebalkan lagi, hiburan saat acara tidak lain tidak bukan adalah penampilan karawitan dari ibu-ibu Dharma Wanita. Saya heran dan merasa greget, kenapa panita menyediakan hiburan mendayu-dayu begitu di acara yang super membosankan seperti wisuda ini? Saya jadi paham, kenapa para pendahulu berkata “sesungguhnya kalian bersusah-susah kuliah hanya agar tau rasanya tidur saat acara wisuda beralngsung”. Kredibel sekali lah ucapan para senior ini.

Continue Reading

Fear of The Unknown

Manusia, memiliki sebuah ketakutan alamiah. Pada hal yang tak mereka ketahui, pada yang misterius, pada yang tak tertangkap mata dan tersentuh kulit, pada yang tak pasti, pada yang tak logis.


Ketakutan mengarahkan manusia pada tuntutan. Tuntutan untuk melawan. Tak menerima hal yang tak terjelaskan. Menolaknya sebagai sebuah ketidakrasionalan

Ketakutan itu menuntun manusia pada sebuah kekacauan. Kekacauan sistem dan norma karena adanya perlawanan pada hal yang tak mereka miliki ilmunya. Menganggapnya sebagai musuh, tak pantas diterima, janggal keberadaannya dan bahaya dampaknya.

Ada saat ketika manusia terlalu menuhankan ego dan akalnya. Lupa bahwa manusia belum sampai pada puncak masanya. Tak ingat bahwa manusia tak pernah cukup pintar untuk menjelaskan segalanya dengan otak.

Islam datang sebagai penjelas. Pelindung. Naungan bagi mereka yang cukup pintar untuk tau kalau mereka bodoh. Cukup cerdas untuk paham bahwa ia tak harus mengetahui segala hal. Cukup piawai untuk menerima bahwa sebuah soal tak harus muncul jawabannya di saat itu, di masa itu, di kehidupan itu.

Islam melindungi akal dan ego manusia pada sebuah pengabdian, penghambaan, penuhanan terhadap zat yang yg berhak menguasai apa apa yang tak manusia miliki. Islam menuntun manusia pada sebuah penerimaan, tentang kewajiban menjadi pintar tanpa kepongahan tak berbatas.

Islam dan iman membuat manusia tau, harus ada penyerahan diri dan penerimaan atas kebodohan pribadi. Hingga manusia tau caranya, untuk hidup cukup dan bahagia tanpa terlalu risau oleh logika. Karena jawaban, tak harus ada sekarang dan terjelaskan hari ini.

Manusia tidak pernah sampai pada puncak masanya. Dunia berkembang, ilmu pengetahuan meluas, jawaban bermunculan. Dan manusia yang Islam dan iman memilih untuk belajar keras tanpa harus jadi budak logika.

Penjelasan akan selalu datang. Jawaban akan selalu muncul. Mungkin esok, lusa, atau 100 tahun lagi.

Continue Reading

Tentang Sebuah Idealisme yang Mendasar

Kita punya rasa takut untuk bodoh, dianggap bodoh dan terlihat bodoh. Ketakutan itu mengarahkan kita pada beberapa hal, salah satunya ‘membenarkan apa kata orang yg kita anggap pintar’. Implikasinya, istilah ‘smart people‘ saat ini dijunjung tinggi sebagai sebuah puncak pencapaian kognitif masyarakat.


Semakin ke sini juga, mulai bermunculan figur-figur publik terkenal dengan personal branding ‘manusia pintar, agamis, logis nan kritis’. Figur-fugur tersebut menjadi jawaban bagi orang-orang bodoh dan orang-orang yang pintar tapi tak sadar. Figur-figur ini memberikan opini pribadinya atas permasalahan sosial ataupun permasalahan pribadi orang lain di hadapan publik dengan gaya logis nan kritisnya.

Fakta dipelintir, nurani disingkirkan, aturan agama dikebalakangkan, hanya logika manusianya yg dibenarkan. Dengan retorika lihai nan ciamik, masyarakat samar akan fakta dan kebenaran dibalik kisah asli. Membenarkan pernyataan dan tudingan figur-figur tersebut dan menganggap mereka yang tak sejalur bukanlah dari kalangan smart people, hanya orang bodoh yang mengetik komentar tanpa otak kata mereka.

Lebih lucunya, figur-figur tersebut makin jumawa. Lupa kalau dirinya tak pernah sempurna. Tak akui kesalahannya dan menyalahkan korbannya. Menggerakkan ‘pengikutnya’ menuju logika tak terbantahkannya. Dan orang-orang mendadak amnesia, bahwa tidak lebih penting menjadi orang baik daripada menjadi orang pintar.

Continue Reading