Thesis Escape: Strayed in Banyuwangi (Part 1)

Berjalan tanpa rencana matang di kota orang adalah salah satu keinginan yang bener-bener aku impikan. Sensasi nyasar, nggak tau arah, ngerasa asing dan clueless menimbulkan efek excited buat aku secara pribadi. Well-planned journey bukan hal yang beneran menarik buat aku, nggak ada surprising effect­-nya sama sekali. Jadi, perjalanan macam biksu Tong San Chong ke barat untuk mencari kitab suci dan Gon Freecs yang berusaha menemukan ayahnya (atau Hachi yang nyari mamanya) jelas jadi inspirasi terbesarku buat menjelajah dengan satu tujuan tanpa list ini itu. Cukup pasang sau tujuan, entah apa aral rintangannya nanti, pikir belakangan!

Continue Reading

Cinta Ketenangan, Cinta Uang

Aku suka sekali dengan uang.

Sebenernya, siapa sih yang nggak suka uang? Kalo bahasa kerennya sekarang sih, money rules everything. Kalau masih ada orang yang nggak tertarik sama uang dan segala macam harta dunia lainnya, orang itu pasti spesies antik dan harus segera dijaga kelestariannya. Secara, tipe orang yang begitu mah sudah langka di dunia saat ini. Rata-rata sudah pada berpulang dan menempati tempat yang baik di sisi-Nya, in syaa Allah.

Jadi, kemarin ini aku sibuk menggalau ria karena uang di ATM tinggal 200 ribu (doang). Sebenarnya masih lumayan banyak ya? Yah memang dasarnya aku aja yang suka panik kalau uang di ATM nggak menyentuh angka 500 ribu ke atas (ih, anak presiden juga kagak, lagak udah kayak sosialita).

Aku seketika bingung, gundah gulana, sibuk mengkhawatirkan masa depan aku yang seakan-akan sudah bisa dipastikan kesuramannya. Besok sarapan makan apa? Makan siang dengan apa? Malam hari makan lauk apa? Bagaimana kalau tiba-tiba ada keperluan mendadak dan aku harus merelakan uang 200 ribu itu pergi seketika? Bagaimana kalau… kalau… kalau…. Dan banyak ‘kalau’ lainnya. Iya, aku kelewat parno sama hal-hal yang akan datang dan belum tentu akan terjadi menyangkut masalah keuangan. I mean, siapa sih yang nggak? Rata-rata orang pasti panik kan kalau uang menipis dan masa depan masih belum jelas. Banyak kekhawatiran berputar-putar di kepala.

Jadi, aku milih duduk dan bermain hape untuk mengalihkan pikiran sesaat. Sampai ketika aku memeriksa pesan di BBM dan merhatiin feed di timilene BBM, aku nemuin sebuah foto yang kece. Foto yang dijadikan display picture oleh salah satu kawan di kampus. Foto yang menampilkan seorang tua renta yang duduk menjaga buah-buahan dagangannya yang diletakkan di atas gerobak. Foto yang sederhana dan sebenarnya nggak terlalu menarik sih. Tapi, itu foto yang buat aku  berpikir lagi bahwa semua kekhawatiran aku tentang uang dan masa depan sama sekali nggak berguna.

Foto seorang tua ranta dengan dagangan di atas gerobak yang bertuliskan, ‘kayfa akhaafu bil faqri wa ana ‘abdul Ghanii’.

Bagaimana aku takut akan kefakiran sementara aku adalah hamba Sang Maha Kaya?

Continue Reading

Jadi Korban Bully

Sekitar seminggu setelah Nyonya Besar berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, saya dan Tuan Besar berangkat menjenguk adik-adik di pesantren mereka di Malang. Di sana saya mendapatkan laporan dari Fia, adik perempuan saya yang sudah kelas XII bahwa Ukik, adik lelaki saya yang masih kelas VIII menjadi korban bullying di kamar asramanya. Pelakunya adalah teman-teman seangkatannya di kamar yang ternyata memiliki postur tubuh dua kali lipat lebih besar daripada adik saya yang cenderung kecil mungil.

Continue Reading

RifkiYATUS Sholihah

Namanya Rifki. Dulu, dia sempat tanya, apa arti nama lengkapnya. Ditanya dosen, katanya. Nama panjangnya sih, Rifqiyatus Sholihah. Aku jelaskan, ‘rifqiyah’ dari kata rifqun, artinya kelembutan. ‘Sholihah’ ya sholihah. Jadi nama panjangnya berarti ‘Kelembutan yang Sholihah’. Dan dia, sebagai santri yang entah sudah berapa lama belajar Bahasa Arab dan segala kaidah linguistiknya, dengan begonya bertanya “trus, artinya ‘yatus’ dari namaku, apa?”.

Continue Reading

This Blog

Blog ini semacam diary pribadi. Aku nggak punya semacam keinginan ataupun obsesi buat bikin blog ini dikenal luas atau dibaca oleh orang banyak, karena… yah, satu hal dan lainnya. Blog ini menjadi semacam trigger, pemicu untuk membangkitkan (kembali) gairah menulisku.

Aku punya kecenderungan membaca yang cukup tinggi sejak kecil. Lebih karena aku bisa membaca lebih awal daripada anak-anak lain pada umumnya. Jadi, sebelum masuk TK pun aku udah bisa baca koran dengan lancar. Orang bilang kalau aku cerdas dan tau lebih banyak hal daripada anak lain seumuranku, tapi poin sebenarnya bukan di level kecerdasan, tapi saat memulai dan kecenderungan. Aku mulai membaca lebih awal daripada anak lain seumuranku, dan aku lebih tertarik dengan buku daripada bermain (pertama, karena aku cengeng jadi anak lain pada males main denganku. Dua, karena nggak ada mainan yang bisa bertahan lama di tanganku. Tiga, aku parno dengan segala macam boneka).

Dari kebiasaan membaca, aku mulai mencoba menulis saat SD. Nggak tanggung-tanggung, tulisan pertamaku sudah berbentuk cerbung. Bukan karena apa, aku nggak punya minat dengan puisi dan nggak ngerasa punya bakat berpuisi ria. Aku juga nggak memulai dengan cerpen karena, personally, entah kenapa compress segala ide jadi semacam tulisan yang dibatasi dengan jumlah karakter tertentu itu sulit.

Obsesi menulis itu terus berkembang setelah masuk pesantren. Berhubung pesantrenku juga support dengan kegiatan semacam ini, kesempatan buat mengembangkan hobi ini jadi lebih besar. Ada banyak pelatihan menulis yang diadakan dan tak jarang mengundang penulis keren skala nasional. Tapi akhirnya aku sadar, ketika kamu mulai menulis and getting absorbed with ityou couldn’t stop easily. Tapi kalau sudah sekali berhenti, akan sangat sulit buat memulai kembali.

Salah satu efek dari berhenti menulis ini adalah, kita semacam kehilangan gaya menulis kita yang lama saat memutuskan untuk memulai kembali. Gaya menulis buat aku adalah semacam hasil dari pengaruh. Gaya tulisanku yang lama benar-benar terpengaruh dari berbagai anime dan manga yang aku baca. Jadi gaya tulisanku cenderung miskin narasi deskripsi, tapi secara personal aku suka gaya menulisku yang lama karena, it feels fresh and raw. Kalau penulis profesional baca tulisanku, mungkin mereka bakal ngeritik tentang kemiskinan narasi dan deskripsi dalam tulisanku. Tapi yang aku percaya dari tulisanku adalah, tulisanku nggak bakal kalah dari sisi penyampaian dan fresh feeling-nya.

Tapi apalah daya, berhenti menulis bikin aku kehilangan gaya menulis itu. Dan here I am. Menulis dengan gaya yang kaku. Benar-benar kaku.

Aku memulai blog ini dengan harapan bisa membentuk kembali distinctive writing style-ku. Trying to get absorbed, deeply with the fun feeling of writing. Aku nggak peduli dengan statistik karena, tulisan di blog ini belum cukup baik buat dibaca secara umum. Tapi aku juga nggak bikin tulisanku privat karena, hm, biarlah seleksi alam berlangsung. Aku pengen tau juga bagaimana blog ini berkembang, kalau tulisanku worth better, dia bakal terekspos cepat atau lambat.

 

Continue Reading

2018 .Beginning.

My days in 2017 was one of the most complicated years I’ve been through. I joined 2 prestigious competition, one in national scale for college students and the other was East Java scale. It was a good experience for me even I still couldn’t made it to the final. But, who cares? As long as I get the chance, I wouldn’t think any longer. The winner doesn’t exist without the losers anyway. And yes, I gave the opportunity to the others to be a winner. Well,  I’m a modest and humble person, by the way.

But unfortunately I still couldn’t get rid my laziness. Sun rays and exhaustion still be my number 1 and 2 enemy. And, if I can choose which one, get up from bed and doing something outdoor or catch my dreams via sleeping, well… I prefer the second one.

But, it’s 2018. A whole new year. A brand new year. A start to another new days. I couldn’t stop myself for hoping an evolution within myself, to be a better one. I wish I can earn money. Make a living. And being independent financially.

Well, I better get hurry to get rid my laziness.

Continue Reading