One of The Most Inspiring Thing My Lecturer Told Me

“Otak manusia itu sekuat apa, sih? Kamu bisa apa dengan kemampuan otakmu yang sekarang? Otak kita nggak sehebat itu buat menghadapi segala masalah rumit, Mbak. Jagankan masalah masyarakat umum, buat ngatasin masalah diri sendiri paling hanya sedikit yang bisa otak kita lakuin buat nyelesain masalah itu. Makanya kita butuh baca! Kita butuh berdiskusi dengan orang lain! Kita butuh bertukar pikiran! Kita harus kasih makan otak kita, drill otak sampai benar-benar terpakai. Nggak akan pernah cukup kita menyelesaikan masalah hanya dengan kemampuan otak yang, jangankan setengah-setengah, 10% aja belum tentu kepake. Jangan sombong dengan isi kepalamu, sampai matipun kamu nggak akan pernah menyelesaikan semua masalah di bumi, paham semua persoalan dan mengerti segala disiplin ilmu. Dengan kemampuan gitu masih main-main? Baca 4 jurnal seminggu aja males? Populasi orang bodoh udah tinggi, Mbak-Mas! Nggak usah menambah angkanya!”

 

Disampaikan dengan tenang, tanpa unsur bentakan dan amukan.

Continue Reading

2017 .End.

Tahun ini menjadi tahun yang cukup menarik. I’ve been through many ups and downs. Kalau di rekap, kejadian-kejadian yang aku lewati tahun ini cukup beragam dan nggak monoton seperti yang sudah-sudah.

Continue Reading

Karena Aku Teman

A friend can be astrangerjust because of a jealousy.

Sometimes, my friends luckier than me, sometimes they can afford easily the things that I’m craving for, sometimes they look like ‘backstabbing’ me with their luck and happy life.

But they’re my friends. Friend is a precious thing. Something that I should cherish and treasure well. And they don’t deserve my jealousy and narrow-mind.

But I am their friend. I’ll silently bury my jealousy, don’t reveal any status updates which indicating my pathetic side and playing victim over their happiness. Everything is okay and I wouldn’t bring them any unpleasant feeling. Let them feel happy cause their luck isn’t their fault, at all.

And because we’re friend, we’re being so considerate to each other.

 

A day after my thesis proposal getting wrecked

Continue Reading

Melewati Masa Pencarian Jati Diri (My Version)

Aku pernah bercita-cita buat masuk jurusan psikologi, walaupun akhirnya terdampar di sosiologi yang aku kira bakal nggak jauh beda dengan psikologi (tapi ternyata lumayan jauh juga dengan psikologi). Tak apa, tak masalah. Nggak ada alasan buat berhenti mendalami hal lain walau hal yang kita tekuni sekarang berbeda.

Continue Reading

But First, Coffee…

Actually, I’m not a morning person. I jokingly said that my official time to start a day is 10 a.m and that’s actually embarrassing for an Indonesian girl. Tapi, memang aku sulit (dan kurang berusaha) buat melawan gaya gravitasi kasur yang sangat tinggi. Bahkan dulu semasa di pesantren, di hari Jum’at dimana sekolah dan segala kegiatan lannya libur, aku bakal menghabiskan waktu hampir 24 jam cuma buat tidur! Dan tidurku hanya bisa terpotong buat makan dan shalat. Let’s say, kalau mau diurutkan dari yang paling parah, rasa malasku menempati posisi kedua setelah sombong dalam 7 Deadly Sins.

Continue Reading