2017 .End.

Tahun ini menjadi tahun yang cukup menarik. I’ve been through many ups and downs. Kalau di rekap, kejadian-kejadian yang aku lewati tahun ini cukup beragam dan nggak monoton seperti yang sudah-sudah.

  1. Sekitar awal bulan Mei, kalau nggak salah. Aku dan teman-teman sepeminatanku dalam Sosiologi Pertanian mula menjalani masa praktikum lapangan. Praktikum ini makan waktu sekitar 4 hari 3 malam, di salah satu dataran tinggi di Situbondo dengan komoditas kopi arabika yang lumayan terkenal. Kami menginap di balai desa, tidur berjejer di ruang PKK macam pengungsi yang habis di evakuasi, pergi ke setiap rumah penduduk untuk mengumpulkan data, jalan kaki berkilometer jauhnya melewati jurang dan hutan lebat (karena terbatasnya kendaraan pribadi yang bisa kami bawa), kabur dari kejaran anjing-anjing liar yang berkeliaran, menumpang naik pick-up salah satu warga melewati jalanan yang hanya cukup untuk dilewati satu mobil dengan medan yang berkelok-kelok dan jurang curam di setiap pinggir jalan (dan kita dengan hebohnya sibuk nge-vlog ria karena menumpangi pik up dengan medan seperti itu adalah a whole new experience).
  2. Melewati bulan Ramadhan dengan tekanan laporan praktikum yang menggila. Kurang sah rasanya kalau tidak cerita bagaimana aku harus ngebut ke Jember dari Bondowoso karena mendadak harus bimbingan praktikum setelah maghrib. Dan aku baru berangkat sekitar setengah 6 sore saking mendadaknya. Wowowo.
  3. Liburan semester tiba. Liburan yang ga bener bener liburan karena, well, liburannya dipotong 45 hari KKN, Sodara-sodara. Berita baiknya, lokasi KKN masih di Jember, dan berita buruknya si lokasi ini berada di daerah perbatasan Jember dengan hutan lindung Meru Betiri. Jauh, terisolasi, jalanan rusak parah, melewati berhektar-hektar kebun karet milik PTPN, dan tanpa minimarket franchise.
  4. Hm, sebenernya KKN nya nggak bener bener 45 hari, at least buat aku. Karena aku mendapat ijin cut KKN di pertengahan bulan karena mewakili kampus dalam lomba MTQ Mahasiswa Nasional di UB-UM. Mayan, refreshing. Nggak ding, nggak refreshing. Nyampe sana masih under pressure gegara lomba.
  5. KKN kelar. Masuk perkuliahan biasa. Ups, anak semester 7 nggak kuliah. Hehehe. Hanya yg berdedikasi menambah nilai baik, mengganti nilai buruk dan melengkapi kekurangan SKS aja yang masih mau-maunya kuliah di semester 7. Aku sendiri lebih milih nggak kuliah aja, cuma ambil matkul wajib semester 7 aja, yang nggak butuh kuliah. KKL & Proposal Skripsi
  6. Di pertengahan semester, balik lagi lomba. Iya, aku nggak bakal nyebut lomba lain selain MTQ karena, itu doang yang orang percayain buat aku. Kali ini MTQ Regional tingkat provinsi Jatim. Diadakan di Pasuruan. Dan hasilnya? Sama seperti MTQ yg sudah sudah, kalah telak. Hehehe.
  7. Menuju akhir semester, jurusanku berangkat KKL ke Bali. Lokasi yg kami pilih untuk penelitian adalah, Pemakaman Trunyan. Pemakaman yang terkenal karena jenazah digeletakin gitu aja di bawah pohon Taru Menyan (yg dipercaya hanya satu-satunya berada di Bali dan menetralisir bau dari pembusukan mayat). Nggak dikubur, nggak dikremasi. Ditaroh gitu aja di atas tanah. Fun fact : dengan ketinggian sekitar 800 mdpl, di tempat yang cukup terisolasi dan dikelilingi dataran tinggi sekitar Gunung Agung, daerah Danau Batur rupanya ter-cover jaringan 4G, Sodara-sodara!
  8. Seminar proposal. I fu*ked up. Pengalaman yang menarik buat aku curse & swear gegara ribet dan ngeselinnya. Nggak ada penjelasan lebih, Sodara-sodara. Cukup.
  9. Tetep males, tetep nggak rajin ngaji (meski sudah 2 kali nyesel nggak rajin ngaji sepanjang tahun ini), tetep ngerasa nggak berguna.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *