BALADA ANAK

Kenapa harus memiliki anak?

Sempat, beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah tulisan blog tentang seseorang yang tidak berencana untuk memiliki anak dan bertanya, kenapa orang harus meributkan keputusan pribadinya padahal ya, kalau punya anak juga mereka tak ikut menanggung biaya popok, susu dan pendidikan si anak. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa memiliki anak setelah menikah bukan perkara yang sudah ‘sepantasnya dan sewajarnya’ tanpa harus melewati proses berpikir sebelumnya. Anak baiknya tidak jadi sebuah produk, hasil dari orangtua yang ‘membuatnya’ tanpa berpikir sebelumnya.

Continue Reading

Pengalaman Mengikuti Dauroh Darul Mushtafa Secara Online di Pondoksanad.com

Ibu saya, walau punya gelar ‘Ustadzah’, sebenarnya cukup awam dalam agama. Tidak pernah nyantri dan menjalankan kewajiban agam setahunya saja. Sebagian besar pengetahuan agama Ibu dipelajari dari Bapak saya setelah mereka menikah dan beberapa buku-buku fiqh yang beliau baca. Karena pencarian pengetahuannya tidak runtut sebagaimana umumnya santri, ilmu agama yang ibu macam… all over the place? But well, my mom is one of a kind. Semangat ‘nyantri’nya sangat besar dan jauh melebihi saya dan adik-adik saya yang santri beneran. Ibu sangat terobsesi dengan status ‘santri’. Maunya jadi santri ‘sungguhan’, yang gurunya ‘beneran’ dan mau mengakui status kesantriannya. Beliau berkelana dari satu ustadz viral ke ustadz ngetren lainnya, dari nyai-nyai di pesantren saya hingga kyai-kyai di pondok adik bungsu saya, hingga cintanya berlabuh pada Abah Guru Sekumpul dan Habib Umar.

Continue Reading

Great Skill I Got in Social Media Era

Di era digital yang serba cepat dan wajib cepat, reaksi ketika menerima suatu info rasa-rasanya kudu ikutan cepet. Apalagi tombol reaksinya juga praktis tersedia deket dengan bagian utama (kayak tombol like, dislike, retweet, share etc.). Kalau rasanya setuju, langsung like. Nggak setuju langsung dislike (bisa juga langsung lawan dengan komen atau quoted retweet sekalian). Dan setelah bereaksi, udah. Scroll untuk membaca info lain buat diserap.

Hold on, my friends.

Kita wajib paham benar perkara bereaksi serba cepet ini ga mesti baik. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan opini, argumen atau wacana-wacana lain yang nyenggol bahasan sensitif. Kalau kita paham diri ini bukan ahli di bidang yang sedang diomongkan, tahan reaksi kita dan zoom out untuk melihat detail bahasannya sebelum bereaksi.

I personally am not a curious person. Lebih memilih buat nggak bereaksi apa-apa atas setiap info dan opini orang lain karena, well, males. Ya gimana dong, rasa-rasanya saat menerima suatu info, saya kudu periksa kronologi masalahnya dari awal dan fakta-fakta pendukung kisahnya baru bisa ngasih reaksi yang baik. Nah di bagian zoom out ini yang saya males banget. Saya lebih memilih procrastinating di laman youtube daripada stay curious untuk hal yang nggak saya minati.

Dan kemalesan ini saya anggap sebagai berkah, wkwkwk. Saya jadi tidak terburu-buru untuk komen sesuatu atau bereaksi apa-apa (untuk kemudian terbukti salah mikir dan mengambil keputusan). Saya baru benar-benar bereaksi jika info tersebut harmless, sekedar candaan yang nggak nyenggol-nyenggol amat, atau infonya trivial sekali. Tapi kalau tiba-tiba saya membaca sebuah pernyataan yang bikin penasaran (contoh: Twitter), the least I do for zooming out is baca komen.

Saya sungguh lebih mencintai fitur komentar di segala sosial media karena dia menawarkan banyak sekali info dan opini tambahan dari orang lain dengan bekgron dan pola pikir yang berbeda. Tentu nggak semua komen cakep dan bisa dijadikan bahan pertimbangan, tapi ya pasti nemu lah pernyataan-pernyataan yang melengkapi info utama atau malah mengoreksi pernyataan si penulis awal.

Terkadang, si orang yang bikin twit awal itu bikin pernyataan tanpa benar-benar mencari tau faktanya. Dan jangan karena mentang-mentang dia pintar atau kita kagumi, kita bisa sembarang nge-like semua pernyataan dia. Pasti, pasti ada suatu masa di mana seseorang bisa salah bikin pernyataan dan kita ga boleh sembarang menelan info dari orang itu.

Nah, dari sini fitur komentar menunjukkan kebaikannya. Orang-orang yang tidak taklid buta dan fanatik pada figur ini akan muncul dan mengoreksi pernyataannya dengan memberi info tambahan atau menegur kekeliruannya. Fitur komentar bagi saya adalah penyelamat dari kesalahan reaksi deh, pokoknya. Beberapa kali saya menemukan pernyataan orang di sosial media yang menurut saya janggal. Kelihatan benar, tapi sepertinya salah. Dari situ saya akan langung loncat pada komentar dan membaca tanggapan orang lain yang bisa memberi sudut pandang yang lebih variatif. Justru terkadang, kesadaran akan sebuah kebenaran (?) ini datang dari ketekunan (jiakh, ketekunan) saya dalam membaca komen. Wkwkkw.

Tulisan ini sepertinya bikin bingung karena rancu banget. Tapi intinya gitu, deh. Jangan buru-buru bereaksi negatif/ positif (lalu membagikannya ke orang lain) sebelum benar-benar mencari tau info lengkap dari suatu hal. Orang bijak itu orang yang nggak buru-buru bertindak sebelum memikirkan kebaikan dan kebenaran akan sesuatu. Walau kita nggak bijak dan ga bakal sampe pada tahap beneran bijak, sok bijaklah dalam berpikir (inget, adil sejak dalam pikiran)

Continue Reading

Saya Nggak Kuliah Buat Dapet Gelar Doang, tuh….

Tadi nggak sengaja nemu di twitter tentang essay yang bisa dikerjain pake bot. Tinggal input tema utamanya, trus si bot bakal ngebikinin essay-nya. As simple as that. Di retweet lah itu post oleh seseorang yang nggak saya kenal, tapi di like oleh akun yang saya ikuti dengan tambahan tulisan “ngapain kuliah mahal-mahal kalau males mikir?”

Akuuur. Saya setuju.

E tapi di kolom komentar ya masih ada yang ngomong, “emang kuliah buat jadi pintar? Kuliah itu biar dapet gelas sarjana. Orang bisa pintar meski nggak kuliah blablabla“. Di situ saya mikir, dia ini ada dendam apa sama kampus? Sama dunia pendidikan? Sama kenyataan? (Eh, nyindir diri sendiri).

Iya, sistem penilaian di instansi-instansi pendidikan kita sebagian besar memang berorientasi pada nilai, skor pelajaran. Kalau nilaimu bagus, meski essay yang kamu tulis hasil copy-paste juga ya kamu ‘pinter’. Mau kamu brainstorming, researching dan elaborating pemikiran orisinilmu di essay tapi dapet nilai jelek yhaaa kamu ‘nggak pinter’. Eh, jadi inget pengalaman pribadi aja. Tapi kadang yak, kita suka lupa aja. Mau kita tetep dapet predikat ‘nggak pinter’ karena nilai jelek meski udah mikir pake otak, sebenarnya kita satu langkah lebih pintar daripada diri kita sebelum ngerjain tugas itu. In fact, we got smarter and sharper, more than others who cheat on their essay. Wkwkwkw.

Tapi balik lagi dengan ‘mahalnya harga pendidikan’, semales-malesnya saya sama kenyataan pahit ini, sekesel-keselnya saya dengan kondisi ini, nggak membuat saya lantas mengutuk proses belajar saya selama kuliah. I pay the high price for this education, so I need to gain more than ‘scores’ from this facilities, lecturers and environment. Saya bertemu dengan dosen-dosen yang, meski kadang ngeselin perkara ngasih nilai, tapi banyak memberi insight yang baik untuk murid-muridnya. Mereka memberi motivasi belajar yang inspiratif dan lecutan dengan kata-kata secanggih ‘Anda pikir, Anda cukup pintar menulis essay hanya dengan modal otak Anda saat ini? Manusia tidak secemerlang itu dan Anda jangan senaif itu mengira segala tugas bisa dikerjakan tanpa memperluas pengetahuan!’. Daaan lain sebagainya.

Kuliah juga membuat saya sadar bahwa saya nggak paham apa-apa. Hanya sedikit lebih pintar dari beberapa orang dan jauh lebih bodoh dari banyak lainnya. Endurance saya dalam belajar dan membaca buku tidak sekuat orang lain. Tidak jarang juga saya merasa ‘nyasar’ di kelas, tidak paham apapun yang sedang terjadi dan tema apa yang sedang didiskusikan. Even tho I wouldn’t say that I’m a stray student that choose the wrong major in uni, more likely I still don’t learn enough, read enough, observe enough and grasp the ideas behind.

That being said, saya nggak ingin menafikan rasa bahagia saat berhasil meraih gelar sarjana, tentunya. Tapi sensasi saat menyelesaikan penelitian, essay, dan penulisan skripsi tanpa copy-paste, ngejoki, bot atau apalah itu jauh lebih fulfilling rasanya daripada saat menerima gelar ketika wisuda. Kayak, meski hasil nugas saya saat kuliah nggak cakep-cakep amat, saya ternyata mampu mikir serumit ini, menghasilkan penelitian, nggak menyerah dalam belajar dan nggak trauma sama kuliah. Hahahah.

Meski tetep belum ‘sepintar itu’ pasca lulus S1, still, I gain a lot. Kuliah bagi saya adalah momen panjang dimana kita diberi kesempatan untuk membuka pintu-pintu menuju berbagai disiplin ilmu, not necessarily the major you commit yourself in tho. Karena dasar critical thinking diajarkan saat kuliah, dia macam basic skill yang bisa digunakan setiap kamu mau mulai mempelajari hal-hal baru. Jadi rasanya kurang ajar sekali diri ini kalo mempersingkat definisi ‘kuliah’ sebagai ‘usaha mencari gelar’ doang.

Yhaaa tulisan ini berlaku untuk saya doang sih, kali aja orang lain punya kondisinya sendiri jadi ga bisa dapet ‘hal lain yang memintarkan’ selain gelar. Apa orang bisa pinter tanpa kuliah? Bisa juga. Ilmu nggak paten hak milik universitas doang, kok. Tapi teuteup, mau dapet ilmu atau nggak saat kuliah itu balik ke pilihan. Tentu kita bisa lulus kuliah modal ngandelin joki dan fitur copy-paste, tapi kuliah nggak menutup kesempatan belajar seseorang. Jadi kurang sah rasanya kalau kegunaan kuliah dipendekkan jadi ‘buat dapet gelar doang’.

Continue Reading

Menjaga Emosi Selama Pandemi

Pandemi dan dipaksanya kita untuk diam di rumah terus memang ujian banget. Saya yang hidup sebelum pandemi ini memang diem di rumah aja juga mulai ngerasain dampak buruknya. Emosi jadi gampang tersulut aja gitu, jadi selektif banget sekarang buka-buka sosmed–menghindar dari berita pandemi-related yang biasanya isi kabar negatif aja. Bawaannya kesulut untuk ngehina semua orang, semua instansi, semua pihak terkait.

Continue Reading

Kenapa Orang-orang Mudah Mengumpat? (sebuah kebingungan–tidak menyertakan jawaban)

Tulisan ini jelas hanya akan berisi pertanyaan dan kebingungan. Nggak bakal ada jawaban karena sampai sekarang juga saya tetep nggak paham, kenapa orang-orang mudah mengumpat. Yha kalau umpatannya dipakai di saat-saat marah atau kesal, saya kira masih wajar saja karena mungkin saking emosinya seseorang, his brain stop working and he doesn’t find any words that suit the condition of his annoyance better. Jadilah pakai bad words dan cursing remarks, biar singkat tapi nafsu amarah tersalurkan dengan efektif. Bisa jadi, kan? Saya sendiri kalau sudah marah sebenarnya lebih sering pakai sarcastic remarks. Tapi kalau sudah bener-bener nggak habis pikir saking emosinya, keluarlah bad word saya, meski cuma sebatas ‘goblok’ dan sejenisnya.

Tapi saya bingungnya, kenapa orang-orang mudah aja gitu ngomong ‘cok, cuk, njing, goblok, anjir, anjay, buset etc’ di percakapan kasual. Ya beda lah Wang, kan itu maksudnya bercanda aja, ga offensive. Iya saya juga paham, beda tone percakapan, maksud kata bisa jadi beda. Saya nggak ahli dalam tata bahasa dan keanehan yang saya rasakan di sini jelas cuma kebingungan pribadi.

Kalau dalam istilah bahasa enggresnya, orang yang punya tendensi mengumpat begini disebut foul mouth alias mulut busuk. Naaah saya kepo kaaan, bagaimana perasaan dan isi kepala seseorang yang enteng saja ngomong kata-kata di atas, in any kind of occasion. Kenapa orang-orang ‘bermulut busuk’ ini nyaman menyisipkan umpatan di banyak omongannya? Kurang keren kah, kalau pakai kata-kata biasa saat bicara?

Saya pernah baca twit kalau mengumpat gitu rasanya enak. Susah dihilangkan kalau sudah kebiasaan, karena rasanya enak. Lega aja kalau salah satu stressing point kalimatnya pakai umpatan gitu. Kepo saya makin menjadi, beneran enak kah? Seenak apa, sih ngomong jelek-jelek gitu? Pas ngumpat gitu, apa nggak ada semacam perasaan menyesal gitu sudah terbiasa dan membisakan diri bicara jelek (bahkan mau dikata bahasa bercanda dan ‘ga sedalem itu’)?

Kenapa ya? Kenapa?

Continue Reading

Kembali Rajin Membaca dengan Kindle Ebook Reader

I’ve been addicted to my smartphone this past years.

Ya nggak addicted addicted banget sih, mau ngecek apa juga di hape. Nggak ada hal penting, nggak ada yang ngehubungin juga. Lempeng tiap pegang hape. Main sosmed iya, tapi dengan porsi ala kadarnya. Instagram sengaja disetel buat tempat hiburan doang, jadi isinya bayi-bayi artis dan komik strip. Twitter beda lagi, biasanya buat update berita yang lagi in dan merhatiin para penulis-aktivis-profesional-vokal-critical thinker bicara (dan berantem). Youtube buat nonton abang-abang dan mbak-mbak Idol tampil di panggung dan variety show. Kebanyakan waktu main hape dihabiskan untuk baca novel-novel online keluaran China-Korea-Jepang yang berserakan di internet. Lebih-lebih saat pandemi di mana kita dipaksa dan terpaksa diem anteng di rumah dan meminimalkan interaksi langsung dengan orang banyak, kembali rajin membaca dan mempeluas range bacaan rasa-rasanya jadi opsi paling classy untuk tetap produktif saat karantina.

Continue Reading

Merana Saat Karantina tapi Tetap Puasa

Surreal.

Belajar, beribadah dan bekerja dari rumah sudah diberlakukan sebulanan lebih dan belum ada tanda-tanda membaik dalam waktu dekat. Yang jelas tanda keberadaannya sekarang cuma hilal Ramadhan yang akan datang kurang dari seminggu lagi. Karena perkara ini juga, banyak rencana dan keinginan yang juga tertunda (bahkan dibatalkan) karena himbauan #dirumahaja. Segala urusan mendadak jadi remang-remang statusnya gara-gara Covid-19 seekor (yang kemudian membelah diri menjadi jutaan ekor lainnya).

Continue Reading

Enduro: Oli Terbaik untuk Motor Matic Anda

Mencari oli motor terbaik untuk kendaraan kita adalah kewajiban. Memilih oli motor matic terbaik adalah keniscayaan, lebih-lebih dengan harga oli motor yang murah.

Menjalani ‘hubungan jarak jauh’ dengan kampus saat sedang mengerjakan skripsi jelas bukan pilihan yang baik untuk seorang mahasiswa. Saya contohnya. Rumah saya di Bondowoso, kampus ada di Jember, tempat penelitian skripsi berlokasi di Jember pula. Bodohnya, saya memilih untuk tidak lagi ngekos saat mulai menggarap skripsi dan memilih untuk pulang-pergi saja dari rumah menggunakan motor saat harus ke Jember. Mau tidak mau, keberlangsungan skripsi saya tidak lagi hanya berada di tangan, tapi juga di kesehatan motor matic saya.

***

Saya bukan orang yang benar-benar paham urusan motor, saya hanya paham cara menggunakannya. Tidak lebih dari itu. Kebodohan ini lah awal dari segala malapetaka yang terjadi pada motor saya. Karena saya harus mondar mandir Bondowoso-Jember hampir setiap hari untuk ke kampus, suatu hari motor saya memilih untuk ngambek dan tidak mau kembali menyala. Usut punya usut, oli dalam motor saya hampir habis dan menybabkan mesin motor saya rusak seketika. Mobilitas terlalu tinggi dan tak diimbangi dengan perawatan mesin, kata montir di bengkel.

Singkat kisah, motor saya ‘turun mesin’. Beberapa bagian mesin diganti dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit juga. Hati dan dompet ini berdarah, Saudara-saudara. Saya akhirnya sadar, kalau kamu punya motor ya kamu harus paham aturan main paling dasar dari perawatan motor. Jangan mentang-mentang kamu perempuan, kamu jadi merasa pantas nggak paham soal perawatan motor.  Sejak saat itu, saya berjanji dalam hati untuk terus menjaga kesehatan motor saya demi menunjang lifestyle dengan mobilitas tiggi saya ini.

ENDURO: OLI MOTOR TERBAIK

Nasehat montir bengkel paling standar setelah motor saya turun mesin adalah: rajin-rajin ganti oli, Mbak. Dan petualangan saya dalam mencari oli motor terbaik dimulai dari sini. Selain mengandalkan jasa Google, saya juga mulai aktif bertanya pada beberapa kawan lelaki saya yang paham benar urusan perawatan motor. Berbagai jenis, merek dan penjelasan soal oli mulai muncul dari rekomendasi kawan-kawan saya. Sampai saya yang awam ini pusing sendiri. Hingga akhirnya seorang kawan berkata,

“Kamu buka website Dr. Lube, itu punya Pertamina. Nanti dikasih rekomendasi oli paling cocok buat motor kamu.”

Wah, boleh juga. Direkomendasikan langsung sama Pertamina harusnya lebih kredibel, sih. Dan sebagai anak teladan Indonesia, yhaaa baiknya kita pakai produk dalam negeri saja. Jadi saya langsung membuka website Dr. Lube dan mencari rekomendasi oli motor matic terbaik untuk kendaraan saya.

drlube.pertaminalubricants.com

Selain motor, kita juga bisa mencari rekomendasi pelumas, jenis bensin dan lain-lain untuk berbagai jenis mobil sampai truk juga di Dr. Lube.

drlube.pertaminalubricants.com

Kita juga bisa pakai fitur schedule untuk mengingatkan kita jadwal ganti oli, loh.

Saya bersyukur dengan adanya fitur ini. Cheesy sih, tapi sungguh. Benar-benar membantu untuk seorang awam yang buta dunia otomotif seperti saya. Pertamina benar-benar memberi servis yang cukup baik untuk masyarakat yang buta arah dan tak tau harus apa seperti saya ini.

Akhirnya, sesuai rekomendasi, pilihan saya jatuh pada Enduro Matic SAE 10W-30.

pertaminalubricants.com

Saat memilih oli ini pun saya sedikit melakukan research soal kode angka dan huruf yang tertera di judul merknya.Biar rada pinter dikit urusan oli. SAE sendiri, singkatan dari Society of Automotive Engineer adalah asosiasi internasional yang standar kekentalan olinya dipakai untuk standarisasi kekentalan oli mesin internasional. Sedangkan huruf W pada kode yang mengikuti berarti Winter dan angka untuk rentang suhu dimana oli bisa bekerja dengan optimal. Jadi 10W-30 artinya, oli tetap bisa memberikan performa yang baik untuk mesin di suhu 10° sampai -30°C. Dan biasanya, semakin tinggi angka yang tertera, semakin kental oli itu. Kalau untuk suhu Indonesia sih, 10W-30 sudah cukup.

JANGAN TERKECOH! HARGA BUKAN SEGALANYA

Tanpa menunda lebih lama, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Enduro Matic ini. Lebih lega lagi saat saya tau harga oli motor matic ini tak begitu mahal. Kenapa nggak beli yang mahal sekalian? Ah, kenapa harus beli yang mahal? Saya pikir, kita harus cukup tau spesifikasi oli yang cocok untuk motor kita. Selama spesifikasi cocok, kita tak perlu merogoh kocek yang lebih dalam untuk membeli kebutuhan motor kita. Semuanya kembali pada seberapa telaten kita merawat motor. Mau beli yang mahal juga kalau ganti oli setahun sekali ya bohong.

Selain itu, Enduro juga merupakan pelumas mesin yang digawangi langsung oleh Pertamina. Indonesia punya dan terpercaya. Daripada masih berputar-putar ke berbagai merk, harga dan lain-lain, saya sih lebih memilih untuk menggunakan pelumas dari merk dan perusahaan terpercaya saja. Lebih praktis untuk awam seperti saya.  

REVIEW PENGGUNAAN

Setelah tragedi turun mesin itu, saya jadi rajin mengganti oli motor sebulan sekali dengan oli Enduro. Biasanya memang cukup mengganti oli sesuai dengan kilometer yang sudah ditentukan, tapi berhubunga saya masih trauma, saya jadi menetapkan aturan ganti oli sebulan sekali. Apalagi dengan penggunaan motor saya yang cukup tinggi untuk keperluan mondar-mandir antar kota tiap hari, makin penting lah urusan ganti oli ini. Dan terbukti, dengan ketelatenan bulanan saya mengganti oli setiap bulan dengan Enduro, jarang ada kerusakan berarti lagi pada motor saya. Deru dan getaran motor matic juga terasa lebih halus. Lebih-lebih setelah mengganti oli shock depan, feeling saat membelokkan stang jadi terasa lebih halus dan ringan.

Berhubung saya tak pernah dikecewakan oleh Enduro, sampai saat ini saya tak memiliki keinginan untuk mengganti oli dengan merek lain. Sekali cocok, saya malas untuk mencari yang lain. Lebih-lebih, Ayah saya sendiri juga sudah bertahun-tahun menggunakan oli Enduro untuk mobilnya dan terbukti sampai saat ini, tak pernah ada kerusakan berarti pada mobil kami yang dikarenakan oleh performa oli.

BELI DI MANA?

Anda bisa mendapakan oli Enduro di SPBU Pertamina. Pertamina juga menyediakan official shop di berbagai marketplace, jadi bias dibeli online juga. Tapi saran saya sih, beli langsung di SPBU saja. Soalnya tiap tanggal 1 di awal bulan, kita bisa dapat diskon 10rb Rupiah, loh.

Jadi, dengan segala kebaikan Enduro sebagai oli andalan semua kendaraan di rumah saya (sekaligus penyelamat keberlangsungan skripsi saya), ya kenapa harus pilih yang lain?

Continue Reading

Faris yang Ingin Masuk TV dan Pantang Menyerah

Faris namanya. Salah seorang anak didik saya di kelas tahfidz. Dia adalah anak yang memulai karir menghafal Qur’an-nya dengan satu jalan ninja: tampil di acara Hafidz Indonesia RCTI. Pokoknya, sebelum lulus SD, dia ingin mencoba peruntungan masuk TV di Bulan Ramadhan. Dan saya, sebagai gurunya harus mendukung serta memfasilitasi keinginannya.

Hari-hari pertama mulai menghafal, Faris di mata saya bukan anak yang luar biasa berbakat. Dia memang pintar, tapi bukan tipe yang akan membuat saya tercengang dengan kemampuan menghafalnya. Beberapa kali setorannya saya beri nilai ‘Kurang Lancar’ di buku penghubung orangtuanya.

Tapi intensitas kelancaran setoran Faris mendadak meningkat hanya karena satu hal: saya memujinya secara khusus, sekali setelah setorannya lancar.

“Nah, kalau ngajinya lebih banyak, kan setorannya lebih lancar. Kalau ngajinya rajin, setorannya lancar, kamu makin ganteng, Faris. Kamu harus semangat terus. Kalau kamu rajin, sebelum lulus SD bisa nih ikut Hafidz Indonesia di TV.”

Dan Faris pun luluh.

Entah terbayang pujian saya atau iming-iming masuk TV, Faris jadi hobi menghafal. Sepulang sekolah, dia akan sibuk mempersiapkan hafalannya untuk disetorkan pada saya di sore hari nanti. Hafalannya juga mulai melebihi batas minimal harian yang saya pasang padanya dan semakin hari, hafalan Faris makin banyak dan lancar.

Karena perkembangan pesatnya ini, saya jadi terus mengingatkan diri dalam hati untuk memuji Faris secara berkala. Bisa jadi pujian saya adalah pemicu utama rajinnya Faris (walau sepertinya nafsu masuk TV-nya yang lebih mendominasi). Saya ingin kebiasaan dan pencapaian baik ini terus konsisten dan Faris tetap selalu merasa istimewa tiap berhasil menyelesaikan setoran dengan lancar.


Selain konsistensi dan keistiqomahan Faris dalam mengaji, satu hal yang benar-benar saya apresiasi dari Faris adalah kemauan kerasnya untuk berusaha dan pantang menyerah.

Terdengar klise? Oh tidak.

Entah disadari atau tidak, ketika menyetorkan hafalan, banyak anak yang yang tidak mau repot-repot berpikir lama untuk mengingat hafalan yang dia lupakan. Misal dia lupa dengan satu ayat saat setoran, dia akan diam sejenak untuk mengingat. Jika dalam 5 sampai 10 detik anak ini belum ingat dengan hafalannya, dia akan menyerah dan menatap saya menunggu bantuan. Dan bukan anak-anak saja, saya juga punya tendensi seperti itu dulu saat menghafalkan Qur’an.

Tapi Faris tidak seperti itu. Saat dia lupa dengan satu ayat ketika setoran, dia akan berpikir lama untuk mengingat-ingat ayat tersebut. Yang saya maksud lama adalah, sungguhan lama. Tidak sekedar setengah menit, dia bisa saja diam selama 5 menit untuk mengingat-ingat hafalannya (dan tidak mengijinkan saya untuk memberitahunya). Dan lebih ajaibnya lagi, dia bisa ‘memanggil ingatan’nya kembali tanpa bantuan sedikit pun!

Saya sendiri tidak bisa membayangkan diri saya duduk setoran hafalan di hadapan muhafidz/ah dalam waktu yang lama dalam diam untuk mengingat ayat yang saya lupakan. Tekanan karena berhadapan dengan guru dan perasaan ‘ditunggu’ akan membuat konsentrasi saya buyar dan akan sulit bagi saya untuk mengingat ayat yang hilang itu.

Tapi Faris mencontohkan pada saya bagaimana definisi dari istilah ‘pantang menyerah’ yang sesungguhnya. Misi kamu hanya satu. Pakai konsentrasi penuhmu untuk mencapai tujuan itu. Jangan merasa terganggu dan tertekan akan hal-hal yang, belum tentu buruk dan terjadi. Niscaya, misimu akan tercapai.

Continue Reading
1 2 3 5