Menjaga Emosi Selama Pandemi

Pandemi dan dipaksanya kita untuk diam di rumah terus memang ujian banget. Saya yang hidup sebelum pandemi ini memang diem di rumah aja juga mulai ngerasain dampak buruknya. Emosi jadi gampang tersulut aja gitu, jadi selektif banget sekarang buka-buka sosmed–menghindar dari berita pandemi-related yang biasanya isi kabar negatif aja. Bawaannya kesulut untuk ngehina semua orang, semua instansi, semua pihak terkait.

Continue Reading

Kenapa Orang-orang Mudah Mengumpat? (sebuah kebingungan–tidak menyertakan jawaban)

Tulisan ini jelas hanya akan berisi pertanyaan dan kebingungan. Nggak bakal ada jawaban karena sampai sekarang juga saya tetep nggak paham, kenapa orang-orang mudah mengumpat. Yha kalau umpatannya dipakai di saat-saat marah atau kesal, saya kira masih wajar saja karena mungkin saking emosinya seseorang, his brain stop working and he doesn’t find any words that suit the condition of his annoyance better. Jadilah pakai bad words dan cursing remarks, biar singkat tapi nafsu amarah tersalurkan dengan efektif. Bisa jadi, kan? Saya sendiri kalau sudah marah sebenarnya lebih sering pakai sarcastic remarks. Tapi kalau sudah bener-bener nggak habis pikir saking emosinya, keluarlah bad word saya, meski cuma sebatas ‘goblok’ dan sejenisnya.

Tapi saya bingungnya, kenapa orang-orang mudah aja gitu ngomong ‘cok, cuk, njing, goblok, anjir, anjay, buset etc’ di percakapan kasual. Ya beda lah Wang, kan itu maksudnya bercanda aja, ga offensive. Iya saya juga paham, beda tone percakapan, maksud kata bisa jadi beda. Saya nggak ahli dalam tata bahasa dan keanehan yang saya rasakan di sini jelas cuma kebingungan pribadi.

Kalau dalam istilah bahasa enggresnya, orang yang punya tendensi mengumpat begini disebut foul mouth alias mulut busuk. Naaah saya kepo kaaan, bagaimana perasaan dan isi kepala seseorang yang enteng saja ngomong kata-kata di atas, in any kind of occasion. Kenapa orang-orang ‘bermulut busuk’ ini nyaman menyisipkan umpatan di banyak omongannya? Kurang keren kah, kalau pakai kata-kata biasa saat bicara?

Saya pernah baca twit kalau mengumpat gitu rasanya enak. Susah dihilangkan kalau sudah kebiasaan, karena rasanya enak. Lega aja kalau salah satu stressing point kalimatnya pakai umpatan gitu. Kepo saya makin menjadi, beneran enak kah? Seenak apa, sih ngomong jelek-jelek gitu? Pas ngumpat gitu, apa nggak ada semacam perasaan menyesal gitu sudah terbiasa dan membisakan diri bicara jelek (bahkan mau dikata bahasa bercanda dan ‘ga sedalem itu’)?

Kenapa ya? Kenapa?

Continue Reading

Kembali Rajin Membaca dengan Kindle Ebook Reader

I’ve been addicted to my smartphone this past years.

Ya nggak addicted addicted banget sih, mau ngecek apa juga di hape. Nggak ada hal penting, nggak ada yang ngehubungin juga. Lempeng tiap pegang hape. Main sosmed iya, tapi dengan porsi ala kadarnya. Instagram sengaja disetel buat tempat hiburan doang, jadi isinya bayi-bayi artis dan komik strip. Twitter beda lagi, biasanya buat update berita yang lagi in dan merhatiin para penulis-aktivis-profesional-vokal-critical thinker bicara (dan berantem). Youtube buat nonton abang-abang dan mbak-mbak Idol tampil di panggung dan variety show. Kebanyakan waktu main hape dihabiskan untuk baca novel-novel online keluaran China-Korea-Jepang yang berserakan di internet. Lebih-lebih saat pandemi di mana kita dipaksa dan terpaksa diem anteng di rumah dan meminimalkan interaksi langsung dengan orang banyak, kembali rajin membaca dan mempeluas range bacaan rasa-rasanya jadi opsi paling classy untuk tetap produktif saat karantina.

Continue Reading

Merana Saat Karantina tapi Tetap Puasa

Surreal.

Belajar, beribadah dan bekerja dari rumah sudah diberlakukan sebulanan lebih dan belum ada tanda-tanda membaik dalam waktu dekat. Yang jelas tanda keberadaannya sekarang cuma hilal Ramadhan yang akan datang kurang dari seminggu lagi. Karena perkara ini juga, banyak rencana dan keinginan yang juga tertunda (bahkan dibatalkan) karena himbauan #dirumahaja. Segala urusan mendadak jadi remang-remang statusnya gara-gara Covid-19 seekor (yang kemudian membelah diri menjadi jutaan ekor lainnya).

Continue Reading

Enduro: Oli Terbaik untuk Motor Matic Anda

Mencari oli motor terbaik untuk kendaraan kita adalah kewajiban. Memilih oli motor matic terbaik adalah keniscayaan, lebih-lebih dengan harga oli motor yang murah.

Menjalani ‘hubungan jarak jauh’ dengan kampus saat sedang mengerjakan skripsi jelas bukan pilihan yang baik untuk seorang mahasiswa. Saya contohnya. Rumah saya di Bondowoso, kampus ada di Jember, tempat penelitian skripsi berlokasi di Jember pula. Bodohnya, saya memilih untuk tidak lagi ngekos saat mulai menggarap skripsi dan memilih untuk pulang-pergi saja dari rumah menggunakan motor saat harus ke Jember. Mau tidak mau, keberlangsungan skripsi saya tidak lagi hanya berada di tangan, tapi juga di kesehatan motor matic saya.

***

Saya bukan orang yang benar-benar paham urusan motor, saya hanya paham cara menggunakannya. Tidak lebih dari itu. Kebodohan ini lah awal dari segala malapetaka yang terjadi pada motor saya. Karena saya harus mondar mandir Bondowoso-Jember hampir setiap hari untuk ke kampus, suatu hari motor saya memilih untuk ngambek dan tidak mau kembali menyala. Usut punya usut, oli dalam motor saya hampir habis dan menybabkan mesin motor saya rusak seketika. Mobilitas terlalu tinggi dan tak diimbangi dengan perawatan mesin, kata montir di bengkel.

Singkat kisah, motor saya ‘turun mesin’. Beberapa bagian mesin diganti dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit juga. Hati dan dompet ini berdarah, Saudara-saudara. Saya akhirnya sadar, kalau kamu punya motor ya kamu harus paham aturan main paling dasar dari perawatan motor. Jangan mentang-mentang kamu perempuan, kamu jadi merasa pantas nggak paham soal perawatan motor.  Sejak saat itu, saya berjanji dalam hati untuk terus menjaga kesehatan motor saya demi menunjang lifestyle dengan mobilitas tiggi saya ini.

ENDURO: OLI MOTOR TERBAIK

Nasehat montir bengkel paling standar setelah motor saya turun mesin adalah: rajin-rajin ganti oli, Mbak. Dan petualangan saya dalam mencari oli motor terbaik dimulai dari sini. Selain mengandalkan jasa Google, saya juga mulai aktif bertanya pada beberapa kawan lelaki saya yang paham benar urusan perawatan motor. Berbagai jenis, merek dan penjelasan soal oli mulai muncul dari rekomendasi kawan-kawan saya. Sampai saya yang awam ini pusing sendiri. Hingga akhirnya seorang kawan berkata,

“Kamu buka website Dr. Lube, itu punya Pertamina. Nanti dikasih rekomendasi oli paling cocok buat motor kamu.”

Wah, boleh juga. Direkomendasikan langsung sama Pertamina harusnya lebih kredibel, sih. Dan sebagai anak teladan Indonesia, yhaaa baiknya kita pakai produk dalam negeri saja. Jadi saya langsung membuka website Dr. Lube dan mencari rekomendasi oli motor matic terbaik untuk kendaraan saya.

drlube.pertaminalubricants.com

Selain motor, kita juga bisa mencari rekomendasi pelumas, jenis bensin dan lain-lain untuk berbagai jenis mobil sampai truk juga di Dr. Lube.

drlube.pertaminalubricants.com

Kita juga bisa pakai fitur schedule untuk mengingatkan kita jadwal ganti oli, loh.

Saya bersyukur dengan adanya fitur ini. Cheesy sih, tapi sungguh. Benar-benar membantu untuk seorang awam yang buta dunia otomotif seperti saya. Pertamina benar-benar memberi servis yang cukup baik untuk masyarakat yang buta arah dan tak tau harus apa seperti saya ini.

Akhirnya, sesuai rekomendasi, pilihan saya jatuh pada Enduro Matic SAE 10W-30.

pertaminalubricants.com

Saat memilih oli ini pun saya sedikit melakukan research soal kode angka dan huruf yang tertera di judul merknya.Biar rada pinter dikit urusan oli. SAE sendiri, singkatan dari Society of Automotive Engineer adalah asosiasi internasional yang standar kekentalan olinya dipakai untuk standarisasi kekentalan oli mesin internasional. Sedangkan huruf W pada kode yang mengikuti berarti Winter dan angka untuk rentang suhu dimana oli bisa bekerja dengan optimal. Jadi 10W-30 artinya, oli tetap bisa memberikan performa yang baik untuk mesin di suhu 10° sampai -30°C. Dan biasanya, semakin tinggi angka yang tertera, semakin kental oli itu. Kalau untuk suhu Indonesia sih, 10W-30 sudah cukup.

JANGAN TERKECOH! HARGA BUKAN SEGALANYA

Tanpa menunda lebih lama, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Enduro Matic ini. Lebih lega lagi saat saya tau harga oli motor matic ini tak begitu mahal. Kenapa nggak beli yang mahal sekalian? Ah, kenapa harus beli yang mahal? Saya pikir, kita harus cukup tau spesifikasi oli yang cocok untuk motor kita. Selama spesifikasi cocok, kita tak perlu merogoh kocek yang lebih dalam untuk membeli kebutuhan motor kita. Semuanya kembali pada seberapa telaten kita merawat motor. Mau beli yang mahal juga kalau ganti oli setahun sekali ya bohong.

Selain itu, Enduro juga merupakan pelumas mesin yang digawangi langsung oleh Pertamina. Indonesia punya dan terpercaya. Daripada masih berputar-putar ke berbagai merk, harga dan lain-lain, saya sih lebih memilih untuk menggunakan pelumas dari merk dan perusahaan terpercaya saja. Lebih praktis untuk awam seperti saya.  

REVIEW PENGGUNAAN

Setelah tragedi turun mesin itu, saya jadi rajin mengganti oli motor sebulan sekali dengan oli Enduro. Biasanya memang cukup mengganti oli sesuai dengan kilometer yang sudah ditentukan, tapi berhubunga saya masih trauma, saya jadi menetapkan aturan ganti oli sebulan sekali. Apalagi dengan penggunaan motor saya yang cukup tinggi untuk keperluan mondar-mandir antar kota tiap hari, makin penting lah urusan ganti oli ini. Dan terbukti, dengan ketelatenan bulanan saya mengganti oli setiap bulan dengan Enduro, jarang ada kerusakan berarti lagi pada motor saya. Deru dan getaran motor matic juga terasa lebih halus. Lebih-lebih setelah mengganti oli shock depan, feeling saat membelokkan stang jadi terasa lebih halus dan ringan.

Berhubung saya tak pernah dikecewakan oleh Enduro, sampai saat ini saya tak memiliki keinginan untuk mengganti oli dengan merek lain. Sekali cocok, saya malas untuk mencari yang lain. Lebih-lebih, Ayah saya sendiri juga sudah bertahun-tahun menggunakan oli Enduro untuk mobilnya dan terbukti sampai saat ini, tak pernah ada kerusakan berarti pada mobil kami yang dikarenakan oleh performa oli.

BELI DI MANA?

Anda bisa mendapakan oli Enduro di SPBU Pertamina. Pertamina juga menyediakan official shop di berbagai marketplace, jadi bias dibeli online juga. Tapi saran saya sih, beli langsung di SPBU saja. Soalnya tiap tanggal 1 di awal bulan, kita bisa dapat diskon 10rb Rupiah, loh.

Jadi, dengan segala kebaikan Enduro sebagai oli andalan semua kendaraan di rumah saya (sekaligus penyelamat keberlangsungan skripsi saya), ya kenapa harus pilih yang lain?

Continue Reading

Faris yang Ingin Masuk TV dan Pantang Menyerah

Faris namanya. Salah seorang anak didik saya di kelas tahfidz. Dia adalah anak yang memulai karir menghafal Qur’an-nya dengan satu jalan ninja: tampil di acara Hafidz Indonesia RCTI. Pokoknya, sebelum lulus SD, dia ingin mencoba peruntungan masuk TV di Bulan Ramadhan. Dan saya, sebagai gurunya harus mendukung serta memfasilitasi keinginannya.

Hari-hari pertama mulai menghafal, Faris di mata saya bukan anak yang luar biasa berbakat. Dia memang pintar, tapi bukan tipe yang akan membuat saya tercengang dengan kemampuan menghafalnya. Beberapa kali setorannya saya beri nilai ‘Kurang Lancar’ di buku penghubung orangtuanya.

Tapi intensitas kelancaran setoran Faris mendadak meningkat hanya karena satu hal: saya memujinya secara khusus, sekali setelah setorannya lancar.

“Nah, kalau ngajinya lebih banyak, kan setorannya lebih lancar. Kalau ngajinya rajin, setorannya lancar, kamu makin ganteng, Faris. Kamu harus semangat terus. Kalau kamu rajin, sebelum lulus SD bisa nih ikut Hafidz Indonesia di TV.”

Dan Faris pun luluh.

Entah terbayang pujian saya atau iming-iming masuk TV, Faris jadi hobi menghafal. Sepulang sekolah, dia akan sibuk mempersiapkan hafalannya untuk disetorkan pada saya di sore hari nanti. Hafalannya juga mulai melebihi batas minimal harian yang saya pasang padanya dan semakin hari, hafalan Faris makin banyak dan lancar.

Karena perkembangan pesatnya ini, saya jadi terus mengingatkan diri dalam hati untuk memuji Faris secara berkala. Bisa jadi pujian saya adalah pemicu utama rajinnya Faris (walau sepertinya nafsu masuk TV-nya yang lebih mendominasi). Saya ingin kebiasaan dan pencapaian baik ini terus konsisten dan Faris tetap selalu merasa istimewa tiap berhasil menyelesaikan setoran dengan lancar.


Selain konsistensi dan keistiqomahan Faris dalam mengaji, satu hal yang benar-benar saya apresiasi dari Faris adalah kemauan kerasnya untuk berusaha dan pantang menyerah.

Terdengar klise? Oh tidak.

Entah disadari atau tidak, ketika menyetorkan hafalan, banyak anak yang yang tidak mau repot-repot berpikir lama untuk mengingat hafalan yang dia lupakan. Misal dia lupa dengan satu ayat saat setoran, dia akan diam sejenak untuk mengingat. Jika dalam 5 sampai 10 detik anak ini belum ingat dengan hafalannya, dia akan menyerah dan menatap saya menunggu bantuan. Dan bukan anak-anak saja, saya juga punya tendensi seperti itu dulu saat menghafalkan Qur’an.

Tapi Faris tidak seperti itu. Saat dia lupa dengan satu ayat ketika setoran, dia akan berpikir lama untuk mengingat-ingat ayat tersebut. Yang saya maksud lama adalah, sungguhan lama. Tidak sekedar setengah menit, dia bisa saja diam selama 5 menit untuk mengingat-ingat hafalannya (dan tidak mengijinkan saya untuk memberitahunya). Dan lebih ajaibnya lagi, dia bisa ‘memanggil ingatan’nya kembali tanpa bantuan sedikit pun!

Saya sendiri tidak bisa membayangkan diri saya duduk setoran hafalan di hadapan muhafidz/ah dalam waktu yang lama dalam diam untuk mengingat ayat yang saya lupakan. Tekanan karena berhadapan dengan guru dan perasaan ‘ditunggu’ akan membuat konsentrasi saya buyar dan akan sulit bagi saya untuk mengingat ayat yang hilang itu.

Tapi Faris mencontohkan pada saya bagaimana definisi dari istilah ‘pantang menyerah’ yang sesungguhnya. Misi kamu hanya satu. Pakai konsentrasi penuhmu untuk mencapai tujuan itu. Jangan merasa terganggu dan tertekan akan hal-hal yang, belum tentu buruk dan terjadi. Niscaya, misimu akan tercapai.

Continue Reading

Cinta pada Good Day yang Tidak Bertepuk Tangan

Saya pecinta kopi. Yang tidak sejati, jelas. Saya tak mengenal banyak varian biji kopi, cara penyeduhan lebih-lebih penyajiannya. Pencapaian terbesar saya yang berbau kopi hanyalah penelitian masyarakat petani kopi Arabica di suatu daerah di Situbondo, dulu saat kuliah. Dan saat disuguhi kopi luwak asli dari tempat itu pun, saya tak bisa meminumnya sampai habis.

Hanya satu alasan kenapa saya berani menyebut diri sendiri sebagai pecinta kopi, sederhana karena saya wajib minum kopi tiap hari. Kopi adalah penguat. Doping saya dalam menyambut hari. Tanpa kopi, seluruh organ tubuh saya sulit untuk berfungsi normal di waktu-waktu produktif. Tanpa kopi, saya butuh waktu tidur lebih banyak dan waktu resmi saya memulai hari akan mundur sampai pukul 10 pagi.

Hanya ada satu merek kopi yang bisa saya minum dengan baik, setiap harinya. Kopi itu adalah Good Day. Kopi yang digunting, bukan di roasting. Yang varian rasanya banyak dan datang dalam berbagai bentuk kemasan. Kopi yang anak muda sekali dan mungkin, kurang kopi untuk ukuran pecinta kopi sejati.

Tapi hanya Good Day, yang bisa saya nikmati dengan baik. Saya suka dengan berbagai pilihannya, kepraktisannya dan rasa yang datang dari pemanis buatannya. Saya sungguh cinta. Rasanya yang mild sangat cocok dengan lidah saya yang tidak bisa menghayati cita rasa kopi ‘sungguhan’. Baunya yang sarat akan perisa artifisial juga sangat pas dengan selera hidung minimalis saya.

Rasa cinta saya yang besar pada Good Day bahkan menciptakan trademark sendiri di lingkaran pertemanan saya. Mereka sudah mafhum, paham betul dengan kebiasaan minum Good Day saya dan sudah jera mengingatkan saya untuk berhenti minum kopi kemasan tiap hari.

Tapi ada satu hal yang kawan-kawan saya (dan saya pribadi) sesali dari rasa cinta ini. Harusnya dengan konsistensi dan intensitas saya minum Good Day, saya sudah lebih dari cukup untuk didapuk menjadi wajah Good Day. Brand ambassador yang tidak sekedar minum Good Day untuk keperluan iklan dan promosi. Karena saya yakin, jumlah Good Day yang saya minum, pasti lebih banyak dari asupan Good Day Maudy Ayunda dan Afgan dikombinasi.

Continue Reading

Menemani Orang Sepuh

Kesibukan saya beberapa bulan ini memang agak lain dengan kesibukan orang biasanya. Kalau orang lain sibuk sejak pagi hingga sore, masa sibuk saya dimulai dari siang sampai malam. Praktis, setiap pagi saya kelihatan leyeh-leyeh saja. Nganggur dan bengong. Tapi, kebengongan saya di pagi hari itu, bisa jadi tak kalah penting dari pekerjaan saya dari siang sampai malam, karena saya bengong sambil menemani Mbah Uti saya yang sudah sepuh.

Continue Reading

How Do You…

… keep your pride even you got the job you dont really want since it’s socially considered as low-paid job and not ‘fancy’ enough?

I went through this experience, exactly nowadays since I am in the middle of the training this job required. On the firs fay of 3 days worth training, the mentor said this kind of sentence:

“Dont consider this profession as a shame, you need to hold your pride strongly cz you got through the training and examinition this job needed beforehand.  There is someone who got his bachelor title and said that this job must be ‘proud’ since, he, the bachelor degree holder decided to take this job. But, nope. This job itself that chosen its worker. This job is something that doesnt need high education title but, fun fact, this job need the best character possible from a worker. Diligence, honesty, dedication and responsibility. And be proud! You’re chosen, you’re honored to be a part of this.”

And I’m honoured. It’s a relief that I got to see the different perspective. There aren’t any halal job that ‘more honorable’ or ‘less one’. Every job runs for its purpose and you’re part of this world balance. You need to take your pride and source of happiness into a whole new level. Be proud and don’t feel any shame since every of you already got your own important job and there’s no one who can belittle you over this petty things. 

Continue Reading

Memperingati Maulid Nabi SAW: Apakah Kita Sungguh Mencintai Rasulullah?

Dari jaman dahulu kala, saya nggak bisa sembarang bicara cinta pada Nabi Muhammad. Simply karena saya memang nggak yakin punya perasaan cinta itu. Hormat sama kagum iya, tapi kalau sesumbar soal perasaan cinta, saya nggak pernah berani.

Kalau para orang sholeh, ulama dan wali-wali gitu, rasa cintanya pada Nabi Muhammad kan bisa sampai membuat mereka sholawat minimal 1000 kali setiap harinya, menangis di setiap mengingatnya dan rindu bertemu dengannya. Dan akhirnya, rasa cinta itu terbalas dengan dipertemukannya mereka dengan Rasulullah di mimpi.

Saya… nggak begitu.

Boro-boro sholawat 1000 kali, biasanya juga baca sholawat pas sholat doang. Di luar itu, jarang. Kadang-kadang malah, saya baru intens bersholawat kalau ada maunya. Sholawat yang statusnya terlalu transaksial dan memalukan buat dibicarakan.

Ada banyak public figure yang menawarkan solusi segala urusan dengan sholawat. Ingin rizki lancar? Jodoh cepat datang? Hidup enak dengan harta unlimited? Sholawat-in aja! Kalau membaca testimoni keampuhan dari para praktisi sholawat itu, saya jadi tergoda untuk mencobanya juga, demi hajat-hajat saya agar segera makbul.

Tapi pada akhirnya, saya nggak berani juga mengentengkan amal sholawat dan menjadikannya ‘bargaining chip‘ kemaqbulan doa-doa duniawi saya. Kalau saya lagi ‘ingat’ dan ingin bersholawat, saya selalu berusaha meniatkannya untuk menumbuhkan rasa cinta pada Rasulullah. Biar deh, saya nggak minta macam-macam saat sholawat. Minimal sholawat saya diterima Rasulullah dan jadi penumbuh rasa cinta yang sungguh padanya.

Karena rasa-rasanya, status kemusliman saya belum benar sempurna kalau saya belum tulus mencintai Rasulullah.

Continue Reading
1 2 3 5